Cedera ACL Menghantui Olahragawan, Perlu Penangan Khusus Agar Tidak Jadi Disabilitas Lutut

Cedera ACL adalah robekan ligamen lutut yang menyebabkan disabilitas.

oleh Tim DisabilitasDiperbarui 26 Mei 2025, 14:30 WIB
Pemain Spanyol, Gavi, meringis kesakitan karena mengalami cedera lutut saat melawan Georgia pada kualifikasi Euro 2024 Grup A di Stadion Jose Zorrilla, Valladolid, Spanyol, Senin (20/11/2023). Menurut laporan media Spanyol, pemain Barcelona tersebut mengalami cedera ACL. (AFP/Cesar Manso)

Liputan6.com, Jakarta Cedera ACL adalah momok bagi setiap olahragawan. Tapi jangan anggap bila kita yang beraktivitas lebih ringan tidak bisa megalami cedera.  

Bila nyeri menusuk atau sensasi tidak stabil pada lutut saat beraktivitas sudah terasa, mungkin saja Anda mengalami cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL). ACL merupakan salah satu ligamen penting di lutut. Perannya krusial dalam menjaga stabilitas dan menunjang gerakan lincah.

Biasanya, cedera ACL terjadi katika seseorang melakukan gerakan memutar tiba-tiba, benturan keras saat berolahraga, atau bahkan terjatuh. Kondisi ini dapat sangat mengganggu kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari, bahkan berpotensi menyebabkan disabilitas jika tidak ditangani dengan tepat.

"Jika cedera ACL dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, dampaknya bisa meluas," ujar dr. Kisli Setiawan, Sp.OT seperti dikutip dari laman EMC, Senin (26/5/2025).

Cedera ACL dan Dampaknya pada Disabilitas

Ia pun kemudian mendapatkan pertolongan medis sembari ditandu ke luar lapangan pertandingan. Carvajal dipastikan mengalami cedera lutut ligamen ACL yang serius. (AFP/Oscar Del Pozo)

Ligamen ACL terletak di tengah lutut dan menghubungkan tulang paha (femur) dengan tulang kering (tibia). Fungsinya bagaikan tali yang mencegah tulang kering bergeser terlalu jauh ke depan terhadap tulang paha. Ketika ACL robek, stabilitas lutut terganggu, menyebabkan rasa sakit, pembengkakan, dan kesulitan bergerak, terutama saat berputar atau melakukan gerakan menyamping.

Jika cedera ACL dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, dampaknya bisa meluas. "Ketidakstabilan kronis pada lutut dapat meningkatkan risiko kerusakan pada struktur lain di dalam lutut, seperti meniskus dan tulang rawan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu perkembangan osteoarthritis dini pada lutut, yang berpotensi menyebabkan disabilitas," jelas dokter spesialis ortopedi & traumatologi yang berpraktik di RS EMC Grha Kedoya.

Penting untuk memahami bahwa cedera ACL bukan hanya masalah bagi atlet. Meskipun sering terjadi pada mereka yang aktif berolahraga, siapa pun dapat mengalami cedera ini akibat kecelakaan atau gerakan yang salah. Oleh karena itu, kesadaran akan gejala dan pilihan penanganan sangat penting untuk mencegah disabilitas akibat cedera ACL.

Mengenali Gejala Cedera ACL dan Pentingnya Diagnosis Dini

Gejala cedera ACL dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan robekan. ©Ilustrasi dibuat AI

Gejala cedera ACL dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan robekan. Beberapa gejala umum yang sering dialami meliputi:

  • Suara "pop" saat cedera terjadi
  • Nyeri hebat yang tiba-tiba
  • Pembengkakan yang cepat dalam beberapa jam setelah cedera
  • Ketidakstabilan lutut, terasa seperti lutut akan "lepas"
  • Kesulitan berjalan atau menumpu berat badan pada kaki yang cedera
  • Keterbatasan rentang gerak lutut

Diagnosis dini cedera ACL sangat penting untuk menentukan rencana penanganan yang tepat. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mengevaluasi stabilitas lutut dan rentang geraknya. Selain itu, pemeriksaan penunjang seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging) mungkin diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis dan melihat tingkat keparahan robekan ACL.

Semakin cepat cedera ACL didiagnosis dan ditangani, semakin besar peluang untuk memulihkan stabilitas lutut dan mencegah komplikasi jangka panjang yang dapat menyebabkan disabilitas.

Pilihan Penanganan Cedera ACL: Dari Konservatif hingga Operasi

Pemain andalan Tottenham Hotspur, Rodrigo Bentancur masih berkutat dengan cedera sejak akhir musim lalu. Gelandang berusia 26 tahun itu menjalani operasi menyusul cedera ACL yang dideritanya melawan Leicester dan bisa absen hingga November mendatang. (Photo by Geoff Caddick/AFP)

Pilihan penanganan cedera ACL tergantung pada beberapa faktor, termasuk tingkat keparahan robekan, tingkat aktivitas pasien, dan tujuan fungsionalnya. Penanganan konservatif, seperti terapi fisik dan penggunaan penyangga lutut, mungkin cukup untuk robekan parsial atau pada pasien yang tidak terlalu aktif.

Namun, untuk robekan total atau pada pasien yang ingin kembali berolahraga atau melakukan aktivitas berat, rekonstruksi ACL biasanya menjadi pilihan yang direkomendasikan. Rekonstruksi ACL adalah prosedur bedah yang bertujuan untuk mengganti ligamen ACL yang robek dengan jaringan pengganti (graft). Graft ini bisa berasal dari tendon pasien sendiri (autograft), seperti tendon patella atau hamstring, atau dari donor (allograft).

Menurut dr. Kisli Setiawan, Sp.OT, rekonstruksi ACL dapat menjadi harapan baru untuk lutut yang lebih stabil. "Tindakan rekonstruksi ACL bertujuan untuk mengganti ligamen ACL yang robek dengan jaringan pengganti (graft)," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya