Babylonia, Kota Yang (Hampir) Dilupakan

Kota kuno Babylonia pernah menjadi simbol ketinggian peradaban manusia. Namun, kota dengan banyak peninggalan sejarahnya itu nyaris hilang dibalik embargo ekonomi terhadap Irak.

oleh Liputan6Diterbitkan 07 Januari 2001, 09:19 WIB
Liputan6.com, Babylonia: Embargo ekonomi telah menyebabkan berkurangnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Irak, termasuk ke Kota Babylonia. Padahal, banyak hal penting dan menarik yang dapat ditemui di kota tua yang terletak sekitar satu jam perjalanan darat dari Baghdad itu.

Babilonia diyakini sebagai kota tertua di dunia yang terkenal dengan keindahannya. Tidak ada yang tahu pasti kapan kota itu berdiri. Sebagian kalangan menyebut, kota itu sebagai peninggalan Dinasti Babylonia Lama yang diperbaharui kembali oleh Raja Nebuchadnezzar dari Dinasti Neo-Babylonia.

Pendapat itu diperkuat dengan Hanging Garden atau taman gantung di Baylonia yang dibangun oleh Nebuchadnezzar untuk permaisurinya, Amites. Taman itu terletak berseberangan dengan patung Singa Babylon, simbol penjaga kota di zaman Nebuchadnezzar.

Namun, di zaman Kerajaan Sumeria tahun 4500 hingga 2000 Sebelum Masehi, Babylonia dikenal dengan nama Kadinyirra yang berarti "Gerbang Tuhan". Menara Babel, simbol keangkuhan manusia juga diyakini berada di Babylonia. Menara yang muncul pada masa Kerajaan Sumeria itu bahkan tercantum dalam kitab suci sebagai penyebab kemurkaan Tuhan terhadap umat manusia.

Jalan terpenting di Babylonia dinamakan Jalan Prosesi. Jalan yang panjangnya lebih dari 2,5 kilometer itu menghubungkan banyak tempat di Kompleks Babylonia. Di antaranya Gerbang Ishtar, Istana, Menara Babilon serta Jembatan. Selain itu, masih ada Kuil Ninmakh yang diekskavasi pada tahun 1900 dan dibangun kembali pada tahun 1958. Kuil itu adalah kuil persembahan bagi ibu para dewi.

Kompleks Kota Raja di Babylonia yang luasnya mencapai 21 kilometer persegi kini telah direstorasi. Di antaranya, Istana di dekat Sungai Efrat yang luasnya mencapai 52 ribu meter persegi. Bagian selatan istana ini masih berfungsi hingga dua abad sebelum Masehi untuk berbagai kegiatan hukum dan administatif kerajaan.

Setelah Kerajaan Sumeria hancur pada tahun 1700 SM, rakyat di wilayah itu disatukan oleh Raja Hammurabi. Sayangnya, tim arkeologi belum berhasil mengekskavasi Ziggurat, bangunan tertinggi di Babilonia. Bangunan yang terdiri dari tujuh tingkat dan tiga tangga ini disebut juga Etemenanki. Artinya, lambang perantara surga dan bumi. Masih ada sejumlah peninggalan bersejarah di kota ini yang belum terjamah.(HFS/Tri Ambarwatie dan Teguh Rahardjo)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya