Menagih Janji Ange Postecoglou: Bisakah Spurs Akhiri Puasa Gelar?

Ange Postecoglou punya rekam jejak gemilang di musim keduanya sebagai pelatih. Dari Australia hingga Skotlandia, pria asal Yunani ini selalu membawa pulang trofi di tahun kedua kepemimpinannya.

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 21 Mei 2025, 09:37 WIB
Pelatih kepala Tottenham Hotspur keturunan Yunani-Australia, Ange Postecoglou, merayakan kemenangannya di akhir pertandingan leg kedua semifinal Liga Europa UEFA antara Bodoe/Glimt dan Tottenham Hotspur di Bodoe, Norwegia, Jumat dini hari WIB (9-5-2025). (Mats Torbergsen/NTB/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Ange Postecoglou punya rekam jejak gemilang di musim keduanya sebagai pelatih. Dari Australia hingga Skotlandia, pria asal Yunani ini selalu membawa pulang trofi di tahun kedua kepemimpinannya.

Kini, tantangan terberatnya ada di Tottenham Hotspur. Dengan performa buruk di Premier League, final Liga Europa melawan Manchester United menjadi satu-satunya kesempatan untuk memenuhi janjinya.

Kamis 22 Mei 2025 dini hari WIB, final UEL 2024/2025 Tottenham vs Man United akan dimainkan di San Mames, Bilbao. Hanya ada satu tim yang keluar sebagai pemenang, dan Ange Postecoglou harus menjawab tantangan besar.


Rekam Jejak Ajaib di Musim Kedua

Pelatih Kepala Tottenham Hotspur keturunan Yunani-Australia Ange Postecoglou memberi selamat kepada gelandang Tottenham Hotspur asal Swedia Dejan Kulusevski setelah pertandingan sepak bola tahap Liga Europa UEFA antara Tottenham Hotspur dan Tottenham Hotspur di Stadion Tottenham Hotspur di London, pada 26 September 2024. Tottenham memenangkan pertandingan dengan skor 3-0. Glyn KIRK / AFP

Ange Postecoglou bukan sekadar omong kosong ketika menyatakan dirinya selalu menang di musim kedua. Fakta berbicara: Ia menjuarai liga dengan Brisbane Roar (2011), Yokohama F. Marinos (2019), Celtic (2023), dan bahkan Piala Asia bersama Australia (2015).

Kunci kesuksesannya adalah transformasi taktis dan mental. Di Brisbane, ia mengubah tim juru kunci menjadi juara dengan permainan menekan dan umpan cepat. Pola serupa ia terapkan di Yokohama, membawa Marinos keluar dari zona degradasi dan menjadi juara J-League.

Kini, Spurs sedang dalam proses serupa. Meski liga berantakan, Postecoglou tetap yakin timnya bisa menang di Europa League. "Saya tidak bicara jika tidak percaya," tegasnya.


Tantangan Terberat: Lawan MU di Final Europa

Pemain Tottenham Hotspur, Son Heung-min (kanan) berusaha melepaskan diri dari penjagaan pemain Manchester United pada laga perempat final Carabao Cup 2024/2025 di Tottenham Hotspur Stadium, London, Jumat (20/12/2024). (AFP/Ben Stansall)

Manchester United bukan lawan mudah. Spurs sudah tiga kali mengalahkan MU musim ini, tetapi final adalah cerita berbeda. Ruben Amorim akan membawa timnya dengan mental juara, sementara Spurs harus bermain tanpa beberapa pilar seperti James Maddison dan Dejan Kulusevski.

Postecoglou diperkirakan akan mengandalkan kecepatan Son Heung-min dan ketangguhan fisik Dominic Solanke. Strategi umpan silang dan serangan balik bisa menjadi senjata ampuh melawan lini belakang MU yang kerap goyah.

Namun, pertahanan Spurs sendiri rentan. Tanpa Micky van de Ven yang cedera, bek muda seperti Radu Dragusin harus tampil sempurna untuk menahan serangan Rasmus Hojlund dan Alejandro Garnacho.


Mentalitas Juara Khas Ange Postecoglou

Pelatih Tottenham, Ange Postecoglou, berbicara dalam konferensi pers setelah pertandingan semifinal Liga Europa antara Bodo/Glimt dan Tottenham di Aspmyra Stadium, Norwegia, Kamis, 8 Mei 2025. (Mats Torbergsen/NTB via AP)

Salah satu keunggulan Postecoglou adalah kemampuannya memompa semangat pemain. Sebelum semifinal, ia menggunakan kisah "Stonecutter’s Credo" tentang pentingnya konsistensi. Pesannya sederhana: Terus pukul batu, sampai akhirnya pecah.

Pemain seperti Son dan Cristian Romero menjadi motor motivasi di lapangan. Bahkan, Son mengajak seluruh skuad makan malam di restoran Korea untuk mempererat chemistry tim.

Jika Spurs menang, ini akan menjadi trofi pertama mereka sejak 2008. Jika kalah, musim ini akan dikenang sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah klub.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya