Pramono Siapkan Model Pembiayaan Giant Sea Wall dari Hasil Olah Sampah Jadi Energi Listrik

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa salah satu sumber pendanaan untuk pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall berasal dari pengelolaan sampah menjadi energi listrik.

oleh Tim NewsDiterbitkan 16 Juni 2025, 04:04 WIB
Usai dilantik, Pramono Anung dan Rano Karno langsung menuju Balai Kota Jakarta untuk melakukan Serah Terima Jabatan dengan Penjabat Gubernur Jakarta Teguh Setyabudi. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan bahwa salah satu sumber pendanaan untuk pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall berasal dari pengelolaan sampah menjadi energi listrik.

Hal ini disampaikannya saat menjadi pembicara dalam acara Jakarta Future Festival di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada Minggu, Pramono mengungkapkan bahwa APBD DKI Jakarta saat ini mencapai Rp91 triliun dan diharapkan terus meningkat pada tahun mendatang.

Ia juga menyampaikan bahwa rata-rata Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) mencapai Rp5-6 triliun, sementara realisasi SiLPA berada di kisaran Rp2-3 triliun.

"Kalau itu bisa dilakukan, maka kami setiap tahun minimum harus spend sekitar Rp5 triliun untuk Sea Wall sepanjang 19 kilometer (km)," ujarnya, dilansir dari Antara.

Dia berharap dengan membangun tanggul laut raksasa sepanjang 19 km akan menjadi proyek panjang yang menantang dan dapat menguntungkan.

 

Pengolahan Sampah Menjadi Energi

Gubernur Jakarta Pramono Anung dan Presiden Prabowo Subianto bertemu pada momentum lebaran, 1446 Hijriah. (Istimewa)

Menurut Pramono, pengolahan sampah menjadi energi akan digunakan semuanya dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sehingga diharapkan persoalan sampah selesai. Bahkan, Pemprov DKI berencana membangun empat PLTS, di mana satu PLTS feeder per hariannya 2.500 itu sekitar 1.500 Mega Watt (MW)

"Persoalan sampah selesai, persoalan listriknya terpenuhi, pencemarannya juga akan berkurang banyak, dan itu kemudian kan ada revenue (pendapatan) buat Jakarta. Revenue ini akan digunakan untuk membangun Giant Sea Wall," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto saat menutup konferensi infrastruktur ICI 2025 di JCC Senyana, Jakarta pada Kamis (12/6/2025) sempat mencari kehadiran Gubernur Jakarta Pramono Anung. Prabowo meminta Pemprov Jakarta mau patungan melalui APBD dalam pembangunan mega-proyek tanggul laut raksasa (giant sea wall) di pesisir utara Pulau Jawa.

Prabowo menjelaskan bahwa proyek tanggul laut raksasa yang membentang sepanjang 500 kilometer dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur itu membutuhkan biaya pembangunan sebesar USD80 miliar, termasuk di Teluk Jakarta secara khusus sebesar USD8 miliar sampai USD10 miliar.

"Khusus untuk teluk Jakarta, kemungkinan 8 (miliar) sampai 10 miliar dolar (AS), kalau 8 sampai 10 miliar dolar, saya kira kita sendiri mampu. Di sini ada hadir Gubernur DKI? Tidak? Enggak hadir? Waduh. Coba diselidiki kenapa tidak hadir," kata Prabowo seraya berkelakar dalam sambutannya saat menutup International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (12/6/2025)

 

Sudah Bertemu Pramono

Prabowo mengatakan bahwa dia sudah bertemu dengan Pramono beberapa hari lalu, dan mengirim utusan untuk memastikan bahwa Pemprov Jakarta mendukung pembangunan megaproyek yang sudah direncanakan sejak 1995 itu.

Kepala Negara pun mendapat jawaban bahwa Pemprov DKI tentu saja mendukung tanggul laut raksasa yang sudah masuk dalam proyek strategis nasional.

"Saya dapat jawaban 'dukung'. Alhamdulillah. Karena APBD-nya DKI sangat besar. Jadi saya bilang DKI harus urunan. Pemerintah pusat urunan," kata Prabowo.

Prabowo pun memproyeksi APBD dari Pemprov DKI Jakarta untuk pembangunan tanggul laut raksasa setidaknya mencapai 8 miliar dolar AS, yang dapat dialokasikan per tahun sebesar 1 miliar dolar AS.

Infografis 100 Hari Kerja Pramono Anung-Rano Karno Pimpin Jakarta. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya