Obesitas dan Kesuburan, Kenapa Berat Badan Pengaruhi Peluang Kehamilan?

Seperti apa keterkaitan antara obesitas dan kesuburan?

oleh Dyah Puspita WisnuwardaniDiterbitkan 16 Juni 2025, 20:00 WIB
Obesitas adalah salah satu tanda kelebihan lemak dalam perut yang menghawatirkan, oleh karena itu, cobalah beberapa tips di bawah ini. (Foto dok: Freepik/jcomp).

Liputan6.com, Jakarta - Obesitas tidak hanya berdampak pada kesehatan melainkan juga kesuburan, baik pada wanita maupun pria. Bahkan bagi perempuan yang tengah mengandung, obesitas meningkatkan berbagai risiko selama kehamilan.

“Obesitas ini ternyata pengaruhnya sangat luas terhadap kesehatan, termasuk pada sistem reproduksi,” ungkap dr. Zakia, Sp.OG, Subsp. F.E.R, dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas dari RS Persahabatan dalam talkshow Bersama Kementerian Kesehatan RI, dikutip Senin (16/6).

Obesitas dan Kesuburan Bukan Cuma Masalah Wanita

Menurut dr. Zakia, obesitas bisa menyebabkan berbagai gangguan sistem dalam tubuh, mulai dari metabolik hingga hormonal.

“Kalau dari sistem reproduksi, obesitas bisa menyebabkan gangguan haid dan menurunkan kesuburan. Ini tidak hanya terjadi pada wanita, tetapi juga pria,” jelasnya.

Faktanya, lebih dari 60% pasien infertilitas ternyata juga mengalami obesitas. Semakin tinggi indeks massa tubuh (IMT), semakin besar pula dampaknya terhadap kesuburan.

“Setiap kenaikan satu poin BMI, potensi kesuburan bisa menurun hingga 4%. Jadi, kalau BMI-nya 35, maka kesuburannya bisa menurun sekitar 24%,” terang dr. Zakia.

Tak hanya mengurangi peluang hamil secara alami, obesitas juga berpengaruh terhadap keberhasilan program bayi tabung (IVF).

“Pada wanita overweight, peluang keberhasilan IVF menurun 9%. Bila obesitas, bisa turun sampai 20%,” tambahnya.

Salah satu penyebab utama dari gangguan kesuburan pada wanita obes adalah terganggunya proses ovulasi.

“Ovulasi—proses pelepasan sel telur—bisa gagal tiga kali lebih sering terjadi pada wanita obes dibanding wanita dengan berat badan normal,” jelas dr. Zakia.

 

Risiko Serius saat Hamil pada Ibu dengan Obesitas

Jika seorang wanita obes berhasil hamil, perjalanan kehamilannya pun tak selalu mulus. Obesitas tetap menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai.

“Ketika ibu hamil mengalami obesitas, maka risiko gangguan metabolik ikut terbawa,” kata dr. Yuyun Lisnawati, Sp.OG, Subsp. K.Fm, konsultan kedokteran fetomaternal dari RS Persahabatan. Salah satu dampak yang paling umum adalah resistensi insulin yang bisa berkembang menjadi diabetes gestasional (diabetes selama kehamilan).

Resiko berikutnya? Hipertensi dan preeklampsia—dua komplikasi serius yang dapat mengancam ibu dan janin. “Tubuh ibu obes memiliki potensi peradangan kronis akibat tumpukan lemak yang mengeluarkan zat-zat inflamasi dan radikal bebas. Ini bisa memicu gangguan pembuluh darah, termasuk di plasenta,” terang dr. Yuyun.

 

Dampaknya ke Janin: Bukan Sekadar Bayi Besar

Kondisi ini tak hanya berdampak pada ibu, tapi juga pada janin. Salah satu konsekuensinya adalah janin tumbuh besar dalam kandungan, atau makrosomia. Namun, ukuran besar ini bukan berarti sehat.

“Janin dari ibu obes bisa besar, tapi organ-organ pentingnya belum matang sempurna, seperti paru-paru. Akibatnya, saat lahir bayi bisa mengalami sesak napas dan harus dirawat intensif,” jelas dr. Yuyun.

Selain itu, kelahiran bayi besar meningkatkan risiko operasi sesar dan kesulitan saat persalinan normal. Yang juga perlu diwaspadai adalah risiko epigenetik, di mana bayi dari ibu obes memiliki kecenderungan lebih besar mengalami obesitas dan diabetes saat dewasa.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya