5 Klub yang Pernah Merugi karena Tukar Tambah Pemain, Liverpool Berikutnya?

Liverpool dikabarkan tertarik mendatangkan Victor Osimhen lewat skema pertukaran pemain. Gaya transfer seperti ini memang tidak jarang terjadi, tapi penuh risiko besar.

oleh Aga Deta AndityaDiperbarui 20 Juni 2025, 17:26 WIB
Logo dan ilustrasi Liverpool. (AFP/Paul Ellis)

Liputan6.com, Jakarta Liverpool dikabarkan tertarik mendatangkan Victor Osimhen lewat skema pertukaran pemain. Gaya transfer seperti ini memang tidak jarang terjadi, tapi penuh risiko besar.

Dalam sejarah sepak bola, tak sedikit klub yang merugi setelah menjalankan skema tukar tambah. Alih-alih untung, mereka malah kehilangan aset berharga.

Pertukaran pemain memang terdengar adil di atas kertas. Namun hasil di lapangan sering kali berbicara sebaliknya.

Beberapa transfer bahkan dikenang sebagai kesalahan besar yang berdampak jangka panjang. Ada yang kehilangan bintang utama demi pemain yang gagal bersinar.

Berikut lima klub yang mengalami kerugian besar dalam skema pertukaran pemain. Sebuah pelajaran mahal di dunia sepak bola modern.


1. Inter Milan

Gelandang AC Milan, Clarence Seedorf berteriak kepada rekannya, Kaka saat menghadapi Barcelona pada laga leg pertama semifinal Liga Champions 2005/2006 di San Siro Stadium, Milan (18/4/2006). (AFP/Paco Serinelli)

Clarence Seedorf membuat keputusan besar saat menyeberang dari Inter Milan ke AC Milan pada 2002. Ia tetap dihormati pendukung Nerazzurri, meski langkah itu jarang diterima dengan baik.

Sebagai bagian dari pertukaran, Francesco Coco pindah ke Inter setelah gagal menggantikan posisi Paolo Maldini. Tugas itu terbukti mustahil, bahkan untuk bek kiri berbakat sekalipun.

Seedorf menjadi pilar penting Milan selama satu dekade, memenangkan dua gelar Serie A dan dua trofi Liga Champions. Di sisi lain, karier Coco di Inter penuh dengan cedera dan kontroversi di luar lapangan.

Setelah gagal bersinar di Inter, Coco mencoba peruntungan di dunia hiburan hingga properti. Ia bahkan sempat gagal dalam trial bersama Manchester City karena datang sambil merokok.


2. Inter Milan

Fabio Cannavaro mendarat ke Turin pada 2004 silam setelah direkrut dari Inter Milan. Pada tahun 2006, ia memutuskan hijrah ke Real Madrid dan musim berikutnya kembali lagi ke Juventus. (Foto: AFP/Filippo Monteforte)

Inter Milan kembali membuat keputusan transfer yang disesali pada tahun 2004. Mereka melepas Fabio Cannavaro ke Juventus dan hanya mendapat Fabian Carini sebagai gantinya.

Cannavaro mengaku sebenarnya ingin bertahan di Inter, tetapi justru dilepas begitu saja. Ia hijrah ke Turin di hari yang sama saat Zlatan Ibrahimovic bergabung dengan Juventus.

Bek tengah itu bangkit dari cedera dan menjadi kapten timnas Italia yang juara Piala Dunia 2006. Ia mencatat 96 penampilan untuk Juve dan bahkan meraih Ballon d’Or sebelum pindah ke Real Madrid.

Sementara itu, Carini hanya mencatat empat penampilan bersama Inter dalam tiga tahun. Ia gagal menyaingi Francesco Toldo dan Julio Cesar, sama seperti saat bersaing dengan Gianluigi Buffon di Juventus.

Lanjut Baca:

Barcelona membuat keputusan besar pada Juli 2009 dengan mendatangkan Zlatan Ibrahimovic dari Inter Milan. Mereka melepas Samuel Eto’o dan menambahkan dana sebesar £40 juta dalam kesepakatan itu. Namun hubungan Zlatan dengan pelatih Pep Guardiola tidak berjalan harmonis. Ketegangan meningkat usai Barcelona kalah dari Inter di semifinal Liga Champions 2010. Zlatan mengungkap bahwa ia sempat bersitegang hebat dengan Guardiola di ruang ganti. Situasi ini membuatnya hanya bertahan satu musim di Camp Nou sebelum dipinjamkan ke AC Milan. Di sisi lain, Eto’o tampil gemilang bersama Inter dan langsung meraih treble winner di musim perdananya. Ia bahkan menyebut bahwa Guardiola telah membantu Inter mendapatkan kesepakatan terbaik dalam sejarah sepak bola.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya