Liputan6.com, Jakarta Skuad Real Madrid mengalami kekalahan mengejutkan 0-4 dari PSG dalam semifinal Piala Dunia Antarklub 2025. Hasil ini menjadi antiklimaks serius bagi tim yang dianggap favorit juara.
Banyak pihak memperkirakan El Real akan melenggang ke partai final dengan mudah. Kenyataannya, performa tim jauh dari ekspektasi ketika berhadapan dengan PSG yang tampil gemilang.
Advertisement
Laga di MetLife Stadium berubah menjadi bencana bagi Real Madrid. Dua gol cepat dalam lima menit pembuka membuka pintu air kekalahan yang tidak terbendung.
Strategi Xabi Alonso menjadi sorotan utama, khususnya penggunaan formasi tiga penyerang. Keputusan taktis ini dianggap mengganggu keseimbangan tim secara keseluruhan.
Hasil ini lebih dari sekadar angka yang tertera di papan skor. Kekalahan telak ini melambangkan kemunduran yang memaksa klub untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
Taktik Xabi Alonso Dipertanyakan
Alonso mengimplementasikan formasi empat bek dengan memainkan tiga penyerang: Vinicius, Mbappe, dan Gonzalo. Perubahan ini dilakukan setelah ketidakhadiran Trent Alexander-Arnold dan Dean Huijsen.
Pilihan taktis tersebut dinilai melemahkan sektor pertahanan Madrid. Para penyerang enggan turun membantu ketika tim kehilangan penguasaan bola.
Pola permainan ini mengingatkan pada era Ancelotti sebelumnya. Penekanan pada aksi individual lebih diutamakan ketimbang kekompakan tim yang solid.
Alonso memang tidak bisa dipersalahkan sepenuhnya atas kekalahan ini. Kemungkinan besar para pemain di lapangan yang gagal menjalankan instruksi pelatih dengan baik.
Bagaimanapun juga, tim bentukan baru ini baru berusia beberapa pekan. Waktu adaptasi masih sangat dibutuhkan untuk mencapai performa optimal.
Kesalahan Individual dan Keruntuhan Mental
Dua gol PSG terlahir dari blunder fatal Asencio dan Rudiger dalam lima menit awal. Courtois menjadi satu-satunya pemain yang menunjukkan performa memuaskan dengan menyelamatkan tim dari kebobolan lebih banyak.
Dari perspektif tim secara keseluruhan, mental pemain terlihat hancur. PSG menguasai 76-78% penguasaan bola di babak pertama yang membuat Madrid tampak kelimpungan.
Madrid tidak mampu mengimbangi permainan PSG dan terlihat panik setiap mendapat tekanan. Kondisi ini semakin memperburuk performa tim secara keseluruhan.
Kesalahan bek seperti yang dilakukan Asencio dan Rudiger merupakan warisan dari era akhir Ancelotti. Masalah ini menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan Alonso.
Dampak dan Pelajaran untuk Masa Depan
Kekalahan ini memberikan pelajaran berharga bagi manajemen dan skuad Real Madrid di era baru. Alonso sendiri mengakui bahwa ini momen yang tepat untuk mempelajari kesalahan dan melakukan perbaikan.
Piala Dunia Antarklub memang bukan target utama Madrid musim ini. Pergantian pelatih yang baru terjadi beberapa pekan lalu juga menjadi faktor yang tidak menguntungkan.
Situasi ini memang tidak ideal bagi El Real untuk meraih trofi. Namun, pengalaman ini bisa menjadi fondasi untuk membangun tim yang lebih kuat di masa depan.