Mengapa Diogo Jota Harus Bepergian dengan Mobil dari Portugal ke Inggris?

Meninggalnya Diogo Jota dalam sebuah kecelakaan mobil tragis di usia 28 tahun menjadi duka mendalam

oleh Asad ArifinDiperbarui 04 Juli 2025, 09:11 WIB
Berbagai media Spanyol menyebutkan bahwa penyerang Liverpool Diogo Jota meninggal dunia pada Kamis (3/7/2025) siang WIB. Tampak dalam foto, para penggemar memegang tulisan saat mereka memberikan penghormatan kepada penyerang Liverpool asal Portugal, Diogo Jota, menjelang pertandingan sepak bola UEFA Women's Euro 2025 Grup B antara Spanyol dan Portugal di stadion Wankdorf di Bern, Jerman pada 3 Juli 2025. (Miguel MEDINA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Meninggalnya Diogo Jota dalam sebuah kecelakaan mobil tragis di usia 28 tahun menjadi duka mendalam, bukan hanya bagi Liverpool dan tim nasional Portugal, tetapi juga bagi seluruh pencinta sepak bola di dunia.

Bersama sang adik, Andre Silva, Jota menghembuskan napas terakhirnya setelah Lamborghini yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan fatal di Provinsi Zamora, Spanyol, pada Kamis (3/7) dini hari waktu setempat.

Berita kepergian Jota memicu gelombang duka yang luar biasa. Di Anfield, ribuan pendukung Liverpool berkumpul di tugu peringatan Hillsborough. Mereka meletakkan bunga, syal, balon, hingga kaus bertuliskan nama Jota sebagai tanda cinta dan penghormatan.

Namun pertanyaan yang kemudian muncul adalah: mengapa Jota memilih menempuh perjalanan darat dan laut, alih-alih penerbangan biasa, dalam perjalanannya kembali ke Inggris?


Larangan Terbang Pasca Operasi Ringan

Pemain Liverpool, Diogo Jota merayakan gol ke gawang Everton dalam laga lanjutan Liga Inggris 2024/2025 di Anfield, Liverpool, Inggris, Rabu (02/04/2025) waktu setempat. (AFP/Paul Ellis)

Berdasarkan informasi yang diperoleh BBC Sport, Jota baru saja menjalani operasi kecil tak lama sebelum pernikahannya dengan sang pasangan lama, Rute Cardoso.

Dokter menyarankan agar ia tidak bepergian dengan pesawat terbang dalam waktu dekat guna menghindari komplikasi pasca-operasi. Seperti diketahui, tekanan udara saat terbang bisa berdampak buruk bagi kondisi seseorang yang baru menjalani prosedur medis.

Dengan larangan medis tersebut, Jota memutuskan menempuh rute darat dari Porto menuju pelabuhan feri di Santander, Spanyol Utara, sekitar 300 km dari lokasi kecelakaan, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Inggris melalui jalur laut. Rute ini sebelumnya juga ia tempuh saat menuju Portugal untuk menikah.


Tragedi Kecelakaan di Jalanan Zamora

Bersama Liverpool, Diogo Jota total sudah mencetak 65 gol dari 182 penampilan dan merasakan berbagai gelar, seperti trofi Liga Inggris 2024-2025, Piala FA 2021-2022, dan Piala Liga Inggris 2021-2022, 2023-2024. Tampak dalam foto, para penggemar memegang tulisan saat mereka memberikan penghormatan kepada penyerang Liverpool asal Portugal, Diogo Jota, menjelang pertandingan sepak bola UEFA Women's Euro 2025 Grup B antara Spanyol dan Portugal di stadion Wankdorf di Bern, Jerman pada 3 Juli 2025. (Miguel MEDINA/AFP)

Saat dalam perjalanan menuju pelabuhan, mobil Lamborghini yang ditumpangi Jota dan adiknya mengalami pecah ban saat sedang menyalip kendaraan lain. Mobil itu keluar jalur dan mengalami kecelakaan hebat di Zamora, sebuah provinsi di dekat perbatasan Portugal dan Spanyol.

Keduanya meninggal di tempat kejadian sekitar pukul 00:30 waktu setempat. Andre Silva yang berusia 25 tahun adalah pemain klub divisi dua Portugal, Penafiel, dan dikenal dekat dengan sang kakak baik secara pribadi maupun profesional.


Perjalanan yang Didikte oleh Takdir

Penggemar Portugal memberikan penghormatan kepada penyerang Liverpool asal Portugal, Diogo Jota yang meninggal dunia akibat kecelakaan mobil di Spanyol, selama pertandingan sepak bola Women's Euro 2025 Grup B di stadion Wankdorf, Bern, Jerman pada 3 Juli 2025. (SEBASTIEN BOZON/AFP)

Bagi sebagian orang, keputusan Jota untuk tidak terbang bisa saja dianggap sepele. Namun, ini adalah keputusan medis yang masuk akal dan bertanggung jawab.

Dalam dunia sepak bola profesional, kondisi fisik dan kesehatan pemain adalah prioritas utama. Sayangnya, keputusan yang diambil untuk menjaga kesehatannya justru berakhir menjadi awal dari tragedi.

Dalam dunia olahraga yang penuh perhitungan, hal seperti ini mengingatkan kita betapa hidup tetap menyisakan ruang untuk hal-hal tak terduga.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya