Formula Kemenangan Barcelona yang Kini Mulai Terbaca Lawan

Sejarah menunjukkan bahwa kejayaan tak pernah abadi tanpa adaptasi. Barcelona sudah mulai mendapat perlawanan lebih dari lawan-lawannya. Formula lama, jika tak disempurnakan, bisa berubah jadi bumerang.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 21 Mei 2025, 13:33 WIB
Pelatih Barcelona, Hansi Flick saat memberikan instruksi dari pinggir lapangan bersama pemainnya Pau Cubarsi. (AP Photo/Joan Monfort)

Liputan6.com, Jakarta Era tiki-taka ala Josep Guardiola dulu terasa seperti sihir. Dunia butuh waktu bertahun-tahun untuk menemukan celah menghentikannya. Kini, Hansi Flick menghadirkan sensasi serupa bersama Barcelona.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa kejayaan tak pernah abadi tanpa adaptasi. Barcelona sudah mulai mendapat perlawanan lebih dari lawan-lawannya. Formula lama, jika tak disempurnakan, bisa berubah jadi bumerang.

Musim depan adalah ujian yang lebih berat. Mampukah Barcelona tetap melaju dengan gaya bermain yang sama atau justru tersandung karena terlalu percaya pada cara lama?


Ketika Lawan Mulai Menghafal Pola Barcelona

Penyerang Real Madrid, Vinicius Junior, berduel dengan winger Barcelona, Lamine Yamal, pada laga pekan ke-35 La Liga di Estadi Olimpic Lluis Companys, Minggu (11/5/2025) malam WIB. Dalam duel itu, El Real keok 3-4 dari El Barca. (AP Photo/Joan Monfort)

Villarreal memberi gambaran jelas betapa rentannya sistem Flick jika tak dalam performa maksimal. Bahkan dalam euforia juara, garis tipis antara dominasi dan kekalahan terlihat jelas. Gaya bermain menyerang memang menghibur, tapi juga penuh risiko.

Real Madrid mencium celah itu di empat laga El Clasico musim ini, sementara Inter Milan memperlihatkan cara mengalahkan Barca secara efektif di Liga Champions. Meski Barca sempat bangkit dua kali, Simone Inzaghi tahu kapan harus menghentikan pesta.

Barcelona memang mengandalkan momen ajaib untuk membalikkan keadaan. Namun, ketergantungan pada comeback bukan fondasi yang aman untuk mempertahankan gelar. Musim depan, semua lawan sudah lebih siap.


Tanpa Plan B, Barcelona Kesulitan

Pemain depan Barcelona asal Brasil #11, Raphinha, berbicara dengan gelandang Barcelona asal Spanyol #08, Pedri (Kanan), selama pertandingan liga Spanyol antara Sevilla FC dan FC Barcelona di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan di Seville, Senin dini hari WIB (9-2-2025). (CRISTINA QUICLER/AFP)

Satu hal yang mencolok dari Barcelona musim ini adalah mereka tidak punya rencana cadangan. Jika plan A gagal, mereka hanya memperkuat keyakinan pada sistem yang sama. Nyatanya, itu cukup untuk bertahan dalam situasi sulit.

Namun, pertanyaan muncul jika Pedri atau Lamine Yamal absen. Dua talenta muda ini menjadi nyawa permainan Barca. Ketika Pedri tak ada, ritme di lini tengah menghilang—terlepas dari siapa pun partner-nya.

Hal yang sama terlihat di lini depan. Tanpa Lamine, kedalaman sayap Barca terasa dangkal. Musim panjang dan padat tak bisa diselesaikan hanya dengan dua pemain kunci.


Masalah di Garis Pertahanan Barcelona

Bek Barcelona asal Spanyol Inigo Martinez Berridi (kanan) mencoba menahan penyerang Belgia Borussia Dortmund Julien Duranville selama pertandingan sepak bola Liga Champions UEFA antara Borussia Dortmund dan FC Barcelona di Dortmund, Jerman Barat pada 11 Desember 2024.INA FASSBENDER / AFP

Awal musim, jebakan offside Barcelona tampak nyaris sempurna. Lawan-lawan tampak kesulitan menembus garis pertahanan tinggi mereka. Namun, seiring berjalannya musim, celah mulai terbuka.

Energi pressing dari lini depan tak sekuat dulu. Sistem bertahan terasa seperti kompromi demi menyerang total. Saat pertahanan menjadi pilihan terakhir, lawan-lawan memanfaatkannya dengan cepat.

Lanjut Baca:

Jika dua bintang utama tak tersedia, siapa yang bisa menyelamatkan tim? Inilah momen di mana Flick harus menimbang ulang seluruh pendekatan taktisnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya