Dedi Mulyadi Ngamuk ke Suporter: Hari Ini Subang Bukan Butuh Persikas tapi Sekolah yang Baik  

hobi atau kesenangan jangan sampai mengabaikan kebutuhan dasar diri sendiri maupun masyarakat luas yang sepatutnya lebih didahulukan.

oleh Dikdik RipaldiDiperbarui 29 Mei 2025, 19:59 WIB
Tangkapan layar video Dedi Mulyadi saat ngamuk pada sekelompok suporter di Subang, Rabu, 28 Mei 2025. (Humas Pemprov/Liputan6.com).

Liputan6.com, Bandung - Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, marah kepada suporter Persikas Subang. Dia mengatakan, sebagian dari mereka tak tahu adab dan tak berempati pada penderitaan rakyat. 

Momen itu terjadi saat acara Pemprov Jabar bertajuk Abdi Nagri Ngajang Ka Warga Edisi 9 di Kabupaten Subang, kemarin, 28 Mei 2025. Malam itu, sekelompok suporter tiba-tiba berteriak, menyanyikan yel-yel, serta membentangkan spanduk bertuliskan ‘Selamatkan Persikas’.

Acara rutin itu disiarkan langsung oleh Pemprov Jabar melalui siaran YouTube di Humas Jabar.

“Hei berhenti kamu! Duduk. Ini bukan forum Persikas, ini forum saya. Siapa kamu? Turunkan spanduknya. Turunkan! Hei, jangan so jago disini kamu, gak mikir kamu. Ini bukan forum Persikas, ini forum saya dengan rakyat. Minggir kamu. Punya otak kamu? Ngaku anak muda, ngaku berpendidikan, gak punya otak. Ini penderitaan rakyat, bukan urusan Persikas. Urusan Persikas bukan di sini, tapi di lapangan dan bukan urusan saya,” teriak Dedi dari atas panggung, dengan nada yang keras dan wajah geram.

Sikap sekelompok suporter itu dianggap mengganggu kekhusyukan acara. Terlebih, mereka berteriak ketika Dedi Mulyadi berbicara kepada seorang ibu empat anak yang bekerja sebagai pemulung botol mineral.

Diketahui, klub Persikas tengah diisukan bakal dibeli pihak lain, lalu berpindah markas dan menjadi Sumsel United. 

“Kalau nyampein Persikas mau diambil orang, itu bukan urusan saya. Saya pikir saya takut sama kalian? Kamu Persikas pindah ke mana pun tidak akan memengaruhi orang miskin untuk bisa makan. Orang Subang bukan butuh Persikas hari ini, orang Subang butuh jalan yang baik, butuh sekolah yang baik,” tegas Dedi Mulyadi.

Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi menyampaikan, hobi atau kesenangan jangan sampai mengabaikan kebutuhan dasar diri sendiri maupun masyarakat luas yang sepatutnya lebih didahulukan.

“Itu urusan kamu hobi dan kesenangan, tapi tidak boleh mengabaikan apa yang menjadi kebutuhan dasar bagi kepentingan masyarakat Subang. Ngelola sepakbola untuk (masuk) jadi liga 2, liga 1, itu perlu biaya besar, tidak bisa Pemda Subang pakai duit Pemda untuk ngurus main bola, duitnya enggak cukup,” katanya.

Tak Peduli Disebut Pemimpin Emosional

Setelah peristiwa tersebut, Dedi Mulyadi pun menyampaikan klarifikasi, menegaskan jika dirinya tengah memberikan pembelajaran kepada masyarakat. Dia mengatakan, tindakan sekelompok suporter demikian tidak beradab dan menunjukan sikap yang tak berempati pada penderitaan rakyat. 

“Saya malam itu marah karena ada sekelompok orang yang tidak memiliki adab dalam hidupnya. Di saat air mata jatuh karena rasa empati pada derita seorang ibu yang memiliki empat orang anak, dan membiayai anaknya hanya dengan memungut botol-botol bekas, tetapi anaknya bisa tumbuh dengan baik sementara suaminya menikah lagi dengan orang lain, ini malah berteriak yel-yel untuk menyelamatkan Persikas karena klubnya berpindah tempat dibeli oleh pihak lain, tentunya sikap ini adalah sikap yang tidak beradab,” katanya.

Video ketika Dedi Mulyadi mengamuk itupun jadi perhatian publik. Namun, ia tak risau jika kemarahannya itu jadi isu yang digiring, sehingga ia dicap sebagai pemimpin yang emosional.

Dedi mengatakan, lebih baik marah untuk memberikan pendidikan kepada rakyat ketimbang popularitas dan elektabilitas.

“Itu contoh orang yang terlalu mengendepankan ego untuk membela klubnya tetapi mengabaikan fakta derita warga di depan matanya. Semoga peristiwa itu jadi pembelajaran penting dan tentunya kemarahan saya akan di-framing jadi pemimpin yang emosional dan dibawa ke mana-mana, bagi saya itu tidak penting, dipersilakan saja, tapi mendidik rakyat bagi saya lebih penting daripada memikirkan popularitas dan elektabilitas,” pungkas Dedi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya