Liputan6.com, Jakarta - Kesuksesan Paris Saint-Germain menjuarai Liga Champions 2024/2025 berbuah nyawa melayang. Kepolisian Paris menyebut dua orang suporter meninggal dunia dan seorang polisi koma setelah perayaan massal di seluruh Prancis menyusul kemenangan bersejarah atas Inter Milan di Allianz Arena, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB.
Peristiwa tragis ini mencoreng malam penuh euforia yang awalnya berlangsung meriah setelah PSG meraih gelar Liga Champions pertama dengan kemenangan telak 5-0 atas Inter Milan. Menara Eiffel bersinar dengan warna kebesaran klub, dan para penggemar berpesta sepanjang malam dalam suasana yang sebagian besar damai, meski di beberapa tempat berubah menjadi kerusuhan.
Advertisement
Remaja laki-laki berusia 17 tahun tewas akibat penusukan di kota Dax, Prancis barat, saat pesta jalanan PSG setelah final yang berlangsung Sabtu malam di Munich, demikian keterangan dari kepolisian. Pria berusia 20-an juga meninggal di Paris setelah skuter yang dikendarainya ditabrak mobil saat perayaan PSG, menurut kantor Menteri Dalam Negeri. Kedua insiden tersebut masih dalam penyelidikan.
Sementara seorang polisi mengalami koma setelah terkena kembang api secara tidak sengaja saat perayaan PSG di Coutances, Prancis barat laut. Polisi tersebut mengalami cedera mata serius dan kini dalam perawatan intensif.
Secara keseluruhan, sebanyak 192 orang terluka di sekitar ibu kota, empat di antaranya mengalami luka serius, kata Kepala Polisi Paris.
PSG Gelar Pawai Juara Liga Champions
Tim PSG dijadwalkan kembali ke Paris untuk pawai kemenangan besar di Champs-Elysees pada Minggu waktu setempat, dengan hingga 110.000 orang diizinkan memadati jalan ikonik tersebut untuk menyambut para pemain.
Setelah itu, para pemain akan bergabung bersama ribuan penggemar di stadion kandang PSG, Parc des Princes, di bagian barat kota, untuk konser, pertunjukan cahaya, dan penyerahan trofi Liga Champions secara resmi.
Sebagian besar wilayah pusat kota Paris ditutup untuk lalu lintas demi kelancaran acara luar biasa ini. Pengamanan ketat juga berdampak pada pelaksanaan turnamen French Open yang berlangsung di dekat lokasi.
Ribuan polisi dikerahkan untuk menjaga ketertiban, dengan taktik serupa digunakan pada malam sebelumnya, menurut Kepala Polisi Paris, Laurent Nunez. Wartawan AP melaporkan penggunaan gas air mata di dekat stadion dan meriam air di sekitar Arc de Triomphe untuk membubarkan kerumunan yang ricuh.