100 Petugas Konklaf Vatikan Disumpah, Rahasia Pemilihan Paus Dijaga Ketat

Jelang konklaf pemilihan paus penerus Paus Fransiskus pada 7 Mei 2025, ratusan petugas Vatikan, termasuk staf kebersihan hingga Garda Swiss, telah disumpah untuk menjaga kerahasiaan proses pemilihan.

oleh Tanti YulianingsihDiterbitkan 06 Mei 2025, 15:21 WIB
Salah satu kardinal di Vatikan yang akan mengikutip konklaf untuk mencari penerus Paus Fransiskus pada Rabu (7/5/2025). (AP/Fransisco Seco)

Liputan6.com, Vatican City - Mulai dari petugas kebersihan dan koki, dokter dan perawat, hingga sopir dan operator lift – seluruh staf pendukung para kardinal yang akan memilih penerus Paus Fransiskus mengucapkan sumpah kerahasiaan pada Senin (5/5), menjelang konklaf yang dimulai Rabu (7/5).

Apa hukuman bagi yang melanggar sumpah? Ekskomunikasi otomatis.

Menurut laporan Associated Press (AP) yang dikutip Selasa (6/5/2025), upacara sumpah digelar di Pauline Chapel atau Kapel Paulus, Vatikan, untuk semua orang --sekitar 100 orang-- yang ditugaskan selama konklaf, termasuk rohaniwan pendukung seperti para pengakuan dalam berbagai bahasa. Para kardinal sendiri akan bersumpah pada Rabu (7/5) di Kapel Sistina, sebelum memberikan suara pertama mereka.

Puluhan staf awam (pria dan wanita) bertugas memastikan akomodasi dan makanan para kardinal. Durasi Konklaf tidak bisa diprediksi – hasilnya hanya akan diketahui ketika asap putih mengepul dari cerobong Kapel Sistina sebagai tanda paus baru terpilih.

Seluruh staf akan dikarantina untuk memenuhi kebutuhan medis darurat sekaligus menjaga kesakralan proses pemilihan pemimpin 1,4 miliar umat Katolik sedunia.

Para kardinal akan menginap di dalam kompleks Vatikan. Mereka bisa berjalan kaki sekitar 1 km ke Kapel Sistina atau naik bus khusus yang hanya beroperasi di area tertutup Vatikan – untuk itulah sopir juga diperlukan.

Juru bicara Vatikan, Matteo Bruni, menyatakan para kardinal akan "diminta" meninggalkan ponsel di tempat tinggal mereka dan tidak membawanya ke Kapel Sistina, meski ponsel tidak akan disita.

Bruni menegaskan bahwa para kardinal telah bersumpah mematuhi peraturan konklaf, termasuk larangan membocorkan informasi apa pun dan berkomunikasi dengan dunia luar hingga pemilihan selesai.

Vatikan juga akan mengaktifkan signal jamming untuk mencegah penyadapan elektronik, dengan pengawasan ketat dari polisi Vatikan.

Isi Sumpah Rahasia

Prosesi pemilihan yang bersifat amat rahasia dan tertutup tersebut akan dilaksanakan di Kapel Sistina dan diikuti sekitar 135 kardinal. Tampak dalam foto, para kardinal menghadiri saat menghadiri misa di Basilika Santo Petrus di Vatikan, pada 28 April 2025. (Dimitar DILKOFF/AFP)

Aturan sumpah diatur dalam hukum Vatikan.

Paus Yohanes Paulus II menetapkan regulasi pemilihan paus dalam dokumen 1996 yang masih berlaku, meski Paus Benediktus XVI merevisinya dua kali sebelum mengundurkan diri pada 2013.

Benediktus memperketat sumpah kerahasiaan, menyatakan bahwa siapa pun yang membocorkan rahasia konklaf akan menghadapi ekskomunikasi otomatis.

Dalam sumpahnya, mereka berseru:

"Saya berjanji dan bersumpah untuk menjaga kerahasiaan mutlak dan abadi... termasuk tidak menggunakan perangkat audio/video apa pun yang dapat merekam proses pemilihan. Saya sadar sepenuhnya bahwa pelanggaran akan mengakibatkan ekskomunikasi otomatis. Demi Tuhan dan Injil Suci ini yang saya sentuh dengan tangan saya."

Seruan untuk Korban Skandal Seksual

Sementara upacara sumpah berlangsung, Komisi Perlindungan Anak Vatikan pada Senin (5/5) mendesak para kardinal memprioritaskan isu pelecehan seksual oleh rohaniwan dalam pemilihan paus baru, menyatakan kredibilitas Gereja bergantung pada akuntabilitas, transparansi, dan keadilan bagi korban.

Komisi yang dibentuk Paus Fransiskus ini menyerukan:

"Jangan biarkan skandal mengaburkan urgensi kebenaran. Jangan biarkan reputasi menghalangi tanggung jawab kita untuk bertindak bagi para korban."

Skandal pelecehan telah merusak kredibilitas hierarki Katolik di banyak negara, dengan terungkapnya kasus-kasus yang ditutupi selama puluhan tahun. Meski Fransiskus dan Benediktus XVI telah mengambil langkah-langkah tertentu, budaya impunitas masih ada, dan korban sering kali mengalami trauma berulang dalam proses pelaporan.

Kardinal Sean O'Malley, ketua komisi ini, berpartisipasi dalam diskusi pra-Konklaf tetapi tidak dapat memilih karena telah melewati batas usia 80 tahun.

 

Infografis 9 Calon & Mekanisme Pengganti Paus Fransiskus. (Liputan6.com/Abdillah)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya