Michael Owen Jujur Tak Tahu Apa Itu Ballon d’Or Saat Ia Menang pada Tahun 2001 Silam

Michael Owen mengaku tidak pernah tahu apa itu Ballon d’Or—bahkan setelah dirinya memenangkan penghargaan prestisius tersebut pada edisi 2001 silam.

oleh Ari Rachman PrayogaDiperbarui 09 Juni 2025, 17:41 WIB
Michael Owen, berhasil meraih treble bersama Liverpool pada musim 2000-01. Pada musim itu pula dirinya berhasil meraih gelar Ballon d'Or. (AFP Photo/Paul Barker)

Liputan6.com, Jakarta Michael Owen mengaku tidak pernah tahu apa itu Ballon d’Or—bahkan setelah dirinya memenangkan penghargaan prestisius tersebut pada edisi 2001 silam.

Eks penyerang Liverpool itu mengalahkan legenda Real Madrid, Raul, serta pesepak bola top dunia seperti David Beckham, Luis Figo, dan Thierry Henry untuk meraih penghargaan individu tertinggi di Eropa tersebut.

Namun, saat manajernya kala itu, Gerard Houllier, memberitahunya bahwa ia menang Ballon d’Or, Owen justru bingung.

"Saya tidak tahu apa itu. Saya benar-benar tidak paham karena penghargaan ini bahkan jarang disebut di media Inggris waktu itu," ujar Owen dalam wawancara dengan talkSPORT.


Karier Cemerlang Owen

Michael Owen. Eks striker asal Inggris yang kini berusia 42 tahun dan telah pensiun bersama Soke City pada Juli 2013 ini pernah berseragam Liverpool selama 8 musim, mulai 1996/1997 hingga 1998/1999 usai dipromosikan dari Liverpool U-18. Sementara Real Madrid diperkuatnya hanya 1 musim usai meninggalkan Liverpool pada 2004/2005. Bersama Liverpool ia total tampil dalam 296 laga dengan torehan 157 gol dan 49 assist. Sementara bersama Real Madrid ia total tampil dalam 45 laga dengan torehan 16 gol dan 4 assist. (AFP/Pierre-Philippe Marcou)

Selama 8 tahun membela Liverpool, Owen mencetak 158 gol dari 297 penampilan. Kecepatan dan akurasi finishing-nya membuatnya menjadi salah satu striker paling ditakuti di dunia.

Pada 2001, ia mencetak 24 gol dalam 46 laga Premier League, menarik perhatian juri Ballon d’Or.

Meski begitu, Owen baru benar-benar menyadari betapa besarnya penghargaan ini setelah bergabung dengan Real Madrid pada 2004.

"Di Spanyol, gelar Ballon d’Or itu seperti gelar kebangsawanan. Setiap kali nama Anda disebut, selalu ada embel-embel ‘pemenang Ballon d’Or’," ungkapnya.

"Di luar negeri, hal itu sangat besar dan baru disadari di sini selama lima atau sepuluh tahun terakhir.

"Penghargaan itu jauh lebih besar di negara lain, di negara asing. Saya segera menyadari betapa besarnya hal itu."


Warisan Ballon d’Or Owen

Musim 1997/1998. Pada musim 1997/1998, tiga striker Inggris harus berbagi gelar top skor Liga Inggris karena sama-sama mencetak 18 gol di musim tersebut. Mereka adalah Dion Dublin (Coventry City), Michael Owen (Liverpool) dan Chris Sutton (Blackburn Rovers). Dari ketiganya, Michael Owen berhasil membawa timnya Liverpool finis di tempat yang lebih baik yaitu di posisi ke-3. Ia yang saat itu berusia 18 tahun juga menyabet gelar PFA Young Player of the Year dan pemain terbaik Liga Inggris musim 1997/1998. (AFP/Paul Barker)

Owen adalah pemain Inggris keempat yang meraih Ballon d’Or, setelah Stanley Matthews (1956), Bobby Charlton (1966), dan Kevin Keegan (1978 & 1979).

Kini, penghargaan ini semakin bergengsi dan menjadi impian setiap pesepak bola top dunia

Tapi bagi Owen, kemenangannya justru diawali dengan kebingungan—sebuah cerita unik dari salah satu striker terbaik Inggris sepanjang masa.

Sumber: talkSPORT

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya