Liputan6.com, Semarang - Ratusan jemaah calon haji (JCH) asal Purbalingga yang tergabung dalam kloter pertama Embarkasi Solo resmi dilepas keberangkatannya ke Tanah Suci pada Jumat (2/5/2025) dini hari.
Pelepasan berlangsung khidmat di Gedung Muzdalifah Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Advertisement
Anggota Komisi VIII DPR RI Dr. Abdul Fikri Faqih turut dalam pelepasan tersebut, mendampingi Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Wachid, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, serta Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif.
Dalam penjelasannya, Abdul Fikri Faqih menyoroti keberagaman kondisi 353 jemaah haji, termasuk yang berusia lanjut hingga 88 tahun dan menggunakan kursi roda, namun didampingi dengan baik.
Fikri memberikan beberapa catatan penting terkait persiapan dan layanan untuk jemaah. Salah satu poin krusial yang ditekankan adalah penerapan dua skema inovatif dalam manajemen pergerakan jemaah haji tahun ini, yaitu skema murur dan tanazul.
Skema ini, baru diterapkan Indonesia tahun ini, bertujuan memberikan kemudahan dan kelancaran ibadah di puncak haji.
“Skema murur dan tanazul itu diperuntukkan bagi jemaah yang lansia, risiko tinggi (risti) dan pendamping atau relawan yang mengurus jamaah haji dengan kriteria khusus itu,” kata Fikri.
Simak Video Pilihan Ini:
Pelaksanaan Skema
Dijelaskan bahwa skema murur akan dilaksanakan di Muzdalifah setelah wukuf di Arafah. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, jemaah dengan skema ini akan melewati Muzdalifah tanpa turun dari bus dan langsung menuju Mina.
"Para jemaah akan diberangkatkan dari Arafah setelah melaksanakan salat Maghrib. Dengan begitu, perjalanan menuju Mina menjadi lebih efisien karena di Muzdalifah tanpa turun dari bus," katanya.
Sementara itu, skema tanazul memberikan opsi bagi jemaah yang tinggal di hotel dekat area Jamarat untuk kembali ke hotel mereka setelah melempar jumrah aqabah, tanpa harus menempati tenda di Mina.
"Dengan demikian, jemaah tidak perlu menempati tenda di Mina, namun tetap menjalankan kewajiban bermalam sesuai ketentuan," kata Fikri.
Ia berpesan kepada seluruh petugas haji untuk terus menyosialisasikan kedua skema ini sebagai salah satu kemudahan yang dihadirkan pemerintah bagi jemaah Indonesia.
Selain skema baru, perhatian juga diberikan pada peningkatan layanan. Informasi dari pimpinan Komisi VIII memastikan bahwa katering untuk jemaah bercita rasa Indonesia.
Menu akan bervariasi selama 10 hari pertama, bahkan resepnya dikirim langsung dari Indonesia, membuat jemaah merasa senang dengan masakan yang familiar.
Fasilitas bus sholawat yang beroperasi 24 jam dengan sopir asal Indonesia juga sudah disiapkan, diharapkan membuat jemaah lebih nyaman dalam mobilitas mereka di Tanah Suci.