Konflik dan Perubahan Iklim Perparah Krisis Air Minum di Kabul Afghanistan

oleh Helmi FithriansyahDiterbitkan 17 Mei 2025, 12:05 WIB
Konflik dan Perubahan Iklim Perparah Krisis Air Minum di Kabul Afghanistan
Kabul, Ibu kota Afghanistan, menghadapi kekeringan dan krisis air minum. Urbanisasi yang tak terkendali dan cepat akibat konflik serta perubahan iklim semakin memperparah krisis air minum di kota tersebut. Penduduk Kabul harus mengangkut air dengan jeriken-jeriken besar dari sumur atau membeli dari truk pengangkut dengan harga setidaknya lebih mahal dua kali lipat dari perusahaan air minum milik negara. Di Kabul, harga air bersih semakin mahal. Sementara, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 85 persen penduduk Kabul hidup dengan pendapatan kurang dari satu dolar per hari. Di sisi lain, sebuah laporan dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Development Programme/UNDP) Afghanistan yang dirilis pada Maret 2024 menyebutkan sekitar 79 persen populasi di Afghanistan kesulitan dalam mengakses air minum. Laporan tersebut juga menyatakan bahwa kondisi kekeringan yang parah, ketidakstabilan ekonomi, dan berbagai dampak dari konflik berkepanjangan yang secara signifikan melemahkan infrastruktur air di Afghanistan.
Dalam foto yang diambil pada 27 April 2025 ini, seorang anak laki-laki mengisi tangki air minumnya dari sebuah pompa di pinggiran kota Kabul, Afghanistan. (Wakil KOHSAR/AFP)
Kabul, Ibu kota Afghanistan, menghadapi kekeringan parah yang disebabkan oleh urbanisasi yang tak terkendali dan cepat akibat konflik dan perubahan iklim. (Wakil KOHSAR/AFP)
Penduduk Kabul harus mengangkut air dengan jeriken-jeriken besar dari sumur atau membeli dari truk pengangkut dengan harga setidaknya lebih mahal dua kali lipat dari perusahaan air minum milik negara. (Wakil KOHSAR/AFP)
Di Kabul, harga air bersih semakin mahal ketika kota ini berjuang untuk memerangi krisis air. Sementara, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 85 persen penduduk Kabul hidup dengan pendapatan kurang dari satu dolar per hari. (Wakil KOHSAR/AFP)
Di sisi lain, sebuah laporan dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Development Programme/UNDP) Afghanistan yang dirilis pada Maret 2024 menyebutkan sekitar 79 persen populasi di Afghanistan kesulitan dalam mengakses air minum. (Wakil KOHSAR/AFP)
Laporan tersebut juga menyatakan bahwa kondisi kekeringan yang parah, ketidakstabilan ekonomi, dan berbagai dampak dari konflik berkepanjangan yang secara signifikan melemahkan infrastruktur air di Afghanistan. (Wakil KOHSAR/AFP)
Krisis berdampak lebih besar terhadap rumah tangga yang menghadapi hambatan tambahan sekaligus memperparah kerentanan warga Kabul dalam mengakses fasilitas air publik. (Wakil KOHSAR/AFP)

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya