Antiklimaks Real Madrid: Skuad Xabi Alonso Hancur 0-4 Melawan PSG di Semifinal

Real Madrid kalah telak 0-4 dari PSG di semifinal Piala Dunia Antarklub 2025. Taktik Xabi Alonso dipertanyakan setelah kekalahan mengejutkan ini di MetLife Stadium.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 10 Juli 2025, 12:45 WIB
Pemain Real Madrid merayakan gol dalam laga babak 16 besar Piala Dunia Antarklub antara Real Madrid dan Juventus di Miami Gardens, 1 Juli 2025. (AP Photo/Rebecca Blackwell)

Liputan6.com, Jakarta Skuad Real Madrid mengalami kekalahan mengejutkan 0-4 dari PSG dalam semifinal Piala Dunia Antarklub 2025. Hasil ini menjadi antiklimaks serius bagi tim yang dianggap favorit juara.

Banyak pihak memperkirakan El Real akan melenggang ke partai final dengan mudah. Kenyataannya, performa tim jauh dari ekspektasi ketika berhadapan dengan PSG yang tampil gemilang.

Laga di MetLife Stadium berubah menjadi bencana bagi Real Madrid. Dua gol cepat dalam lima menit pembuka membuka pintu air kekalahan yang tidak terbendung.

Strategi Xabi Alonso menjadi sorotan utama, khususnya penggunaan formasi tiga penyerang. Keputusan taktis ini dianggap mengganggu keseimbangan tim secara keseluruhan.

Hasil ini lebih dari sekadar angka yang tertera di papan skor. Kekalahan telak ini melambangkan kemunduran yang memaksa klub untuk melakukan evaluasi menyeluruh.


Taktik Xabi Alonso Dipertanyakan

Fabian Ruiz jadi bintang utama dengan torehan dua gol, sementara Ousmane Dembele dan Goncalo Ramos masing-masing menyumbang satu gol untuk melengkapi pesta gol Les Parisiens. (AP Photo/Adam Hunger)

Alonso mengimplementasikan formasi empat bek dengan memainkan tiga penyerang: Vinicius, Mbappe, dan Gonzalo. Perubahan ini dilakukan setelah ketidakhadiran Trent Alexander-Arnold dan Dean Huijsen.

Pilihan taktis tersebut dinilai melemahkan sektor pertahanan Madrid. Para penyerang enggan turun membantu ketika tim kehilangan penguasaan bola.

Pola permainan ini mengingatkan pada era Ancelotti sebelumnya. Penekanan pada aksi individual lebih diutamakan ketimbang kekompakan tim yang solid.

Alonso memang tidak bisa dipersalahkan sepenuhnya atas kekalahan ini. Kemungkinan besar para pemain di lapangan yang gagal menjalankan instruksi pelatih dengan baik.

Bagaimanapun juga, tim bentukan baru ini baru berusia beberapa pekan. Waktu adaptasi masih sangat dibutuhkan untuk mencapai performa optimal.


Kesalahan Individual dan Keruntuhan Mental

Pemain PSG Khvicha Kvaratskhelia dan gelandang Real Madrid, Jude Bellingham, berebut bola dalam laga semifinal Piala Dunia Antarklub di East Rutherford, New Jersey, Kamis (10/7/2025). (AP Photo/Adam Hunger)

Dua gol PSG terlahir dari blunder fatal Asencio dan Rudiger dalam lima menit awal. Courtois menjadi satu-satunya pemain yang menunjukkan performa memuaskan dengan menyelamatkan tim dari kebobolan lebih banyak.

Dari perspektif tim secara keseluruhan, mental pemain terlihat hancur. PSG menguasai 76-78% penguasaan bola di babak pertama yang membuat Madrid tampak kelimpungan.

Madrid tidak mampu mengimbangi permainan PSG dan terlihat panik setiap mendapat tekanan. Kondisi ini semakin memperburuk performa tim secara keseluruhan.

Kesalahan bek seperti yang dilakukan Asencio dan Rudiger merupakan warisan dari era akhir Ancelotti. Masalah ini menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan Alonso.


Dampak dan Pelajaran untuk Masa Depan

Jude Bellingham #5 dari Real Madrid C. F. berjabat tangan dengan Xabi Alonso, Pelatih Kepala Real Madrid C. F., setelah digantikan selama pertandingan Grup H Piala Dunia Antarklub 2025 antara Real Madrid CF dan CF Pachuca di Stadion Bank of America pada tanggal 22 Juni 2025 di Charlotte, Carolina Utara. (Richard Pelham/Getty Images via AFP)

Kekalahan ini memberikan pelajaran berharga bagi manajemen dan skuad Real Madrid di era baru. Alonso sendiri mengakui bahwa ini momen yang tepat untuk mempelajari kesalahan dan melakukan perbaikan.

Piala Dunia Antarklub memang bukan target utama Madrid musim ini. Pergantian pelatih yang baru terjadi beberapa pekan lalu juga menjadi faktor yang tidak menguntungkan.

Situasi ini memang tidak ideal bagi El Real untuk meraih trofi. Namun, pengalaman ini bisa menjadi fondasi untuk membangun tim yang lebih kuat di masa depan.

 
 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya