Liputan6.com, Jakarta - Di dunia mode, terdapat kekuatan tak terbantahkan dalam setiap lipatan setelan jas yang dirancang khusus, kilauan sepatu kulit yang dipoles sempurna, dan sapuan sapu tangan sutra di saku dada. Namun bagi black dandyism, ini lebih dari sekadar penampilan menarik, namun juga deklarasi identitas.
Mengutip Vogue, Sabtu (3/5/2025), black dandyism adalah revolusi mode yang berakar pada sejarah panjang perlawanan dan kebanggaan, melampaui batasan busana untuk jadi pernyataan budaya dan tindakan protes yang merayakan individualitas. Dengan tema Met Gala 2025, "Superfine: Tailoring Black Style," gerakan ini mendapat sorotan global yang telah lama layak diterimanya.
Advertisement
Pada abad ke-18, tokoh seperti Beau Brummell di Inggris mempopulerkan dandyisme sebagai cara untuk menonjol dengan dandanan dan busana yang sempurna. Brummell menolak kemewahan busana aristokrat masa lalu, lebih menyukai gaya yang sederhana, namun tegas.
Bagi para dandy, mode adalah sarana untuk mengekspresikan diri dan bentuk pemberontakan halus terhadap norma-norma masyarakat. Di dunia yang sering meminggirkan orang kulit hitam, dandyisme jadi cara menantang batasan ras dan kelas yang kaku.
Akar black dandyism dapat ditelusuri kembali ke periode pasca-Emansipasi. Namun, gerakan itu mencapai puncaknya selama Harlem Renaissance pada 1920-an. Harlem jadi pusat pemikiran intelektual dan artistik kulit hitam, dan revolusi budaya ini juga tercermin dalam mode. Harlem menggunakan pakaian untuk menegaskan diri di dunia yang sering kali mengabaikan martabat mereka.
Dandyisme Masih Hidup
Saat ini, black dandyism masih hidup dan berkembang di panggung mode. Merek seperti Balmain, di bawah Olivier Rousteing, menata ulang dandisme dengan desain yang megah dan dramatis, merayakan identitas kulit hitam dan reklamasi sejarah.
Jahitan presisi dan siluet yang menyimpang dari standar Thom Browne menantang norma tradisional, sementara Martine Rose memadukan budaya jalanan dengan mode kelas atas melalui potongan-potongan besar dan berani yang mewujudkan black dandyism kontemporer.
Dior Men, yang dipimpin Kim Jones, memadukan keahlian mewah dengan pengaruh global, memberi ruang bagi narasi yang lebih inklusif. Sementara penjahitan khusus Savile Row kini berfungsi sebagai platform bagi para black dandyism untuk mendefinisikan ulang keanggunan klasik dengan identitas mereka sendiri.
Merek-merek ini menggambarkan bagaimana dandisme kulit hitam telah terjalin mulus dengan mode kelas atas, terus memberdayakan ekspresi diri, dan menentang batasan busana. Ada beberapa elemen yang mengidentifikasi genre pakaian tersebut.
Karakteristik Utama Busana Black Dandy
Karakteristik utama black dandyism adalah keserbagunaan. Tidak seperti bentuk busana lain, genre mode ini bersifat cair, merangkul gaya modern dan klasik, sering kali memadukan keduanya untuk menciptakan sesuatu yang unik dan individual.
Black dandyism mencolok karena:
- Penjahitan khusus: Dari jas yang dijahit tangan hingga celana panjang yang dipotong sempurna, lemari pakaian para dandy dibangun berdasarkan presisi dan kesesuaian. Penjahitan adalah kunci tampilan ini, dan jas yang pas selalu jadi pernyataan tersendiri.
- Warna dan pola kontras: busana black dandy tidak takut untuk merangkul motif yang mencolok, baik itu pola bunga, kotak-kotak, atau garis-garis. Palet warna sering kali menjauh dari nuansa suram yang biasanya dikaitkan dengan pakaian formal, memilih rona cerah yang menonjol.
- Aksesori yang bertujuan: entah itu sapu tangan di saku, topi fedora, atau kacamata hitam yang mencolok, black dandyism tidak pernah hanya untuk dipamerkan. Aksesori tersebut dipilih dengan cermat untuk melengkapi penampilan keseluruhan, menambah lapisan kepribadian dan individualitas tambahan.
- Penggabungan budaya: black dandyism modern tidak hanya mencerminkan tradisi busana Eropa. Itu menggabungkan pengaruh global—tekstil Afrika, gaya Karibia, dan gaya jalanan Amerika—menciptakan estetika yang universal dan sangat personal.
Met Gala 2025
Met Gala 2025, sesuai dengan tradisi yang telah ada, akan berlangsung di The Metropolitan Museum of Art, New York City, Amerika Serikat (AS). Acara bergengsi ini dijadwalkan pada Senin, 5 Mei 2025, sehari sebelum pameran "Superfine" dibuka untuk umum.
Sejak dilaksanakan pertama kali, Met Gala dikenal sebagai acara yang sangat eksklusif dan hanya dapat dihadiri tamu yang diundang secara khusus. Para tamu biasanya merupakan selebritas, desainer, serta tokoh-tokoh penting dalam industri fesyen, yang telah diseleksi Vogue dan ketua acara, Anna Wintour.
Dikenal sebagai "Oscar di dunia mode," acara ini merayakan puncak haute couture, tempat para selebritas berani mengambil risiko tampil dalam balutan busana memukau dan terkadang menghebohkan. Selain, Met Gala selalu terhubung dengan pameran yang diadakan di Costume Institute.
Tahun ini, acara tersebut mendukung pameran yang berjudul "Superfine: Tailoring Black Style," yang akan dibuka untuk umum hingga 26 Oktober 2025. Pameran ini terinspirasi buku "Slaves to Fashion: Black Dandyism and the Styling of Black Diasporic Identity" yang ditulis Monica L. Miller. Dalam bukunya, Miller menjelaskan bagaimana dunia mode dapat berfungsi sebagai alat mengekspresikan budaya dan identitas politik bagi komunitas kulit hitam.