Liputan6.com, Yogyakarta - Samuel Lie, mahasiswa Fakultas Teknik UGM yang juga konten kreator menyatakan bahwa dia bukan anak pintar dan harus bekerja keras 10 kali lebih banyak dibandingkan teman-temannya. Ia harus mempertahankan IPK minimal 3,0 setiap semester untuk mempertahankan beasiswa. Ia memberikan cara sukses studi hingga konten kreator. “Saya menemukan sistem belajar yang lebih efektif. Semester pertama fokus pada algoritma belajar dan membangun sistem pembelajaran, dan menghasilkan IPK 3,50,” katanya, Kamis (5/6/2025).
Memasuki semester II, Samuel mencoba memperluas relasi dengan bergabung dalam BEM, menjadi MC dan aktif di berbagai acara. Semester ketiga mulai mencari prestasi melalui kompetisi, dengan hasil memenangkan lima lomba dan berhasil meraih IPK 3,90.
Advertisement
Saat memasuki semester keempat, ia mulai menekuni dunia content creator dan memiliki lebih dari 100K followers di Instagram hanya dalam waktu tiga bulan. Saat ini, dengan 142.000 follower dengan ratusan konten motivasi Samuel sudah memenuhi beranda Instagramnya, dan menjadi referensi bagi mahasiswa yang ingin tahun seputar strategi sukses di dunia akademik, hingga akhirnya dunia konten kreator dapat membiayai dirinya sendiri. ”Saya ngonten bukan untuk mencari validasi atau kebanggaan diri, tetapi untuk menjadi motivasi dan role model buat semua orang yang dianggap ”biasa saja”. Saya sudah membuktikan, kalau anak yang ”biasa saja” sejak SD-SMA, bisa sukses di perkuliahan,” terang Samuel penuh semangat.
Samuel kini tengah mendedikasikan dirinya menjadi motivator bagi teman-teman sebayanya seputar sukses studi melalui konten IG-nya. Ia ingin membantu teman-teman yang dianggap ”biasa saja” tersebut bisa sukses kuliah. ”Karena kunci dari sukses kuliah itu bukanlah bakat, melainkan konsistensi”, tegasnya.
Selain sukses studi ia juga cukup sukses di bidang konten kreator. Samuel memberikan strategi khusus agar pekerjaan sebagai konten kreator menjadi kegiatan yang tidak mengganggu perkuliahan. ”Bisa terkendali dengan time management,” jelas mahasiswa angkatan 2023 ini.
Samuel mengatur kegiatan dengan sistem skala prioritas dengan menggunakan google calendar. Prioritas pertamanya adalah ”kelas”, di luar itu, waktunya digunakan untuk membuat konten. ”Saya sudah terbiasa mengikuti berbagai macam acara sejak semester 2, dan sekarang sebagai konten kreator, saya tinggal mensubstitusikan kesibukan yang biasanya di organisasi ke dunia konten kreator”, ungkapnya.
Berada di posisinya saat ini ia mengaku pernah mengalami kecanduan game sejak kecil saat dipercaya memegang smartphone oleh orang tuanya untuk komunikasi dan produktivitas. Waktu itu Samuel bermain mobile legends hampir 16 jam setiap hari tanpa berhenti, hingga mengorbankan waktu tidur yang dia lakukan dari kelas 7 SMP hingga kelas 2 SMA.
Namun teguran dari orang tua saat itu tidak pernah berhenti, namun baru terasa saat mereka lelah dan berhenti menegur dan munculah kesadarannya. Tidak hanya itu, ia melihat teman-teman sebaya yang jarang bermain game memiliki kredibilitas tinggi. ”Mereka berprestasi, aktif berorganisasi, dan pandai berbicara di depan umum,” kata Samuel.
Momen ingin seperti mereka menjadi titik balik Samuel yang mengubah perspektifnya. Kesadaran ini seperti menemukan konsep “reverse gaming”, senjata yang menjadi strategi utamanya untuk lepas dari kecanduan. Menurut Samuel, seperti analogi game kalau kerja keras akan mendapatkan ‘gold’. Dari konsep itu, dia mulai tekun belajar agar menjadi lebih hebat, dan membangun kebiasaan baru untuk meningkatkan kemampuan diri. ”Saya mulai berolahraga, membaca buku setiap hari, bergabung dengan OSIS, dan memperbanyak relasi,” terangnya.
Dengan passion di bidang public speaking, samuel bercita-cita menjadi seorang mentor dan public speaker untuk membantu mahasiswa sukses studi di akademik, prestasi, sosial, dan finansial. Untuk mencapai tujuan itu, ia sedang membangun startup bernama Skademy (Sukses Kuliah Academy), yang bertujuan membimbing mahasiswa agar tidak mengulangi kesalahan seperti dirinya. “Lewat mindset yang tepat, seseorang dapat mengubah kebiasaan buruk menjadi motivasi besar untuk berkembang dan sukses,” ujarnya.