Conor Tracey dan Auckland City: Dihajar Bayern Munchen 10 Gol, Korban Ekspansi FIFA?

Bayern Munchen menghajar Auckland City 10-0 di Piala Dunia Antarklub. Simak analisis kontroversi format baru turnamen FIFA ini dan kisah k

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 17 Juni 2025, 02:35 WIB
Kiper Auckland City, Conor Tracey, bersalaman dengan pemain Bayern Munchen, Harry Kane, setelah pertandingan Grup C Piala Dunia Antarklub 2025 di TQL Stadium, Minggu (15/06/2025). (AFP/(Photo by Dylan Buell)

Liputan6.com, Jakarta Bayern Munchen baru saja mencetak sejarah kelam untuk Auckland City dengan kemenangan telak 10-0 di Piala Dunia Antarklub 2025. Kiper Conor Tracey, yang sehari-hari bekerja sebagai distributor obat hewan, harus memetik bola dari gawangnya tujuh kali sebelum jeda.

Turnamen yang diusung FIFA sebagai "The Best vs The Best" ini justru mempertontonkan kesenjangan ekstrem antara klub elite Eropa dengan wakil Oceania. Auckland City, klub semi-profesional dengan anggaran terbatas, harus merogoh kocek dua kali lipat dari pendapatan tahunan mereka hanya untuk berpartisipasi.

Di balik skor telak tersebut, tersimpan kisah inspiratif para pemain Auckland yang rela cuti tanpa bayaran dari pekerjaan utamanya. Lantas, apakah format baru ini benar-benar adil atau sekadar pemanis bagi dominasi klub Eropa?


Kisah Conor Tracey dan Auckland City yang Pantang Menyerah

Winger Bayern Munchen, Kingsley Comen, merayakan golnya ke gawang Auckland City di Piala Dunia Antarklub 2025, Minggu (15/06/2025). (AP/Jeff Dean)

Conor Tracey bukan kiper biasa. Di luar lapangan, pria 28 tahun ini bekerja sebagai distributor obat untuk klinik hewan di Selandia Baru. Untuk tampil di Piala Dunia Antarklub, ia harus mengambil cuti tanpa bayaran dari pekerjaannya.

Meski kebobolan 10 gol, performa Tracey sebenarnya cukup solid dengan tujuh penyelamatan. Sayang, satu blunder umpan ke Jamal Musiala untuk gol kesembilan Bayern menjadi simbol kesenjangan yang terlalu lebar. "Ini pengalaman tak terlupakan," ujar Tracey setelah laga.

Auckland City sendiri akan menerima 3,5 juta usd dari FIFA, dana yang akan digunakan untuk membangun lapangan all-weather bagi sekolah-sekolah lokal. Bagi mereka, kekalahan telak ini lebih baik daripada tidak berpartisipasi sama sekali.


Kontroversi Format The Best vs The Best

Auckland City menjadi satu-satunya wakil dari Oseania (OFC) dalam turnamen Piala Dunia Antarklub 2025. Auckland City bisa terbilang sebagai tim amatir mengingat Selandia Baru tak memiliki liga profesional resmi. (AP Photo/Jeff Dean)

FIFA mengusung turnamen ini dengan slogan "The Best v The Best", sementara DAZN mempromosikannya sebagai "Uncontested" (tak tertandingi). Namun realita di lapangan justru menunjukkan kesenjangan yang mengkhawatirkan.

Opta mencatat Bayern Munchen berada di peringkat ke-4 dunia, sementara Auckland City tercecer di posisi 4.928. Miguel Angel Russo, pelatih Boca Juniors, dengan blak-blakan menyebut lawan Bayern sebagai "tim semi-profesional".

Pertanyaan besarnya: Apakah masalahnya terletak pada keikutsertaan Auckland, atau justru pada framing FIFA yang terlalu muluk? Sebab, ini adalah penampilan ke-13 Auckland di Piala Dunia Antarklub, dan mereka lolos secara sah sebagai juara Liga Champions Oceania.

Lanjut Baca:

Di satu sisi, kehadiran Auckland City memenuhi prinsip representasi global FIFA yang ingin melibatkan semua konfederasi. Namun, di sisi lain, laga seperti Bayern vs Auckland justru merusak citra turnamen yang ingin disetarakan dengan Liga Champions. Fakta menarik: Auckland City bahkan bukan tim terkuat di Selandia Baru. Gelar itu diperebutkan oleh Auckland FC dan Wellington Phoenix yang bermain di liga Australia. Namun karena Australia kini bernaung di bawah AFC, jalan Auckland City ke turnamen dunia justru lebih terbuka. Format alternatif seperti fase grup ala Liga Champions mungkin bisa memberi Auckland kesempatan lebih adil melawan tim setara. Tapi kalender yang sudah padat membuat opsi ini sulit diterapkan. Pada akhirnya, FIFA harus memilih antara idealisme representasi global atau kualitas kompetitif yang seimbang.

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya