Waspada, Ini yang Bisa Terjadi pada Kulit Wajah Anda Saat Stres

Stres bukan hanya memengaruhi pikiran, tapi juga berdampak langsung pada kondisi kulit wajah.

oleh Yulia LisnawatiDiterbitkan 17 Mei 2025, 10:02 WIB
Waspada, Ini yang Bisa Terjadi pada Kulit Wajah Anda Saat Stres - (FOTO: Unsplash/feehcosta).

Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah Anda merasa wajah terlihat lebih lelah, bengkak, atau kusam saat sedang stres? Ini bukan perasaan semata, kulitmu memang bisa menunjukkan tanda-tanda stres yang dialami tubuh.

Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan istilah “wajah kortisol,” tren yang menghubungkan hormon stres dengan perubahan penampilan wajah.

Namun, seberapa kuat klaim ini? Ketahui penjelasannya berikut ini, seperti melansir dari Bright Side, Jumat (16/5/2025).

Ketika Stres Terlihat di Wajah

Stres bukan hanya memengaruhi pikiran, tapi juga berdampak langsung pada kondisi kulit wajah. Saat tubuh berada di bawah tekanan, hormon kortisol---yang dikenal sebagai hormon stres---dilepaskan dalam jumlah lebih tinggi. 

Hormon ini bisa membuat kulit lebih sensitif, berjerawat, atau kehilangan kilau alaminya. Selain itu, stres sering kali dapat menyebabkan kebiasaan buruk, seperti mengatupkan rahang atau menggigit bibir dan itu juga meninggalkan bekas pada wajah.

Salah satu gejala yang sedang ramai dibicarakan adalah wajah yang tampak membengkak atau membulat---fenomena yang dikenal dengan sebutan “wajah kortisol.”

Kortisol Penting Tapi Perlu dikendalikan

Ilustrasi Melembapkan Kulit Wajah Credit: unsplash.com/Marine

Kortisol dikenal sebagai hormon stres. Dan meskipun kedengarannya negatif, sebenarnya penting. Hormon ini mengatur metabolismemu, merespons infeksi, hingga membantu tubuh pulih dari cedera atau stres berat. 

Namun, jika kadar kortisol terlalu tinggi dalam waktu lama akibat stres kronis, kurang tidur, atau pola hidup tidak sehat, maka tubuh akan memberi sinyal, termasuk lewat kondisi kulit. 

Hasilnya bisa berupa kelelahan ekstrem, kecemasan, masalah pencernaan, hingga perubahan fisik pada wajah.

Ia bekerja seperti jam internal, bangun di pagi hari untuk membuat Anda beraktivitas dan tidur di malam hari agar Anda dapat beristirahat. Namun, jika ritme alami itu terganggu oleh stres kronis, insomnia, atau kebiasaan buruk, tubuh Anda akan merasakannya: kelelahan, perubahan kulit, kecemasan, masalah pencernaan, dan banyak lagi.

 

Penyebab Kortisol Meningkat

Ilustrasi oleh Unsplash.

Kadar kortisol Anda dapat meningkat karena berbagai alasan, mulai dari tekanan hidup sehari-hari, infeksi, hingga kondisi medis tertentu.

Dalam kasus ekstrem, kadar kortisol yang terus-menerus tinggi bisa menandakan sindrom Cushing, kondisi langka yang menyebabkan penumpukan lemak di wajah, leher dan perut. 

Ada pula pseudo-Cushing, kondisi yang menyerupai gejala Cushing tetapi disebabkan oleh gaya hidup—seperti depresi, kekurangan gizi, atau penggunaan obat steroid dalam jangka panjang.

 

Tisp untuk Mengurangi Dampak Stres di Wajah

Pori-pori wajah yang membesar sering kali mengganggu penampilan, ketahui penyebab dan cara mengecilkannya. (Foto: Unsplash.com/Park Street).

Untuk mengurangi efek stres pada kulit dan mencegah “wajah kortisol,” berikut beberapa langkah mudah yang bisa Anda coba:

  • Pijat Wajah dengan Gua Sha

Teknik tradisional ini dipercaya membantu memperlancar aliran limfa dan mengurangi pembengkakan wajah.

  • Kurangi Makanan Olahan dan Asin

Makanan tinggi garam bisa memicu retensi cairan dan memperparah pembengkakan wajah.

  • Kelola Stres Secara Sehat

Meditasi, pernapasan dalam, dan hubungan sosial yang baik sangat membantu menstabilkan kadar kortisol.

  • Tidur Cukup dan Berkualitas

Ritme tidur yang teratur membantu tubuh mengatur hormon dengan lebih baik. 

Infografis Sampah Kemasan Produk Kecantikan. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya