Mengikis Stigma Disabilitas, KND: Masih Dipandang Sebagai yang Harus Dikasihani

Masih banyak stigma negatif terhadap penyandang disabilitas di Indonesia, tetapi berbagai upaya dilakukan untuk menghapusnya dan mewujudkan inklusi sosial.

oleh Tim DisabilitasDiperbarui 30 April 2025, 17:49 WIB
Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa (berkerudung) melihat fasilitas mobil akses bagi penyandang disabiltas di Jakarta, Senin (28/12/2015). Mensos meresmikan sejumlah fasilitas penunjang bagi penyandang disabilitas. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta Di Indonesia, masih banyak penyandang disabilitas yang menghadapi stigma negatif. Kondisi ini menciptakan hambatan dalam berbagai aspek kehidupan mereka, mulai dari pendidikan hingga kesempatan kerja. Stigma tersebut muncul dari kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat luas tentang disabilitas.

"Perspektif dan stigma terhadap penyandang disabilitas masih melekat sangat kuat. Stigma ini pandangan negatif atau penilaian buruk yang dilekatkan pada seseorang atau kelompok karena suatu ciri, kondisi, atau identitas tertentu," kata  Ketua Komisi Nasional Disabilitas Dante Rigmalia dalam audiensi KND dengan Komisi XIII di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu (30/4/25). 

Setiap jenis disabilitas, mulai dari disabilitas fisik, sensorik, intelektual, hingga mental, memiliki tantangan unik yang dihadapi oleh penyandangnya. Dan tiap jenis disabilitas membutuhkan pendekatan yang berbeda pula dalam penanggulangannya. 

Komisi Nasional Disabilitas (KND) gencar melakukan berbagai upaya untuk menghapus stigma tersebut dan mendorong inklusi sosial. Mereka berupaya mengubah pandangan masyarakat agar tidak lagi memandang disabilitas sebagai sesuatu yang harus dikasihani, melainkan sebagai bagian dari keberagaman yang harus dihargai.

Mengenal Lebih Dekat Stigma Disabilitas di Indonesia

Bekal Keterampilan Merias Kuku Bikin Teman Tuli Ini Siap Jadi Nail Artist Profesional Foto: BCA.

Stigma terhadap penyandang disabilitas seringkali muncul dari ketidaktahuan dan prasangka. Banyak orang masih menganggap penyandang disabilitas sebagai individu yang lemah, tidak mampu, dan membutuhkan belas kasihan.

Pandangan negatif ini berdampak buruk.  Penyandang disabilitas sering mengalami diskriminasi dalam pendidikan, pekerjaan, dan akses terhadap layanan publik.  "Namun disabilitas tetap dipandang sebagai sesuatu yang harus dikasihani, bukan harus diberikan haknya," katanya. 

Banyak penyandang disabilitas yang merasa terisolasi dan kesulitan berpartisipasi penuh dalam kehidupan masyarakat. Hal ini tentu saja sangat merugikan bagi difabel dan juga bagi masyarakat secara keseluruhan.

Dante Rigmalia menyebut bahwa pihaknya berupaya melakukan pemenuhan hak penyandang disabilitas berdasarkan pendekatan berbasis hak, bukan pendekatan belas kasihan.

Peran Komisi Nasional Disabilitas (KND)

KND dan Komite III DPD RI Rumuskan 4 Poin untuk Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas. Foto: KND.

Komisi Nasional Disabilitas (KND) memegang peran penting dalam upaya menghapus stigma disabilitas di Indonesia. KND secara aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.

Mereka juga mendorong penerapan kebijakan yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas. KND bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, LSM, dan sektor swasta.

Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan memberdayakan penyandang disabilitas agar dapat hidup dengan bermartabat dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat. KND juga fokus pada pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas berdasarkan pendekatan berbasis hak, bukan belas kasihan.

Komunitas Pramuka Disabilitas Berdaya 

Sejumlah inisiatif dilakukan KND dalam upaya menghapus stigma terhadap penyandang disabilitas. Pembentukan Satuan Komunitas Pramuka Disabilitas Berdaya, deklarasi pelaksanaan Seven Summit yang dimulai di Gunung Kawi, Jawa Timur merupakan bagian dari upaya tersebut.

"Ini terdiri dari teman-teman disabilitas dan non-disabilitas yang melakukan pendakian," katanya.

Kemudian kolaborasi interseksionalitas disabilitas dengan isu lainnya, seperti dalam kegiatan penanaman mangrove di PIK 1 dan penanaman pohon di Malang, Jawa Timur.

"Kami juga melakukan sosialisasi eliminasi stigma melalui podcast bersama pemengaruh," kata Dante Rigmalia. 

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya