Liputan6.com, Jakarta - Melakukan facial kerap menjadi salah satu cara untuk mengatasi kulit kusam dan kasar. Cara ini dapat membersihkan kulit wajah hingga mengeksfoliasi sel-sel kulit mati. Namun, seberapa sering facial bisa dilakukan?
Menurut dr. Ahmad Haykal A.R.B, SpDVE, M.Kes, FINSDV, dokter spesialis kulit dan kelamin dari Amala Clinic, kulit manusia pada dasarnya memiliki kemampuan regenerasi alami.
Advertisement
“Penggantian sel kulit atau proses eksfoliasi seharusnya terjadi setiap 28 hari. Jadi sebenarnya idealnya facial dilakukan sebulan sekali,” ujarnya di Jakarta, Kamis (8/5).
Namun, bukan berarti kita tak boleh facial lebih cepat dari itu untuk mendapatkan kulit sehat.
“Kalau aktivitas kita banyak di luar ruangan, terpapar matahari, debu, atau polusi, maka kulit akan lebih cepat mengalami penumpukan sel kulit mati. Dalam kondisi seperti ini, facial bisa dilakukan lebih cepat, misalnya dua minggu sekali,” lanjut dr. Haykal.
Hal penting yang perlu digarisbawahi, menurutnya, adalah pemilihan teknologi facial yang tepat.
“Facial yang asal-asalan, yang hanya fokus pada pengelupasan kasar tanpa teknologi dan bahan yang aman, justru bisa merusak skin barrier.”
Kapan Kulit Wajah Perlu Facial?
Ada tanda-tanda khusus yang bisa diamati sebagai sinyal bahwa kulit butuh bantuan profesional.
“Misalnya kulit terasa lebih kasar, terlihat kusam, atau skincare yang biasa dipakai terasa tidak efektif. Itu indikasi bahwa proses regenerasi alami kulit tidak berjalan optimal dan perlu dibantu dengan facial,” jelas dr. Haykal.
Painless Facial, Facial Tanpa Nyeri
Perkembangan teknologi memungkinkan perawatan kecantikan tanpa menimbulkan rasa nyeri (painless facial). Menggunakan berlian, teknologi diamond glow pada painless facial mengkombinasikan eksfoliasi, infus serum, serta vakum dalam satu langkah perawatan.
Adapun perbedaan utama antara painless facial dengan facial seperti mikrodermabrasi atau hidrodermabrasi menurut dr Haykal terletak pada keamanan, efektivitas, dan adaptasinya terhadap berbagai kondisi kulit. Metode facial konvensional seperti mikrodermabrasi kerap kali tidak cocok untuk kulit yang sedang dalam kondisi berjerawat. Ini karena tekanan alat mikrodermabrasi bisa menimbulkan iritasi atau bahkan luka.
Sebaliknya painless facial menggunakan teknologi yang memungkinkan kontrol kedalaman dengan lebih presisi, maksimal hanya 35 mikro. dengan demikian terhindar dari risiko kulit tergores terlalu dalam.
Komponen diamond tip disterilkan dengan metode autoclave, standar medis yang umumnya tidak tersedia pada alat facial biasa.
"Teknologi ini menggunakan diamond tip yang bekerja seperti vakum. Saat menyentuh kulit, ia langsung mengangkat permukaan kulit ke atas tanpa tekanan, lalu terjadi eksfoliasi halus yang aman," jelas National Sales Manager Redo Marketing Indonesia Vanda Wulandari.
Hasil Facial Bisa Langsung Terlihat
"Pada saat yang sama, serum aktif dimasukkan ke dalam lapisan kulit melalui pori-pori yang melebar karena vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah), sehingga penyerapan nutrisinya jadi lebih optimal.”
Hasil facial dapat langsung terlihat dalam satu sesi. Vanda mengatakan, kulit akan langsung terasa halus, bersih, dan lebih bercahaya selepas treatment.
"Bahkan bagian hidung yang biasanya penuh komedo bisa langsung terasa berbeda," ujarnya.
Sementara treatment menggunakan teknologi ini pada kulit berjerawat, dr. Haykal menyarankan sesi facial lebih intensif.
“Empat sesi facial dengan jarak dua minggu sekali bisa menunjukkan hasil signifikan, sampai 50% perbaikan jika pasien patuh menjaga pola hidup sehat.”