Indofarma Tekan Rugi jadi Rp 25,11 Miliar di Kuartal I 2025

PT Indofarma Tbk (INAF) mencatatkan penurunan rugi bersih pada kuartal I 2025 meskipun pendapatan juga mengalami kontraksi

oleh Pipit Ika RamadhaniDiterbitkan 16 Mei 2025, 10:14 WIB
Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG menguat 0,34 persen atau 21 poin ke level 6.296 pada penutupan perdagangan Senin (13/1) sore ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta PT Indofarma Tbk (INAF) mencatatkan penurunan rugi bersih pada kuartal I 2025 meskipun pendapatan juga mengalami kontraksi. Perseroan membukukan penjualan sebesar Rp 36,76 miliar, turun 15,76% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 43,64 miliar.

Penurunan ini terjadi seiring dengan tantangan yang masih membayangi sektor farmasi, baik dari sisi permintaan maupun efisiensi rantai pasok.

Di sisi lain, beban pokok penjualan turun menjadi Rp 42,37 miliar dari Rp 43,34 miliar. Meski demikian, penurunan ini belum mampu menutup penurunan penjualan, sehingga Indofarma mencatatkan rugi kotor sebesar Rp 5,6 miliar. Sebagai perbandingan, pada kuartal I 2024, perseroan masih mampu membukukan laba kotor Rp 290,75 juta.

Salah satu catatan positif datang dari pos beban keuangan yang berhasil ditekan menjadi nol, dibandingkan kuartal I 2024 yang mencapai Rp 9,92 miliar. Dengan efisiensi tersebut, rugi sebelum pajak berhasil ditekan signifikan menjadi Rp 25,44 miliar, dari Rp 54,22 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

 

Efisiensi Beban dan Neraca yang Mulai Membaik

Kebijakan buyback saham merupakan pelaksanaan pembelian kembali saham yang dikeluarkan oleh perusahaan terbuka dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Setelah memperhitungkan pajak penghasilan, rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 25,11 miliar. Angka ini lebih baik dari rugi Rp 53,94 miliar pada kuartal I 2024, yang menunjukkan perbaikan signifikan meskipun perseroan masih membukukan kerugian.

Dari sisi neraca, total aset Indofarma per Maret 2025 turun menjadi Rp 574,08 miliar, dari Rp 618,16 miliar pada akhir Desember 2024. Sementara itu, liabilitas berhasil ditekan menjadi Rp 1,36 triliun dari sebelumnya Rp 1,76 triliun.

 

Perusahaan Farmasi Tertua di Indonesia

Logo PT Indonesia Farma Tbk atau disingkat PT Indofarma Tbk (Dok INAF)

Indofarma merupakan salah satu perusahaan farmasi tertua di Indonesia, yang telah berdiri sejak 1918 dan menjadi bagian dari holding BUMN Farmasi di bawah PT Bio Farma (Persero). Perseroan memproduksi dan mendistribusikan berbagai produk farmasi, alat kesehatan, hingga produk herbal.

Beberapa tahun terakhir, Indofarma menghadapi tantangan keuangan yang signifikan, termasuk tekanan likuiditas dan persoalan tata kelola. Pada 2023, Kementerian BUMN melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan anak usaha Bio Farma tersebut, termasuk mendukung langkah-langkah restrukturisasi bisnis dan keuangan.

Sejumlah upaya telah dilakukan, mulai dari perbaikan sistem manajemen internal, audit keuangan, hingga penguatan lini produksi dan distribusi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya