Cek Lagi Jadwal Libur Bursa sambut Idul Adha 2025

Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merilis jadwal libur BEI untuk 2025. Berikut jadwal libur bursa pada Juni 2025

oleh Agustina MelaniDiperbarui 05 Juni 2025, 19:34 WIB
Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Rabu (16/5). Sejak pagi IHSG terjebak di zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengumumkan kalender libur bursa saham untuk 2025. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 18 hari bursa sepanjang Juni 2025.

Selain libur akhir pekan, ada libur nasional dan cuti bersama pada Juni 2025. Berikut libur nasional dan cuti bersama pada Juni 2025 seperti dikutip dari laman idx.co.id, Kamis (5/6/2025):

  • Jumat, 6 Juni 2025: IdulAdha 1446 Hijriah
  • Senin, 9 Juni 2025: Cuti Bersama Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah
  • Jumat, 27 Juni 2025: 1 Muharam Tahun Baru Islam 1447 Hijriah

Libur Akhir Pekan:

  • Minggu, 1 Juni 2025
  • Sabtu, 7 Juni 2025
  • Minggu, 8 Juni 2025
  • Sabtu, 14 Juni 2025
  • Minggu, 15 Juni 2025
  • Sabtu, 21 Juni 2025
  • Minggu, 22 Juni 2025
  • Sabtu, 28 Juni 2025
  • Minggu, 29 Juni 2025

Setelah mengalami banyak hari libur pada paruh pertama 2025, jumlah hari libur bursa yang terjadi pada paruh kedua tahun tersebut relatif sedikit. Selama bulan Juli dan Agustus, tidak ada hari libur yang dijadwalkan, kecuali pada Sabtu dan Minggu.

Pada September, transaksi perdagangan efek di BEI akan kembali libur pada 5 September untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Setelah tanggal tersebut, aktivitas perdagangan akan berlangsung normal tanpa adanya hari libur tambahan hingga bulan Desember. Dengan demikian, akan tersisa 21 hari bursa pada September 2025. Demikian mengutip berbagai sumber.

Pada Oktober dan November, tidak akan ada hari libur yang dijadwalkan, kecuali pada Sabtu dan Minggu. Menjelang akhir tahun, bursa akan ditutup pada 25 Desember untuk merayakan Hari Raya Natal, diikuti dengan cuti bersama Natal pada tanggal 26 Desember. Bursa saham juga akan kembali tutup pada 31 Desember sebagai persiapan menjelang pergantian tahun. Dengan demikian, tersisa 20 hari bursa pada Desember 2025.

 

Prediksi IHSG Juni 2025

Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya,  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menguat secara moderat pada Juni 2025. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyatakan tren historis penguatan IHSG di bulan Juni masih berpotensi terulang tahun ini, didukung sejumlah katalis positif baik dari dalam maupun luar negeri.

“Hal tersebut masih bisa terwujud, dengan prediksi IHSG akan bergerak sideways cenderung menguat pada Juni 2025, dalam rentang 7.000–7.300, dengan kecenderungan menembus resistance 7.300 apabila terus ditopang oleh net buy asing, stimulus domestik, dan stabilitas nilai tukar,” ujar Liza, dikutip Kamis, (5/6/2025).

Ia juga menambahkan kombinasi dari window dressing akhir semester serta aksi investor yang mulai memposisikan portofolionya menjelang laporan keuangan kuartal II bisa menjadi katalis tambahan yang signifikan.

“Window dressing akhir semester dan positioning menuju laporan keuangan kuartal II bisa menjadi katalis tambahan,” katanya.

Sentimen Penggerak IHSG

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Secara umum, sentimen penggerak IHSG pada Juni 2025 mencakup stimulus pemerintah, penurunan bunga penjaminan LPS, pemangkasan BI Rate, serta ekspektasi dovish dari The Fed.

Di sisi lain, risiko global tetap perlu dicermati, terutama dari dinamika tarif dagang AS dan ketegangan geopolitik.

Dengan Rupiah yang berpotensi menguat ke level Rp16.000/USD dan aliran dana asing yang mulai kembali, pelaku pasar diimbau untuk mencermati rotasi sektor dan tetap menjaga kewaspadaan terhadap potensi gejolak eksternal.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya