Liputan6.com, Jakarta - Ketua Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Budiyanto, menegaskan bahwa produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, dan kantong nikotin bukan ditujukan untuk remaja atau non-perokok.
Ia menyebut persepsi bahwa produk ini menjadi pintu masuk kebiasaan merokok justru tidak berdasar secara ilmiah.
Advertisement
"Penting bagi kita semua untuk membedakan antara persepsi dan fakta berbasis bukti ilmiah. Produk tembakau alternatif secara desain dan tujuan utamanya ditujukan untuk perokok dewasa yang ingin mencari opsi yang lebih rendah risiko dibandingkan rokok. Produk ini bukan untuk remaja atau non-perokok,” ujar Budiyanto dalam keterangannya, Rabu (28/5/2025).
Budiyanto menambahkan bahwa APVI telah bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk meneliti faktor risiko produk tembakau alternatif. Hasilnya menunjukkan bahwa produk tersebut memiliki profil risiko yang lebih rendah dibandingkan rokok, khususnya dari sisi kandungan zat berbahaya dan dampaknya terhadap sistem pernapasan.
“Namun tentu ini bukan berarti tanpa risiko, melainkan lebih rendah dan tetap harus digunakan secara bertanggung jawab,” katanya.
Hasil riset BRIN menguji kandungan sembilan zat berbahaya yang direkomendasikan untuk dibatasi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), seperti acetaldehyde, acrolein, benzene, benzo[a]pyrene, 1,3-butadiene, carbon monoxide (CO), formaldehyde, N-nitrosonornicotine (NNN), dan NNK. Sebagian besar dari zat tersebut bahkan tidak ditemukan dalam produk tembakau alternatif.
APVI, lanjut Budiyanto, akan memanfaatkan hasil riset tersebut sebagai bahan edukasi publik, khususnya bagi perokok dewasa yang sedang mencari cara efektif untuk berhenti merokok. Hasil riset ini juga akan disampaikan kepada pemerintah sebagai masukan dalam merumuskan kebijakan.
“Kami ingin memastikan bahwa hasil riset tidak berhenti sebagai dokumen akademik saja, tapi bisa menjadi masukan konkret bagi pemerintah dalam membentuk regulasi yang ideal, berbasis bukti ilmiah, dan berpihak pada kesehatan publik,” jelas Budiyanto.
Ia menekankan bahwa regulasi yang adil dan proporsional penting agar manfaat produk tembakau alternatif bisa dioptimalkan, tanpa mengabaikan perlindungan terhadap kelompok rentan seperti anak-anak dan non-perokok.
Studi Internasional: Rokok Elektronik Tak Sebabkan Anak Muda Merokok
Pernyataan Budiyanto diperkuat dengan hasil studi internasional berjudul Electronic cigarettes and subsequent cigarette smoking in young people: A systematic review yang dirilis Januari 2025. Studi tersebut menganalisis 123 penelitian dan melibatkan sekitar 4 juta responden berusia di bawah 29 tahun di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa Barat.
Salah satu peneliti, Jamie Hartmann-Boyce, dari University of Massachusetts Amherst, menyebutkan bahwa kekhawatiran rokok elektronik mendorong remaja untuk merokok tidak didukung data.
“Orang khawatir rokok elektronik membuat lebih banyak anak muda merokok. Tapi, hasil penelitian kami justru menunjukkan sebaliknya, rokok elektronik membantu menurunkan jumlah perokok muda, terutama di Amerika Serikat,” kata Jamie, dikutip.
Menurut studi tersebut, saat penggunaan rokok elektronik meningkat, prevalensi merokok justru menurun. Sebaliknya, ketika akses ke produk itu dibatasi, tingkat merokok cenderung naik. Meski demikian, tak semua studi menunjukkan pola yang sama.
“Sulit mengatakan bahwa rokok elektronik membuat banyak remaja di Amerika Serikat mulai merokok, karena datanya tidak mendukung itu,” imbuh Jamie.
Data dari CDC menunjukkan tren penurunan signifikan jumlah perokok remaja di AS, dari 15,8 persen pada 2011 menjadi hanya 1,7 persen pada 2024.
Sebelumnya, riset Jamie juga menemukan bahwa rokok elektronik efektif membantu perokok dewasa berhenti merokok. Produk ini bekerja dengan sistem pemanasan, bukan pembakaran seperti rokok konvensional, sehingga menghasilkan aerosol yang secara ilmiah memiliki risiko lebih rendah.