Ketika Tawuran Jakarta Dianggap Tradisi: Budayawan Angkat Suara

Dalam pandangan Yahya, label tawuran sebagai budaya merupakan bentuk kekeliruan berpikir yang justru mengaburkan akar persoalan.

oleh Ady AnugrahadiDiperbarui 14 Mei 2025, 15:16 WIB
Penumpang menunggu bus di Halte Transjakarta Pasar Rumput, Manggarai, Jakarta, Minggu (3/2). Tawuran antarwarga menyebabkan Halte Transjakarta Pasar Rumput rusak akibat terkena lemparan batu. (Merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) yang juga sebagai Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra menilai tawuran yang marak terjadi di berbagai wilayah bukanlah bentuk dari budaya yang melekat dalam masyarakat. Menurut dia, tawuran berawal masalah personal yang meluas karena provokasi lingkungan sekitar.

"Tawuran ya tawuran, enggak ada unsur geser-menggeser makna (budaya pamer di sosmed). Itu urusan ketersinggungan dan dendam satu orang kepada orang laen," kata dia saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (14/5/2025).

Menurut Yahya, pemicu tawuran kerap kali berawal dari hal-hal sepele, bahkan tak jelas asal-usulnya. Namun, persoalan tersebut malah berkembang menjadi konflik kelompok karena adanya solidaritas sosial yang salah arah.

"Ketersinggungan ini diawali hal sapele atau enggak tau asal-muasalnya. Tiba-tiba saling bersitegang," ujar dia.

Dalam pandangan Yahya, label tawuran sebagai budaya merupakan bentuk kekeliruan berpikir yang justru mengaburkan akar persoalan.

"Urusan pribadi yang melibatkan orang deket. Orang deket memprovokasi menjadi urusan bersama, urusan ketersinggungan dan harga diri orang sekampung. Urusan pribadi dibawa jadi urusan kelompok/kampung dll. Karena menahun, maka dianggap budaya. Itu konyol, bukan budaya," ujar dia.

Yahya menekankan pentingnya peran tokoh masyarakat, ketua RT/RW, atau bahkan untuk mencegah tawuran sekaligus membantu menciptakan lingkungan yang aman dan damai.

"Banyak lingkungan yang sangat heterogen malah rukun damai sentosa. Ya tentu saja lingkungan dan dedengkotnya punya peran penting bagi hidup rukun, tak terganggu dengan latar belakang SARA. Dedengkot punya peran penting mengedukasi masyarakat untuk hidup rukun," tandas dia.

Ekonomi Jadi Penyebab Tawuran di Jakarta

Gubernur Jakarta Pramono Anung mengaku sudah mempelajari substansi dari seringnya tawuran di Jakarta. Menurut dia, salah satu masalahnya dikarenakan faktor ekonomi. 

Pramono mengamati, mereka yang terlibat umumnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Selain itu, faktor tempat tinggal yang tidak memiliki fasilitas umum turut ambil bagian dari maraknya insiden tawuran.

"Secara substansi, karena saya sudah mempelajari, salah satu faktor adalah ketidakberuntungan banyak anak-anak di sana mohon maaf belum punya pekerjaan tetap," ungkap Pramono.

"Kemudian ada sarana olahraga dan sarana-sarana lain yang tidak termanfaatkan secara baik," imbuhnya.

Sebagai gubernur Jakarta, Pramono berjanji akan bertanggung jawab untuk memperbaiki permasalahan warga kotanya yang kerap tawuran.

"Pokoknya sebagai gubernur Jakarta, saya nggak mau ngomongin tempat lain. Tetapi saya bertanggung jawab terhadap warga Jakarta untuk memperbaiki itu," janji dia.

Sementara itu, sambung Pramono, salah satu cara yang akan ditempuh adalah membuat pendekatan khusus melalui kultural dan sisi keagamaanya. Dia berharap dengan dua langkah itu, maka para pelaku tawuran bisa berperilaku lebih baik.

"Sehingga dengan demikian ada pedekatan kultural, keagamaan, orang dihargai," Pramono menandasi.

Infografis

Aksi penganiayaan terus bertambah (liputan6.com/abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya