Cegah Hipertensi, Begini Cara Menjaga Tekanan Darah Tetap Normal di Masa Libur

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi medis kronis yang sering tanpa gejala. Tanpa sengaja kita terjerembab di celah ketidaksadaran pola hidup.

oleh Tim DisabilitasDiterbitkan 21 Juni 2025, 10:10 WIB
Sudah makan tiga obat yang diberikan dokter tapi hipertensi tetap tak terkontrol. Bisa jadi itu merupakan hipertensi resisten. (Foto: Freepik)

Liputan6.com, Jakarta Hipertensi, atau tekanan darah tinggi berpotensi menyebabkan stroke atau serangan jantung. Kondisi medis ini umum terjadi di masyarakat. Seringkali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, namun banyak orang tidak menyadari bahwa mereka menderita hipertensi.

Masa liburan atau hari raya, tidak sedikit orang mengalami hipertensi. Mengutip komentar dr. Mirna Nurasri Praptini, Sp.PD, M.Epid, KGH, FINASIM di laman EMC.id, Jumat (20/6/2025), "Hari Raya identik dengan hidangan lezat dan berkumpul bersama keluarga. Namun, bagi penderita hipertensi, momen ini bisa menjadi tantangan karena makanan tinggi garam, lemak, dan gula dapat memicu tekanan darah tinggi."

Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan penyakit ginjal kronis.Individu dengan disabilitas mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena hipertensi karena faktor gaya hidup atau kondisi medis penyerta, sehingga perhatian khusus perlu diberikan.

Tekanan darah diukur dengan dua angka: sistolik (angka atas) dan diastolik (angka bawah). Hipertensi didiagnosis jika tekanan darah secara konsisten di atas 140/90 mmHg atau lebih. 

 

Mengenal Hipertensi Lebih Dekat

apa itu hipertensi ©Ilustrasi dibuat AI

Hipertensi sering disebut sebagai "silent killer" karena seringkali tidak menunjukkan gejala di tahap awal. Ketika tekanan darah meningkat secara signifikan, beberapa gejala dapat muncul, termasuk sakit kepala, pusing, mimisan, sesak napas, nyeri dada, pandangan kabur, telinga berdengung, detak jantung tidak beraturan, mual dan muntah, kelelahan, dan mudah marah.

Penting untuk diingat bahwa gejala-gejala ini tidak spesifik untuk hipertensi dan dapat disebabkan oleh berbagai kondisi kesehatan lainnya. Oleh karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara teratur sangat penting untuk mendeteksi hipertensi sedini mungkin. Terutama bagi individu dengan disabilitas yang mungkin memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik atau memiliki kondisi medis penyerta, pemantauan tekanan darah secara rutin menjadi krusial.

"Pantau tekanan darah secara berkala untuk memastikan tetap dalam batas normal. Jika meransa pusing, lelah, atau sesak napas, segera istirahat dan periksa tekanan darah," ujar dokter spesialis penyakit dalam - konsultan ginjal hipertensi RS EMC Alam Sutera dan Tangerang.

Hipertensi dibagi menjadi dua jenis: hipertensi primer (esensial) dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer adalah jenis yang paling umum (80-95% kasus), dan penyebabnya tidak diketahui secara pasti, namun faktor genetik, gaya hidup, dan faktor lingkungan kemungkinan berperan. Sementara itu, hipertensi sekunder disebabkan oleh kondisi medis lain, seperti penyakit ginjal, penyakit jantung bawaan, hipertiroidisme, sleep apnea, penggunaan obat-obatan tertentu, penyalahgunaan NAPZA, dan kecanduan alkohol.

Faktor Risiko Hipertensi yang Perlu Diwaspadai

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena hipertensi. Usia di atas 65 tahun, kurang olahraga, kegemukan atau obesitas, riwayat keluarga hipertensi, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, diet tinggi garam, diabetes, penyakit ginjal, dan sleep apnea adalah beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai.

Individu dengan disabilitas mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena hipertensi karena beberapa faktor. Misalnya, keterbatasan mobilitas dapat menyebabkan kurangnya aktivitas fisik, yang merupakan faktor risiko utama hipertensi. Selain itu, beberapa kondisi medis yang menyebabkan disabilitas, seperti penyakit ginjal atau diabetes, juga dapat meningkatkan risiko hipertensi.

Oleh karena itu, penting bagi individu dengan disabilitas untuk secara proaktif mengelola faktor risiko hipertensi. Hal ini dapat dilakukan dengan menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan sehat rendah garam, berolahraga secara teratur sesuai kemampuan, berhenti merokok, dan membatasi konsumsi alkohol.

Tips Menjaga Kesehatan Pasien Hipertensi Selama Liburan

Hari Raya dan libur identik dengan hidangan lezat dan berkumpul bersama keluarga. Namun, bagi penderita hipertensi, momen ini bisa menjadi tantangan karena makanan tinggi garam, lemak, dan gula dapat memicu tekanan darah tinggi, yang berisiko serangan stroke.

Berikut beberapa tips untuk penderita hipertensi agar tetap sehat selama liburan:

  • Batasi konsumsi makanan tinggi garam: Pilih makanan dengan kandungan garam rendah, batasi konsumsi makanan olahan dan kalengan, gunakan bumbu alami sebagai pengganti garam.
  • Kontrol asupan lemak dan gula: Pilih daging tanpa lemak, hindari makanan bersantan berlebihan, konsumsi makanan manis dalam porsi kecil, gunakan gula alami sebagai alternatif pemanis.
  • Perbanyak konsumsi buah dan sayur: Konsumsi pisang, jeruk, alpukat, sayuran hijau, dan kurangi makanan tinggi natrium.
  • Tetap aktif meskipun libur: Lakukan jalan santai setelah makan, manfaatkan momen kebersamaan untuk aktivitas fisik ringan, hindari duduk terlalu lama setelah makan besar.

“Dengan menjaga pola makan dan gaya hidup yang sehat selama Hari Raya (liburan), pasien hipertensi tetap bisa menikmati momen kebersamaan tanpa mengorbankan kesehatan,” ujar Mirna.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya