Liputan6.com, Roma - Paus Leo XIV pada Senin (12/5) menyerukan pembebasan wartawan yang dipenjara dan menegaskan "anugerah berharga kebebasan berbicara dan pers" dalam audiensi dengan sekitar 6.000 wartawan yang datang ke Roma untuk meliput pemilihannya sebagai paus pertama asal Amerika Serikat (AS).
Paus Leo mendapat sambutan meriah saat memasuki auditorium Vatikan untuk pertemuan pertamanya dengan perwakilan masyarakat umum.
Advertisement
Misionaris Augustinian berusia 69 tahun yang terpilih dalam konklaf 24 jam pekan lalu itu mendorong para wartawan menggunakan kata-kata untuk perdamaian, menolak perang, dan menyuarakan mereka yang tak bersuara. Dia menyatakan solidaritas dengan para jurnalis di seluruh dunia yang dipenjara karena berusaha mencari dan melaporkan kebenaran. Disambut tepuk tangan hadirin, dia meminta agar mereka dibebaskan.
"Gereja mengenali dalam para saksi ini—saya memikirkan mereka yang melaporkan perang bahkan dengan risiko nyawa—keberanian mereka yang membela martabat, keadilan, dan hak masyarakat untuk mendapat informasi. Karena hanya dengan informasi, seseorang dapat membuat pilihan yang bebas," ujar Paus Leo seperti dikutip dari Associated Press (AP), Selasa (13/5/2025).
"Penderitaan para wartawan yang dipenjara ini menantang hati nurani bangsa-bangsa dan komunitas internasional, mendesak kita semua untuk menjaga anugerah berharga kebebasan berbicara dan pers," ucapnya.
Paus Leo membuka pertemuan dengan beberapa kalimat dalam bahasa Inggris, bercanda bahwa jika hadirin masih terjaga dan bertepuk tangan di akhir, itu lebih penting daripada sambutan hangat yang diterimanya.
Beralih ke bahasa Italia, dia berterima kasih kepada para wartawan atas liputan mereka mengenai transisi kepausan dan mendorong mereka menggunakan kata-kata perdamaian.
"Perdamaian dimulai dari diri kita masing-masing: dalam cara kita memandang orang lain, mendengarkan orang lain, dan berbicara tentang orang lain," katanya. "Dalam hal ini, cara kita berkomunikasi sangatlah penting: kita harus mengatakan 'tidak' pada perang kata-kata dan gambar, kita harus menolak paradigma perang."
Setelah pidato singkatnya yang menekankan kekuatan kata-kata untuk kebaikan, dia menyapa beberapa wartawan di barisan depan dan berjabat tangan dengan kerumunan saat meninggalkan aula melalui lorong tengah. Dia juga menandatangani beberapa autograf dan berpose untuk beberapa foto selfie.
Sorotan Wartawan Saat Bertemu dengan Paus Leo
Para wartawan dilaporkan melaporkan percakapan singkat dengan Paus Leo, termasuk menyinggung soal rencana Vatikan untuk kunjungannya ke Turki —dalam rangka memperingati peristiwa penting dalam hubungan Katolik-Ortodoks: peringatan 1700 tahun Konsili Nicea, konsili ekumenis pertama dalam sejarah Kristen.
Beberapa wartawan menawarkan bermain ganda tenis atau mengadakan pertandingan amal. Paus Leo, yang dikenal gemar bermain tenis, terlihat tertarik, "tapi kita tidak bisa mengundang Sinner," candanya, merujuk pada pemain nomor satu dunia Jannik Sinner yang sedang bertanding di Italian Open di dekat Sungai Tiber.
Pertemuan ini mengingatkan pada audiensi tahun 2013 dengan wartawan yang meliput pemilihan Paus Fransiskus, paus pertama asal Amerika Latin. Saat itu, Fransiskus menjelaskan pemilihan namanya—terinspirasi oleh Santo Fransiskus dari Assisi—dan keinginannya untuk "Gereja yang miskin dan bagi orang miskin!"
Selama 12 tahun kepausannya, Paus Fransiskus juga kerap berbicara tentang nilai jurnalisme. Baru pada Januari lalu, dia meminta pembebasan wartawan yang dipenjara dalam acara Holy Year event (Tahun Suci) bersama media.