Melihat Apa yang Bisa Diberikan Matheus Cunha untuk Man United: Solusi Tajam untuk Lini Serang yang Lesu?

Manchester United bergerak cepat di bursa transfer musim panas dengan mengamankan jasa Matheus Cunha dari Wolves. Datangnya Cunha memberi harapan baru untuk menghidupkan lini depan yang mandul dan kurang kreatif.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 03 Juni 2025, 05:01 WIB
Penyerang Wolverhampton Wanderers asal Brasil #10, Matheus Cunha, merayakan gol pertamanya dalam pertandingan putaran kelima Piala FA Inggris antara AFC Bournemouth dan Wolverhampton Wanderers di Stadion Vitality, London, pada tanggal 1 Maret 2025. (JUSTIN TALLIS/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Manchester United bergerak cepat di bursa transfer musim panas dengan mengamankan jasa Matheus Cunha dari Wolves. Transfer senilai 62,5 juta pounds ini terjadi di tengah bayang-bayang kegagalan musim lalu yang memalukan.

MU finis di posisi ke-15 Premier League dan gagal lolos ke kompetisi Eropa, menyisakan banyak pekerjaan rumah untuk pelatih Ruben Amorim. Datangnya Cunha memberi harapan baru untuk menghidupkan lini depan yang mandul dan kurang kreatif.

Kini, pertanyaan utama adalah seberapa besar dampak yang bisa diberikan pemain asal Brasil ini bagi sistem Amorim. Dengan kepergian Garnacho yang hampir pasti, peran Cunha bisa jadi krusial sejak awal.


Pendamping Tepat untuk Bruno Fernandes

Bek Manchester United, Noussair Mazraoui, berduel dengan penyerang Wolves, Matheus Cunha, dalam laga pekan ke-33 Premier League 2024/2025 di Old Trafford, Minggu (20/4/2025). MU kalah 0-1 dalam pertandingan ini. (Martin Rickett/PA via AP)

Salah satu kekhawatiran utama United musim depan adalah minimnya opsi di lini serang. Alejandro Garnacho kemungkinan besar bakal pergi. Lalu Mason Mount dan Amad belum bisa diandalkan penuh karena masalah cedera.

Bruno Fernandes selama ini menjadi tumpuan kreativitas MU, tapi beban di pundaknya terlalu berat. Kehadiran Cunha diharapkan mampu membagi tanggung jawab itu dan menghadirkan opsi baru dalam skema 3-4-2-1.

Cunha dikenal fleksibel bermain di berbagai posisi menyerang—baik sebagai second striker, gelandang serang kiri, maupun ujung tombak. Ia bisa menempati posisi yang mungkin ditinggalkan Garnacho dan memberi warna baru dalam serangan.


Gaya Bermain Direct dan Agresif

Matheus Cunha dari Wolverhampton Wanderers, kanan, ditantang oleh Casemiro dari Manchester United selama pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris antara Wolverhampton Wanderers dan Manchester United di Stadion Molineux di Wolverhampton, Inggris, Kamis, 1 Februari 2024. (AP Photo/Rui Vieira )

Cunha adalah tipe pemain yang suka menyerang langsung ke jantung pertahanan lawan. Statistik membuktikan bahwa ia salah satu pemain paling progresif di Premier League dalam hal dribel dan umpan vertikal.

MU selama ini terlalu bergantung pada Fernandes untuk memulai serangan dari lini kedua. Cunha hadir dengan karakter serupa, tapi dengan tambahan kecepatan dan naluri menyerang dari berbagai sudut.

Dalam pertandingan melawan Leicester musim 2024/2025 lalu, Cunha memperlihatkan kualitasnya dengan satu gol dan dua assist. Ia menunjukkan keberanian membawa bola dari tengah lapangan, melewati lawan, dan menciptakan peluang berbahaya.


Koneksi Alami dengan Sistem Amorim

Striker Brasil yang baru menjalani musim pertama bersama Wolverhampton Wanderers pada musim 2023/2024 menjadi pemain keempat alias terbaru yang sukses mencetak hattrick ke gawang Chelsea di Stamford Bridge pada era Premier League. Momen itu terjadi pada pekan ke-23 Premier League musim 2023/2024 saat timnya Wolverhampton Wanderers menang 4-2 atas Chelsea (4/2/2024). (AFP/Ben Stansall)

Salah satu keuntungan terbesar Cunha adalah pengalamannya bermain dalam sistem 3-4-2-1 di Wolves. Di bawah asuhan Vitor Pereira dan Gary O’Neil, ia terbiasa dengan fleksibilitas peran di sepertiga akhir lapangan.

Lanjut Baca:

Kebiasaannya berpindah sisi, turun menjemput bola, hingga menusuk ke area kotak penalti sangat cocok dengan gaya bermain yang diinginkan Amorim. Ia bisa menjadi mitra seimbang bagi Fernandes di lini serang. Namun, tantangan bagi Amorim adalah menjaga keseimbangan antara dua pemain kreatif ini. Karena keduanya termasuk pemain dengan usage rate tertinggi, kerja sama mereka harus berjalan tanpa ego yang berbenturan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya