BGN Nonaktifkan Dapur Makan Bergizi Gratis di Bogor Pasca Kasus Keracunan

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan pihaknya telah menonaktifkan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), usai 214 siswa di Bogor mengalami keracunan.

oleh Lizsa EgehamDiperbarui 13 Mei 2025, 18:15 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana. (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Liputan6.com, Jakarta Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengatakan pihaknya telah menonaktifkan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), usai 214 siswa di Bogor mengalami keracunan.

Dia memastikan BGN melakukan evaluasi mendasar agar kejadian tersebut tak terulang kembali.

"BGN melakukan evaluasi mendasar. Sementara (dapur MBG di Bogor) non aktif," jelas Dadan kepada Liputan6.com, Selasa (13/5/2025).

Senada, Deputi Bidang Sistem Tata Kelola BGN Tigor Pangaribuan menegaskan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut dinonaktifkan sementara sembari menunggu hasil evaluasi.

"SPPG dinonaktifkan sementara sambil menunggu evaluasi mendasar dan menyeluruh di SPPG tersebut," ungkap dia.

Sebelumnya, keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan siswa di Kota Bogor disebabkan bakteri Salmonella Typhosa dan E Coll.

Hal tersebut berdasarkan pemeriksaan Labkesda Kota Bogor terhadap sampel sisa makanan mulai dari nasi, tumis toge dan tahu serta telur ceplok saus barbeque.

"Tadi pagi pemeriksaan sampel dari Labkesda Kota Bogor keluar. Hasilnya ada kandungan bakteri E Coli dari sampel telur ceplok saus barbeque. Untuk bakteri Salmonella ada di tumis toge dan tahu," terang Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, Senin (12/5/2025).

Hingga saat ini, pihaknya masih menunggu hasil sampel lainnya seperti air minum dan muntahan siswa yang kena gejala keracunan MBG dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bosowa Bina Insani.

"Untuk pemeriksaan sampel lainnya seperti air minum dan muntahan dari tubuh siswa, hasilnya baru keluar sore ini.

Berdasarkan kesimpulan sementara bahwa telah terjadi pendistribusian makanan yang mengandung bakteri E Coli dan Salmonella oleh SPPG tersebut.

 

Memperketat SOP

Untuk ia meminta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperketat standar operasional prosedur (SOP) dan pengawasan terhadap penyediaan MBG di setiap SPPG. Hal ini agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

"Jangan kemudian dianggap sepel. Ini betul-betul sesuatu kejadian serius, karena menyangkut anak-anak," ujar Dedie.

Sementara itu, jumlah korban keracunan MBG terus bertambah, yang kini mencapai 213 siswa. Dari jumlah tersebut 12 orang diantaranya masih menjalani perawatan di rumah sakit.

"Tapi kondisi pasien berangsur membaik. Memang mereka masih mengeluh lemas, mual, dan pusing," kata dia.

Momentum Evaluasi MBG

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN Eddy Soeparno merespons kasus keracunan Siswa di Kota Bogor yang diduga akibat makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sebelumnya diberitakan, sebanyak 36 siswa SD dan SMP di Tanah Sareal, Kota Bogor mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan program MBG yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bina Insani Tanah Sareal. Sampai hari ini, Sabtu (10/5), total siswa yang mengalami keracunan terus bertambah hingga mencapai 171 orang.

Menurut Eddy, kasus di Bogor dan juga sebelumnya di Cianjur menjadi momentum evaluasi untuk memperkuat dan meningkatkan perbaikan bagi pelaksanaan program MBG ke depannya.

"Insiden di Bogor dan sebelumnya Cianjur ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa upaya baik tersebut perlu terus dibarengi dengan penguatan sistem pelaksanaan di lapangan," ujar Eddy dalam keterangannya, Sabtu (10/5/2025).

Eddy yang juga Anggota DPR RI Dapil Bogor dan Cianjur ini mendukung berbagai langkah mitigasi terhadap kasus ini dan yakin proses evaluasi dan perbaikan akan dilakukan.

"Evaluasi yang komprehensif diperlukan agar program MBG dapat berjalan semakin baik, dengan standar kesehatan, keamanan dan kualitas yang lebih baik dan nilai gizinya juga meningkat," jelasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya