Liputan6.com, Jakarta Widya Washinton, mantan Putri Lampung yang dikenal sebagai aktris sinetron, kini memperluas kiprahnya di dunia perfilman dengan memproduksi film pendek berjudul 'Kopi Manis Ibuku'. Film ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga berupaya memperkenalkan budaya dan kopi Lampung ke kancah internasional. Dalam waktu dekat, film ini direncanakan untuk mengikuti berbagai festival film di tingkat nasional dan internasional pada tahun 2025.
Film ini mengisahkan perjalanan seorang janda yang berjuang membesarkan dua anaknya setelah suaminya, seorang pengusaha kebun kopi, meninggal dunia. Sang anak laki-laki berhasil menjadi anggota TNI, sementara putrinya mewarisi keahlian meracik kopi dari ibunya dan bersama-sama mereka mendirikan warung kopi yang menjadi pusat interaksi masyarakat.
Advertisement
Kehadiran seorang pegiat lingkungan asal Jerman dalam film ini menambah dimensi cerita, menyoroti pentingnya menjaga tradisi, lingkungan, dan gotong royong. Dengan latar belakang yang kaya, Widya berharap film ini dapat menjadi representasi budaya Lampung yang membanggakan di panggung dunia.
Kisah Inspiratif di Balik 'Kopi Manis Ibuku'
'Kopi Manis Ibuku' mengisahkan tentang seorang janda yang harus berjuang membesarkan kedua anaknya setelah kepergian suaminya. Suaminya adalah seorang pengusaha kebun kopi yang dihormati di daerahnya. Dalam perjalanan hidupnya, anak laki-lakinya berhasil lolos seleksi masuk TNI dengan nilai yang membanggakan, sementara adik perempuannya, yang merupakan siswa berprestasi, mewarisi keahlian meracik kopi dari sang ibu. Mereka akhirnya membuka warung kopi sederhana yang bukan hanya sebagai tempat usaha, melainkan juga sebagai ruang diskusi masyarakat setempat.
Film ini menunjukkan bagaimana warung kopi berfungsi sebagai jembatan sosial bagi warga, di mana berbagai cerita dan pengalaman dibagi. Kehadiran anak perempuan yang berbakat meracik kopi semakin memperkaya cerita, menunjukkan bahwa kopi bukan hanya sekadar minuman, tetapi juga simbol ketangguhan dan persatuan.
Interaksi antara karakter utama dan pegiat lingkungan asal Jerman menambah kompleksitas cerita. Pegiat tersebut memiliki ketertarikan terhadap kopi Lampung dan budaya lokal, sehingga menghadirkan dinamika yang kaya. Melalui dialog dan interaksi mereka, film ini mengangkat isu lingkungan, kearifan lokal, dan filosofi kehidupan yang mendalam di balik secangkir kopi.