Malam 1 Suro, Momen Pembersihan Diri dan Tolak Bala ala Ki Susena Aji di Gunungkidul

Malam 1 Suro 1959 Tahun Dal, Ki Susena Aji memimpin ritual tradisi ruwatan yang bertujuan membersihkan diri dari kesialan dan segala hal negatif. Ruwatan di Gunungkidul memiliki ciri khas, yakni memanfaatkan alam terbuka dan hasil bumi lokal, mencerminkan nilai-nilai luhur budaya Jawa.

oleh HendroDiterbitkan 27 Juni 2025, 19:10 WIB
Ki Suseno Aji memimpin prosesi ruwatan massal di pendopo kediamannya. Puluhan peserta yang disebut “sukerta” dibalut kain putih dan disiram air kembang sebagai simbol pembersihan, keseimbangan batin, membuang bala, dan menyambut lembaran baru dengan harapan serta doa keselamatan.

Liputan6.com, Gunungkidul Malam satu Suro, penanda awal tahun baru dalam kalender Jawa, selalu menjadi momen sakral yang dinanti oleh masyarakat Jawa. Bulan Sura atau Suro ini dipercaya sebagai bulan pembersihan, di mana banyak orang melakukan berbagai ritual untuk menyucikan diri, baik secara lahir maupun batin. Tak heran, tradisinya begitu melekat dalam budaya dan kepercayaan masyarakat.

Salah satu tokoh yang konsisten melestarikan tradisi ini adalah Ki Susena Aji, seorang Dalang Ruwat yang berdomisili di Kalurahan Kalitekuk, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Bagi Ki Susena Aji, malam satu Suro adalah puncak dari serangkaian upacara ritual pembersihan yang disebut "ruwatan".

Ki Susena Aji menjelaskan bahwa ruwatan bukan sekadar ritual mistis, melainkan sarat akan nilai-nilai luhur dan filosofi mendalam. "Ruwatan itu adalah wujud dari eling lan waspodo, sadar dan mawas diri. Ini tentang membersihkan batin dari segala kotoran, seperti dengki, iri, dan amarah," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa, ada nilai gotong royong di mana keluarga dan masyarakat terlibat dalam prosesi ini. Selain itu, ruwatan juga menanamkan rasa syukur dan penyerahan diri kepada Tuhan setelah segala ikhtiar dilakukan. "Pada intinya, ruwatan mengajarkan kita untuk kembali ke jalan yang benar, membersihkan diri dari hal-hal negatif, dan menyelaraskan diri dengan alam," kata Ki Susena Aji.

Menurut Ki Susena Aji, ruwatan berawal dari mitologi Jawa kuno, terutama yang terkait dengan Batara Kala, putra dari Batara Guru. Dikisahkan, Batara Kala adalah raksasa yang suka memangsa manusia, terutama mereka yang lahir dalam kondisi tertentu yang disebut Sukerta. “Untuk melindungi manusia dari Batara Kala, Batara Wisnu turun ke bumi dan memberikan ajaran ruwatan sebagai sarana tolak bala,” jelasnya.

Awalnya, Batara Wisnu menjelma menjadi dalang dan mementaskan wayang kulit dengan lakon 'Murwakala' untuk menaklukkan Batara Kala. Sejak saat itu, ruwatan dengan pagelaran wayang kulit menjadi tradisi turun-temun untuk menetralisir energi negatif dan membebaskan seseorang dari 'ancaman' Batara Kala.

Dalam kepercayaan Jawa, ruwatan tidak sekadar tontonan, melainkan sebuah ritual yang diyakini mampu membersihkan diri dari berbagai "sengkala" atau kesialan yang melekat pada seseorang. Ruwatan yang digelar oleh Ki Susena Aji bertujuan untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteraan.

Banyak peserta ruwatan yang datang karena berbagai persoalan hidup. Ki Susena Aji menyebut beberapa kriteria peserta, seperti anak sukerta, yaitu anak-anak yang lahir dalam kondisi tertentu yang dipercaya membawa kesialan, seperti anak tunggal (ontang-anting) atau kembar sepasang (kembang sepasang). “Bahkan mereka yang sedang dilanda kesialan dalam hidup, seperti terjerat utang, sakit-sakitan, sulit jodoh, hingga masalah rumah tangga juga menjadi sasaran utama ruwatan,” tuturnya.

Prosesi ini juga dipercaya dapat melancarkan rezeki bagi yang mengalami kesulitan dalam usaha, karier, atau bisnis. Lebih dari itu, ruwatan juga digunakan sebagai sarana penyembuhan, pagar gaib untuk rumah atau toko, hingga menetralkan tanah angker yang dipercaya memiliki energi negatif.

Sebagai bagian dari prosesi, Ki Suseno menyampaikan, para peserta ruwatan akan mendapatkan kelengkapan ubarampai dan bisa menyaksikan langsung pertunjukan wayang kulit. Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari ritual yang sarat makna. “Cerita yang dibawakan dalam wayang sendiri biasanya memiliki pesan moral tentang perjuangan manusia melawan kekuatan jahat dan mencari keselamatan,” kata dia.

Ruwatan ala Gunungkidul, Lebih Dekat dengan Alam

Meskipun ruwatan umum dilakukan di berbagai wilayah di Jawa, ruwatan di Gunungkidul memiliki ciri khas tersendiri. Ki Susena Aji menjelaskan bahwa perbedaan utama terletak pada lokasi dan sarana upacara. "Kalau di wilayah lain mungkin ruwatan dilakukan di tempat yang lebih formal, di Gunungkidul kami lebih dekat dengan alam. Lokasi ruwatan seringkali dekat dengan sumber mata air atau di alam terbuka," ungkapnya.

Hal ini dipercaya dapat menguatkan energi pembersihan karena bersinergi dengan kekuatan alam. Selain itu, ubarampe atau sesaji yang digunakan juga lebih banyak memanfaatkan hasil bumi lokal dari Gunungkidul. "Kami menggunakan hasil bumi sendiri sebagai wujud syukur kepada alam yang telah memberikan kehidupan," tutupnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya