Fenomena Cuaca Kabut Selimuti Jabodetabek, Sampai Kapan?

Cuaca kabut terjadi di Jabodetabek pada akhir Juni 2025. BMKG menjelaskan fenomena ini dipicu oleh aktivitas atmosfer aktif dan kelembapan tinggi.

oleh Hanz Jimenez SalimDiperbarui 06 Juli 2025, 21:01 WIB
Awan mendung menggelayut di langit Jakarta, Kamis (1/2). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi curah hujan dari sedang hingga tinggi akan terjadi hingga 1 minggu ke depan. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena cuaca kabut menyelimuti wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) pada akhir Juni 2025. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai penyebab dan dampaknya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan terkait fenomena ini.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto menjelaskan, fenomena cuaca di Bekasi, Depok, dan sekitarnya yang berkabut dan sejuk seperti di kawasan Puncak Bogor karena adanya kelembaban tinggi pasca hujan.

"Kawasan Puncak Bogor dikenal memiliki iklim yang lebih sejuk karena letaknya yang berada di dataran tinggi. Namun, cuaca di Bekasi dan Depok yang berada di dataran rendah kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lain seperti hujan dan kelembaban tinggi," ungkap Guswanto dikutip dari Kanal News Liputan6.com, Senin (30/6/2025).

Menurut BMKG, cuaca berkabut yang terjadi disebabkan oleh beberapa faktor meteorologis yang saling berkaitan. Aktivitas atmosfer yang aktif di wilayah Jawa bagian barat menjadi salah satu pemicu utama. Selain itu, kelembapan udara yang tinggi juga berperan penting dalam pembentukan kabut.

"Hujan dapat menyebabkan suhu menjadi lebih sejuk dan kelembaban meningkat. Kemudian, kelembaban yang tinggi dapat membuat udara terasa lebih dingin dan berkabut. Selain itu, meskipun anginnya relatif tenang, pergerakan angin dapat membawa udara yang lebih sejuk dan lembab ke wilayah tersebut," tutur Guswanto.

Lantas, apa saja faktor-faktor spesifik yang menyebabkan cuaca kabut di Jabodetabek? Berikut adalah penjelasan lengkap dari BMKG berdasarkan data dan analisis terkini.

Aktivitas Atmosfer Aktif Memicu Cuaca Kabut

Dinamika atmosfer yang aktif di Jawa bagian barat menciptakan kondisi cuaca lembap, berawan, dan sejuk. Kondisi ini terutama terasa pada malam dan pagi hari. Aktivitas awan yang tinggi serta kelembapan yang meningkat menyebabkan suhu udara tetap rendah dan udara terasa lebih dingin dari biasanya.

Indikator atmosfer seperti Outgoing Longwave Radiation (OLR), Madden-Julian Oscillation (MJO), dan gelombang Rossby menunjukkan peningkatan aktivitas konvektif. Peningkatan ini mendukung pembentukan awan hujan di wilayah Jawa bagian barat dan tengah. Kondisi ini berkontribusi pada peningkatan kelembapan dan penurunan suhu yang memicu terbentuknya kabut.

Intrusi udara kering dari perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara juga turut memperkuat pertumbuhan awan di wilayah Jabodetabek. Kombinasi antara aktivitas atmosfer lokal dan pengaruh dari wilayah lain menciptakan kondisi ideal untuk pembentukan kabut.

Hujan dan Kelembapan Tinggi Perparah Cuaca Kabut

Curah hujan yang persisten dan tutupan awan yang tebal menghalangi sinar matahari mencapai permukaan bumi. Akibatnya, pemanasan permukaan menjadi tidak optimal dan udara tidak cepat menghangat. Aliran udara dari lapisan atas atmosfer ke bawah (downdraft) membawa udara dingin ke permukaan, memperparah kondisi dingin dan lembap.

Kelembapan udara yang sangat tinggi, bahkan mencapai lebih dari 90 persen di beberapa lokasi, dan angin yang berhembus pelan menyebabkan suhu rendah bertahan lebih lama. Kondisi ini memicu terbentuknya kabut tipis, terutama pada malam hari dan dini hari. Kelembapan tinggi ini memperlambat penguapan dan mempertahankan kondisi jenuh uap air di udara.

Perlu dicatat bahwa kabut yang terjadi di Jabodetabek bukan merupakan indikator penurunan kualitas udara. Meskipun di perkotaan kabut dapat bercampur dengan polutan, hal ini tidak secara otomatis berarti udara menjadi tidak sehat. Masyarakat diimbau untuk tidak panik dan tetap memantau informasi resmi dari BMKG.

Prakiraan Cuaca Kabut Selanjutnya

Pada tanggal 30 Juni 2025, BMKG memprediksi potensi kemunculan kabut tipis kembali di wilayah Depok dan Bekasi. Kondisi lembap dan sejuk diperkirakan akan berlanjut untuk beberapa hari ke depan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mempersiapkan diri menghadapi kondisi cuaca yang mungkin terjadi.

BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi terkini mengenai prakiraan cuaca. Informasi ini dapat diakses melalui berbagai kanal resmi BMKG, seperti situs web, aplikasi mobile, dan media sosial. Dengan memantau informasi cuaca, masyarakat dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya