, Jakarta - Setiap tahun, setidaknya satu satelit hancur akibat tabrakan dengan sampah antariksa. Saat ini, lebih dari 130 juta puing mengorbit Bumi, dan Badan Antariksa Eropa (ESA) memprediksi jumlah ini akan terus bertambah. Meningkatnya peluncuran satelit komersial ke orbit rendah Bumi semakin memperparah masalah ini, dengan risiko gangguan pada layanan vital seperti GPS dan pemantauan bencana alam.
Satelit-satelit aktif kini harus rutin melakukan manuver penghindaran untuk mencegah tabrakan yang berpotensi merusak. Bahkan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pun sering kali harus menyesuaikan orbitnya demi menghindari puing-puing berbahaya yang melayang di angkasa.
Advertisement
"Kita bergantung pada satelit sebagai sumber informasi untuk kehidupan sehari-hari, mulai dari navigasi, telekomunikasi, layanan, pengamatan Bumi, termasuk pertahanan dan keamanan,” kata Direktur Jenderal ESA, Josef Aschbacher, kepada DW yang dikutip Senin (5/5/2025).
Dalam konferensi tahunan tentang sampah antariksa, ESA menyerukan tindakan cepat untuk membersihkan sampah buatan manusia, berupa pecahan pesawat antariksa atau satelit yang sudah tidak berfungsi. Salah satu terobosan penting adalah inisiatif Zero Debris Charter yang telah mendapatkan dukungan dari 17 negara Eropa pada tahun 2023, serta bergabungnya Meksiko dan Selandia Baru pada tahun berikutnya.
Masalah sampah antariksa makin parah, pasalnya orbit dekat Bumi kian padat karena semakin banyak satelit yang diluncurkan, dan teknologi yang sudah tidak berfungsi alias jadi sampah tidak disingkirkan dari lintasannya.
Yang mengkhawatirkan, bahaya tidak hanya datang dari sampah berukuran besar. Serpihan kecil berdiameter hanya 1 mm pun mampu menyebabkan kerusakan signifikan pada satelit.
Buktinya satu dekade yang lalu, satelit iklim Copernicus Sentinel-1A tertabrak proyektil sampah antariksa berdiameter 2 milimeter dan penyok selebar 5 cm. Tiago Soares, insinyur ESA, memberikan gambaran yang lebih mengerikan kepada DW: "Puing berukuran 1 cm saja memiliki energi tumbukan yang setara dengan ledakan granat tangan."
Kejadian ini tidak memengaruhi operasi satelit, tetapi makin menonjolkan risiko tabrakan dengan sampah antariksa. Objek yang lebih besar, jika terjadi tabrakan dapat menghancurkan seluruh satelit.
Fakta bahwa saat ini terdapat sekitar 1 juta serpihan berukuran 1 cm yang mengorbit Bumi menjadi perhatian serius para ilmuwan. Setiap tabrakan berpotensi memicu efek Kessler - reaksi berantai yang dapat menghasilkan ribuan puing baru.
"Hal itu akan menjadi bencana dan sangat merusak, karena keseluruhan orbit menjadi tidak dapat digunakan. Sehingga seluruh kategori penggunaan satelit pun tidak akan bisa dilakukan,” kata Aschbacher.
Ancaman Ganda: Sampah Antariksa dan Krisis Lingkungan Bumi
Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan perubahan iklim, satelit pemantau lingkungan justru menghadapi ancaman serius dari sampah antariksa yang mengorbit Bumi.
Satelit-satelit seperti Copernicus Sentinel yang menyediakan data real-time tentang iklim dan cuaca menjadi sangat rentan terhadap risiko tabrakan. Padahal, satelit ini memegang peranan krusial dalam memantau berbagai bencana alam mulai dari kebakaran hutan, letusan gunung berapi, hingga banjir dan kekeringan.
Jika satu saja bagian dari konstelasi satelit ini rusak, maka akan sangat mengganggu seluruh operasi pengumpulan data.
"Sekitar 70% hingga 80% dari semua informasi [iklim dan lingkungan] yang kami dapatkan berasal dari satelit. Jika satelit-satelit yang berada di orbit berada dalam bahaya, kemampuan kita untuk memprediksi perubahan iklim di masa depan [...] tentu akan terancam," kata Aschbacher.
"Bukan hanya prediksi, tapi juga mitigasi perubahan iklim, baik kenaikan permukaan air laut, badai, angin topan, atau efek-efek lain yang muncul akibat pemanasan global - mencairnya lapisan es, melelehnya area es yang luas, dan seterusnya,” tambah Aschbacher.
Ironisnya, sementara Bumi menghadapi krisis lingkungan, orbit di sekitarnya pun semakin tercemar. Meskipun sebagian kecil sampah antariksa jatuh kembali ke Bumi, mayoritas justru tetap mengorbit dan menimbulkan ancaman konstan. Berbagai solusi sedang dikembangkan untuk mengatasi masalah ini, meskipun belum ada yang benar-benar terbukti efektif.
Rencana Peluncuran Misi Pembersihan
ESA berencana meluncurkan misi ClearSpace-1 pada 2028 yang akan menggunakan lengan robotik untuk mengangkat satelit PROBA-1 seukuran koper dari orbit rendah Bumi. Tiago Soares dari ESA menjelaskan alternatif lain yang sedang dikaji: "menjaring" satelit dengan struktur khusus, meski teknologi ini masih mahal dan belum teruji keandalannya.
Pendekatan lain yang sedang dikembangkan mencakup protokol penonaktifan satelit yang sudah tidak berfungsi dan teknologi untuk membawa wahana antariksa kembali ke atmosfer Bumi secara terkendali. ESA bahkan mengadopsi prinsip "reduce, reuse, recycle" untuk lingkungan luar angkasa.
Soares mengungkapkan visi jangka panjang: "Dalam jangka panjang, kami tidak hanya memikirkan masalah pembersihan, tapi juga 'ekonomi sirkular' ruang angkasa." Ia melanjutkan, "Hal ini dilakukan dengan mempromosikan misi baru yang tidak hanya memindahkan obyek dari orbit, tetapi juga untuk mencoba memperbaiki obyek tersebut, menggunakan kembali suku cadangnya, atau bahkan mendaur ulangnya."
Ketimbang mengirimkan mesin derek ruang angkasa, mungkin lebih baik mengembangkan semacam roadside service atau layanan bantuan reparasi jalanan, yang melakukan perbaikan pada satelit sehingga masa pakainya dapat diperpanjang.
Daripada mengandalkan misi pembersihan, para ilmuwan juga mempertimbangkan konsep layanan perbaikan satelit di orbit untuk memperpanjang masa pakainya. Pendekatan ini mencerminkan kesadaran bahwa solusi berkelanjutan untuk masalah sampah antariksa harus mencakup pencegahan dan daur ulang, tidak sekadar pembersihan.