Liputan6.com, Jakarta - Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Kalemdiklat) Polri, Komjen Pol. Prof Chryshnanda Dwilaksana mengatakan bahwa inti dari pendidikan di Akpol adalah membentuk sosok polisi yang mampu menjadi penjaga kehidupan, pembangun peradaban, dan pejuang kemanusiaan.
"Akpol bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat menanamkan nilai-nilai luhur yang menjadi keutamaan polisi dalam pemolisiannya. Taruna Akpol harus menjadi pribadi yang berjiwa ksatria, pemimpin yang rendah hati dan merakyat, patuh hukum bukan karena takut, tapi karena sadar akan tanggung jawab moralnya terhadap masyarakat,” ujar Chryshnanda dalam keterangan tertulisnya, Rabu (9/5/2025).
Advertisement
Ia menambahkan bahwa pemimpin Polri masa depan perlu memiliki fondasi moral dan literasi yang kuat. Sosok pemimpin, menurutnya, harus peka terhadap kemanusiaan serta mampu memahami keteraturan sosial dan dinamika peradaban.
“Pemimpin itu bukan segalanya, tapi dari kebijakannyalah banyak hal besar bisa terjadi. Maka, moralitas dan keutamaan dalam kemanusiaan, keteraturan sosial, dan peradaban harus menjadi jiwa dari pendidikan kepolisian,” jelasnya.
Akpol kata Chryshnanda, juga mengembangkan model pendidikan berbasis teknologi melalui konsep smart policing, yaitu mengintegrasikan pendekatan konvensional, elektronik, dan forensik.
Pendekatan ini diarahkan untuk mempersiapkan personel yang mampu menjalankan fungsi kepolisian di era digital, termasuk dalam bidang siber dan forensik.
“Pembelajaran ini bertujuan untuk menyiapkan polisi siber maupun polisi forensik yang siap memberikan pelayanan publik yang cepat, tepat, transparan, akuntabel, informatif, dan mudah diakses,” ujarnya.
Bentuk Karakter dan Identitas Calon Perwira Polri
Selain pembelajaran berbasis teknologi, para taruna juga dilatih secara fisik, intelektual, serta sosial. Mereka dibentuk agar dapat bertindak secara sigap dan adaptif dalam berbagai situasi, baik rutin maupun darurat, tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan.
“Kami mendidik taruna untuk tidak hanya cakap secara manajerial, operasional maupun teknis, yang berhati nurani bagi semakin manusiawinya manusia. Polisi dalam pemolisiannya dituntut mampu secara proaktif menyelesaikan konflik secara beradab dan menjadi simbol dari hukum yang mencerdaskan,” kata Chryshnanda.
Akpol juga memperkuat kurikulum dengan materi yang relevan terhadap kebutuhan lapangan dan perkembangan isu sosial, hukum, dan pemolisian. Pembelajaran di kampus diarahkan berbasis riset dan disesuaikan dengan dinamika masyarakat serta potensi disrupsi.
Chryshnanda mengingatkan pentingnya masa pendidikan di Akpol dalam membentuk karakter dan identitas calon perwira Polri.
"Manfaatkan setiap waktu di Akpol untuk membentuk jati diri. Jadilah pemimpin yang membawa perubahan, bukan hanya untuk institusi, tapi juga untuk masyarakat luas,” pungkas dia.