PSG, Inter Milan, dan Sebuah Final yang Bernapaskan Nostalgia

Dari Olympiastadion ke Allianz Arena, dari Basile Boli ke Ousmane Dembele dan Lautaro Martinez.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 30 Mei 2025, 15:44 WIB
Il Nerazzurri unggul lebih dulu lewat gol yang dicetak Lautaro Martinez pada menit ke-21. (Marco BERTORELLO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Tiga dekade setelah Marseille menjungkalkan AC Milan di final Liga Champions 1992/93, kota Munchen kembali menyatukan Prancis dan Italia dalam satu panggung. Kini, PSG dan Inter Milan akan beradu di Allianz Arena pada Minggu dini hari, 1 Juni 2025.

Ini bukan sekadar final biasa. Ini adalah benturan dua negara sepak bola besar yang dulu pernah menciptakan momen abadi di kompetisi tertinggi Eropa. Dari Olympiastadion ke Allianz Arena, dari Basile Boli ke Ousmane Dembele dan Lautaro Martinez.

PSG dan Inter belum pernah bertemu di Liga Champions. Sekarang, mereka dipertemukan bukan di awal atau tengah, tapi langsung di puncak: final. Ini panggung megah untuk kisah besar yang akan ditulis ulang.


PSG: Dari Paris Menuju Munchen

Hasilnya, pada menit ke-4, PSG unggul lebih dulu melalui gol cepat Ousmane Dembele. (Adrian Dennis/AFP)

Parc des Princes bergemuruh pada Kamis, 8 Mei 2025. PSG menyempurnakan perjuangan mereka dengan menyingkirkan Arsenal lewat kemenangan 2-1 di leg kedua. Agregat 3-1 cukup untuk meloloskan mereka ke final.

Fabian Ruiz dan Achraf Hakimi tampil sebagai pahlawan malam itu. Gol-gol mereka menenggelamkan harapan Arsenal yang sempat bangkit lewat aksi Bukayo Saka. PSG tampil dengan ketenangan dan kontrol.

Dengan keunggulan dari leg pertama, anak-anak asuhan Luis Enrique bermain dengan kepala dingin. Mereka tak terseret emosi, hanya fokus menuntaskan misi. Kini, final Liga Champions kembali menyapa klub dari Prancis.


Bayangan Marseille dan Luka Lama di Sisi Lain Kota Milan

Pemain Olympique Marseille (OM) merayakan kemenangan di atas truk di pelabuhan Marseille (disebut Vieux Port) pada tanggal 1 Juni 1993, beberapa hari setelah memenangkan pertandingan final Liga Champions UEFA melawan Milan. (Yang ketiga dari kiri di atas truk adalah Basile Boli, yang mencetak gol kemenangan). Marseille mengalahkan AC Milan di Munich pada tanggal 26 Mei 1993. (Beatrice PINOT/AFP)

Pertemuan PSG vs Inter di Munchen membuka kotak kenangan masa lalu. Pada 1993, Marseille menciptakan sejarah sebagai satu-satunya klub Prancis yang pernah menjuarai Liga Champions. Itu terjadi di kota yang sama.

Satu sundulan Basile Boli menumbangkan AC Milan kala itu. Namun, di balik kejayaan itu tersimpan luka: skandal pengaturan skor di liga domestik yang membuat Marseille dihukum berat. Mereka tetap juara Eropa, tapi kehilangan tempat di hati banyak orang.

Kini, PSG datang membawa harapan untuk menulis ulang kisah Prancis dengan tinta yang bersih. Trofi yang sama, kota yang sama, tapi dengan wajah dan semangat berbeda. Lawannya adalah tim dari sisi lain kota Milan, Inter.

Lanjut Baca:

PSG sudah lama memburu takhta Eropa. Sejak kekalahan dari Bayern Munchen di final 2020, mereka membangun ulang skuad, memperkaya pengalaman, dan kini kembali ke final dengan ambisi yang lebih matang. Luis Enrique membawa filosofi tenang tapi tajam. Gol Ousmane Dembele di Emirates menjadi penentu arah, lalu Fabian Ruiz dan Hakimi memastikan langkah mereka di Paris. Tidak ada drama berlebihan, hanya eksekusi yang tepat. Lima tahun berselang, PSG kembali berdiri di titik yang sama. Namun, kali ini, mereka bukan lagi pendatang baru. Mereka datang sebagai penantang sejati, siap merebut trofi yang belum pernah mereka miliki.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya