Cuaca Panas Ekstrem di Tanah Suci, KKHI Bagikan Masker dan Oralit untuk Cegah Jamaah Haji Dehidrasi

Kondisi cuaca panas ekstrem di Madinah, Arab Saudi tentu menimbulkan risiko kesehatan, terutama dehidrasi dan penyakit menular

oleh Dyah Puspita WisnuwardaniDiperbarui 13 Mei 2025, 07:17 WIB
KKHI membagikan masker dan oralit kepada para jamaah haji di Madinah. (Foto: Kemenkes RI)

Liputan6.com, Jakarta - Cuaca panas ekstrem mulai melanda Madinah, Arab Saudi, tempat di mana jutaan jemaah haji dari berbagai negara—termasuk Indonesia—tengah menjalankan ibadah.

Jelang akhir pekan lalu, cuaca di Madinah berada pada kisaran di atas 40 derajat Celsius. Berdasarkan pemantauan Tim Sanitasi dan Pengawasan Makanan PPIH Arab Saudi Bidang Kesehatan, suhu udara siang hari Jumat (9/5) diperkirakan mencapai 45 derajat Celsius. Keesokan harinya, suhu pun masih bertahan di angka tinggi, berkisar antara 41–45 derajat Celsius.

Risiko Kesehatan Terkait Cuaca Panas

Kondisi ini tentu menimbulkan risiko kesehatan, terutama dehidrasi dan penyakit menular. Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI sigap melakukan berbagai langkah antisipatif demi menjaga kesehatan para jemaah haji Indonesia.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembagian oralit dan masker sekali pakai kepada seluruh jemaah. Logistik kesehatan ini didistribusikan melalui Tenaga Kesehatan Haji Kloter (TKHK) oleh Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Tujuannya agar para jamaah haji tak perlu repot membawa perlengkapan pribadi tambahan dan bisa tetap fokus menjalani ibadah.

“Langkah ini diambil sebagai upaya preventif untuk mencegah penyebaran penyakit menular dan dehidrasi di tengah cuaca panas ekstrem Arab Saudi,” ujar dr. Mohammad Imran, Kepala Bidang Kesehatan PPIH Arab Saudi.

 

Masker Juga Dibagikan

Tak hanya itu, masker juga turut dibagikan langsung oleh Tim Kesehatan Bandara kepada jemaah yang baru tiba di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA), Madinah. Masker berfungsi ganda: melindungi dari infeksi virus sekaligus menyaring debu dan polusi yang bisa mengganggu saluran pernapasan.

Sementara itu, oralit dibagikan untuk membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh jemaah yang rentan kehilangan cairan akibat aktivitas fisik di bawah terik matahari.

 

Penyakit yang Paling Sering Dialami Jamaah Haji

Catatan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa penyakit seperti pneumonia, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serangan jantung, dan stroke masih menjadi risiko tertinggi yang dihadapi jemaah selama musim haji, berdasarkan data dari tahun 2018 hingga 2024. Itulah sebabnya distribusi masker dan oralit ini menjadi bagian penting dari strategi pencegahan.

Dengan berbagai langkah preventif ini, diharapkan jemaah haji Indonesia bisa tetap sehat dan khusyuk dalam menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci. Ingat, menjaga kesehatan adalah bagian dari ibadah itu sendiri.

 

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya