Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah naik tipis pada perdagangan hari Senin karena tanda-tanda kegagalan perundingan Amerika Serikat (AS) dengan Iran mengenai program nuklir. Penguatan harga minyak mentah tak begitu besar karena adanya tekanan dari penurunan peringkat kredit AS oleh Moody's.
Mengutip CNBC, Selasa (20/5/2025), harga minyak mentah Brent naik 13 sen, atau 0,2% ditutup pada USD 65,54 per barel, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 20 sen atau 0,32%, ditutup pada USD 62,69 per barel.
Advertisement
Kedua kontrak minyak mentah ini naik lebih dari 1% minggu lalu.
Perundingan nuklir antara Iran dan AS tidak akan menghasilkan apa-apa karena Pemerintahan Washington bersikeras agar Teheran menghentikan aktivitas pengayaan uranium. Hal ini ditulis oleh media pemerintah Iran mengutip pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Majid Takht-Ravanchi pada hari Senin.
Analis StoneX Alex Hodes mengatakan, pernyataan itu merusak harapan akan tercapainya kesepakatan antara kedua pihak, yang akan membuka jalan bagi pelonggaran sanksi AS dan memungkinkan Iran untuk meningkatkan ekspor minyak sebesar 300.000 hingga 400.000 barel per hari.
“Peningkatan potensial itu tampaknya sangat tidak mungkin sekarang,” katanya.
Peringkat AS
Namun, harga minyak berada di bawah tekanan dari penurunan peringkat kredit negara AS oleh Moody's, yang menimbulkan pertanyaan tentang kesehatan ekonomi negara konsumen minyak terbesar di dunia, serta data yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan produksi industri dan penjualan eceran di Tiongkok, importir minyak terbesar.
“Data China yang lebih lemah dari perkiraan tidak membantu minyak mentah, meskipun saya akan menggambarkan kemunduran itu sebagai hal yang sederhana,” kata analis UBS Giovanni Staunovo.
Tekanan pada pasar minyak bertambah dengan komentar dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang mengatakan bahwa Presiden Donald Trump akan mengenakan tarif pada tingkat yang diancamkannya bulan lalu pada mitra dagang yang tidak bernegosiasi dengan "itikad baik."
Analis Again Capital New York John Kilduff menambahkan, harga minyak kemungkinan akan tetap bergejolak di masa mendatang karena investor mencari informasi terbaru tentang tarif, negosiasi AS-Iran, dan pembicaraan untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Konflik Rusia-Ukraina
Presiden Rusia Vladimir Putin, setelah menelepon Trump pada hari Senin, mengatakan bahwa Moskow siap bekerja sama dengan Ukraina untuk membuat nota kesepahaman tentang perjanjian damai di masa mendatang dan bahwa upaya untuk mengakhiri perang berada di jalur yang benar.
"Berakhirnya perang itu akan memungkinkan ekspor minyak Rusia yang lebih tinggi dan kemungkinan akan mendorong harga minyak mentah turun tajam," kata Kilduff.