Liputan6.com, Muntilan - Tape ketan dan emping melinjo telah menjadi pasangan tradisi kuliner yang tidak terpisahkan di Muntilan, Kabupaten Magelang. Kebiasaan unik ini memiliki akar sejarah yang panjang, melibatkan proses fermentasi beras ketan dan penggunaan emping sebagai alat makan sekaligus pelengkap rasa.
Mengutip dari berbagai sumber, tape ketan muntilan diperkirakan telah ada sejak abad ke-9 hingga ke-10. Makanan tradisional ini dibuat dari beras ketan yang difermentasi menggunakan ragi selama dua malam hingga menghasilkan cita rasa manis dan asam yang khas.
Advertisement
Proses pembuatan tape ketan meliputi beberapa tahapan. Beras ketan dikukus terlebih dahulu, kemudian diberi ragi sebelum difermentasi dalam wadah tertutup hingga mengeluarkan aroma khas.
Warna hijau pada tape ketan muntilan asli berasal dari daun katuk, meskipun saat ini beberapa produsen beralih menggunakan pewarna makanan sintetis untuk alasan kepraktisan. Selain varian hijau, tape ketan muntilan juga tersedia dalam warna putih dan hitam dengan karakteristik rasa yang berbeda-beda.
Keunikan tradisi ini terletak pada cara penyajiannya. Masyarakat setempat biasanya menyantap tape ketan dengan menggunakan emping melinjo sebagai alat makan sekaligus penyeimbang rasa.
Tradisi ini telah menjadi ciri khas kuliner Muntilan. Emping melinjo tidak hanya berfungsi sebagai alat makan, tetapi juga berperan menetralkan rasa manis berlebihan dari tape ketan.
Wedang Tape
Beberapa masyarakat juga mengonsumsi tape ketan bersama wedang tape atau menjadikannya campuran dalam es. Tape ketan muntilan sering disajikan dalam berbagai acara penting, termasuk perayaan hari raya dan pernikahan.
Toko legendaris seperti Tape Ketan 181 di Jalan Pemuda, Muntilan, menjadi destinasi utama bagi wisatawan yang ingin mencicipi tape ketan. Toko yang telah beroperasi sejak tahun 1935 ini menjual tape ketan dalam dua bentuk, yaitu siap santap dan setengah matang yang masih memerlukan proses fermentasi lanjutan di rumah konsumen.
Tape ketan muntilan dapat bertahan hingga tiga hari tanpa bahan pengawet asalkan disimpan di tempat yang sejuk. Kuliner tradisional ini tidak hanya populer di kalangan masyarakat lokal, tetapi juga menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara, termasuk dari benua Eropa dan Amerika.
Beberapa toko oleh-oleh di sepanjang jalur Yogyakarta-Magelang menawarkan tape ketan dalam kemasan toples dengan variasi harga mulai dari Rp20.000 hingga Rp150.000, tergantung ukuran kemasan. Tape ketan Muntilan memiliki perbedaan dengan varian dari daerah lain seperti Cirebon atau Jakarta.
Selain penggunaan daun katuk, proses fermentasinya tidak melibatkan ritual khusus, berbeda dengan pembuatan tape ketan di Cirebon yang konon harus dilakukan oleh orang dengan kriteria tertentu.
Penulis: Ade Yofi Faidzun