Bandung Disebut Kota Termacet di Indonesia, Wali Kota Farhan Ingin Undang Pembuat Survei

Rata-rata waktu tempuh perjalanan sejauh 10 kilometer di Kota Bandung mencapai 33 menit.

oleh Dikdik RipaldiDiterbitkan 10 Juli 2025, 01:00 WIB
Sejumlah kendaraan roda empat keluar masuk Pintu Tol Buah Batu, Kota Bandung, pada masa mudik lebaran Idul Fitri, Jumat, 12 April 2024. (Dikdik Ripaldi/Liputan6.com)

Liputan6.com, Bandung - Belum lama ini, Kota Bandung disebut sebagai kota paling macet di Indonesia berdasarkan hasil survei dari TomTom Traffic Index. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan respons atas hasil survei tersebut. 

Farhan mengaku baru pertama kali mendengar nama lembaga survei tersebut, namun menyambut positif keberadaan dan data yang disampaikan. 

"Yang pertama tentu saja saya menghargai bahwa ada sebuah lembaga survei yang bernama TomTom. Survei itu saya baru dengar, tapi kalau memang ini lembaga internasional, saya sangat ingin mengundang mereka ke Bandung untuk memaparkan hasil surveinya," ujar Farhan dalam keterangannya di Bandung, Selasa (8/7/2025).

Menurut data TomTom Traffic Index, rata-rata waktu tempuh perjalanan sejauh 10 kilometer di Kota Bandung mencapai 33 menit. Farhan mengakui kemacetan menjadi masalah serius yang harus ditangani dengan pendekatan berbasis data.

Ia menyebut hingga saat ini Pemkot Bandung masih mencoba melacak siapa pengelola lembaga survei tersebut. 

"Sampai sekarang saya belum ketemu siapa pengelola TomTom ini. Tapi kalau ada, saya ingin undang mereka untuk presentasi data yang mereka miliki. Kalau itu bisa jadi biodata mobilitas, akan sangat berguna untuk pendataan dan pengambilan kebijakan," tegasnya.

Ia juga memaparkan bahwa dari data yang dimiliki Pemkot, kemacetan paling parah terjadi di Jalan Soekarno Hatta, yang menjadi pintu masuk dari arah barat, selatan, dan timur Bandung. 

"Macetnya dari pukul 6 pagi sampai pukul 10, lalu mulai lagi dari pukul 4 sore sampai pukul 8 malam. Ini sudah jadi rutinitas," katanya.

 

Titik Macet

Namun, Farhan juga mencatat adanya pola kemacetan yang berbeda di tiga titik lainnya: Jalan Ir. H. Juanda, Sukajadi, dan Setiabudi. Ketiga jalur ke arah utara Bandung ini, menurutnya, hanya mengalami kepadatan dari pukul 16.00-20.00, tanpa kemacetan berarti di pagi hari.  

"Ini menarik. Ada perilaku mobilitas warga Bandung yang khas. Tapi datanya belum lengkap, jadi kita masih banyak asumsi," jelasnya.

Ia menyebut pentingnya kolaborasi dengan berbagai untuk memahami perilaku transportasi masyarakat secara lebih mendalam. 

"Kalau bisa ketemu dengan TomTom ini, saya undang secara terbuka. Kita kerja sama antara Pemerintah Kota dengan lembaga tersebut untuk mengurangi kemacetan. Siapa tahu ini bisa jadi bagian dari sistem digital, bahkan big data dan Blockchain," kata Farhan.

Menurutnya, Kota Bandung harus terbuka terhadap kerja sama teknologi berbasis data demi meningkatkan kualitas hidup warganya. 

"Sudah saatnya Kota Bandung terbuka terhadap berbagai macam bentuk kerja sama, khususnya dalam platform teknologi digital salah satunya untuk mengatasi kemacetan," ungkapnya.

Urutan Dunia

Sebelumnya, Kota kembang baru saja dinobatkan sebagai kota termacet ke-12 di dunia berdasarkan TomTom Traffic Index 2024 yang dirilis pada 7 Januari 2025. 

Posisi Bandung dalam indeks itu berada di bawah Kumamoto, Jepang, dengan catatan kendaraan rata-rata memerlukan 32 menit 37 detik untuk menjangkau jarak per 10 kilometer. Bahkan pada Jumat (24/1/2025) sore, waktu tempuh rata-rata kendaraan per 10 km lebih lambat 10 menit dari rata-rata pada 2024, yakni mencapai 42 menit 50 detik.

Persentase tingkat kemacetan di Bandung pada 2024 mencapai 48 persen dengan rata-rata waktu yang hilang karena kemacetan mencapai 108 jam setiap jam sibuk. Kondisinya lebih buruk dari Jakarta yang pada indeks 2024 berada di posisi 90 dengan waktu yang dibutuhkan untuk menjangkau jarak per 10 kilometer adalah 25 menit 31 detik.

Di Asia Tenggara, posisi Bandung berada di urutan kedua kota termacet di bawah Davao, Filipina. Kota itu kehilangan 136 jam akibat kemacetan yang terjadi di jam sibuk dengan waktu tempuh per 10 kilometer mencapai 32 menit 59 detik.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Bandung terpilih Muhammad Farhan mengatakan pihaknya akan memulai dengan analisis data-data pendukung terkait kemacetan, termasuk mobilitas kendaraan, kantung parkir, dan pergerakan warga. Hal itu demi mengatasi masalah kemacetan di Bandung yang nyaris berlangsung setiap hari, terlebih di akhir pekan dan libur panjang.

"Dalam waktu sebulan ini, analisis dulu semua data yang ada, baru setelah itu kita buat kebijakan," ujar Farhan ditemui di Gedung Sate, Bandung, Rabu, 22 Januari 2025. Pihaknya juga terbuka untuk berdiskusi dengan pejabat wali kota Bandung saat ini yang berlatar belakang Kepala Dishub sebelumnya.

Angkot Bandung Bakal Seperti JakLingko?  

Farhan juga mempertimbangkan keberadaan angkot di Bandung yang posisinya kian tergusur kendaraan pribadi atau angkutan online. Padahal, angkot pernah jadi andalan warga Bandung untuk beraktivitas ke sana kemari. 

Pihaknya mempertimbangkan untuk mengubah sistem model bisnis angkot di Bandung dengan menerapkan cara pembayaran menggunakan uang elektronik. Dengan begitu, transaksi beralih sepenuhnya ke digital.

"Uang elektronik ini nanti, bisnis modelnya akan masuk escrow account (rekening bersama). Escrow account ini yang akan beri bayaran kepada sopir angkot, bukan berdasarkan jumlah penumpang, tapi kali rit dia dalam satu hari," ujarnya menjawab pertanyaan Lifestyle Liputan6.com. 

Apa akan menyontek JakLinko yang sudah diterapkan pemerintah Jakarta? "Mungkin," jawab Farhan lagi. Yang pasti, pemerintah harus berperan karena pasti akan ada subsidi diterapkan untuk model bisnis demikian.

Lalu, bagaimana dengan masyarakat yang gagap teknologi? Mantan presenter kondang itu menyatakan bahwa mereka pasti akan dibantu selama proses transisi. 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya