Dalam foto yang diambil pada 27 April 2025 ini, seorang anak laki-laki mengisi tangki air minumnya dari sebuah pompa di pinggiran kota Kabul, Afghanistan. (Wakil KOHSAR/AFP)
Kabul, Ibu kota Afghanistan, menghadapi kekeringan parah yang disebabkan oleh urbanisasi yang tak terkendali dan cepat akibat konflik dan perubahan iklim. (Wakil KOHSAR/AFP)
Penduduk Kabul harus mengangkut air dengan jeriken-jeriken besar dari sumur atau membeli dari truk pengangkut dengan harga setidaknya lebih mahal dua kali lipat dari perusahaan air minum milik negara. (Wakil KOHSAR/AFP)
Di Kabul, harga air bersih semakin mahal ketika kota ini berjuang untuk memerangi krisis air. Sementara, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 85 persen penduduk Kabul hidup dengan pendapatan kurang dari satu dolar per hari. (Wakil KOHSAR/AFP)
Di sisi lain, sebuah laporan dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Development Programme/UNDP) Afghanistan yang dirilis pada Maret 2024 menyebutkan sekitar 79 persen populasi di Afghanistan kesulitan dalam mengakses air minum. (Wakil KOHSAR/AFP)
Laporan tersebut juga menyatakan bahwa kondisi kekeringan yang parah, ketidakstabilan ekonomi, dan berbagai dampak dari konflik berkepanjangan yang secara signifikan melemahkan infrastruktur air di Afghanistan. (Wakil KOHSAR/AFP)
Krisis berdampak lebih besar terhadap rumah tangga yang menghadapi hambatan tambahan sekaligus memperparah kerentanan warga Kabul dalam mengakses fasilitas air publik. (Wakil KOHSAR/AFP)