Ada Zona Subduksi Ganda Terjadi di Punggung Pegunungan Mayu

Respon guncangan tersebut akan lebih kuat pada kawasan pedataran yang dibangun oleh bahan rombakan sungai (alluvium) dibandingkan pada kawasan perbukitan.

oleh Arie NugrahaDiterbitkan 05 April 2025, 14:00 WIB
Peta Kawasan Rawan Bencana di Pegunungan Mayu, Provinsi Maluku Utara. (sumber gambar: PVMBG Badan Geologi).

Liputan6.com, Bandung - Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan kejadian gempa bumi berkekuatan (M) 6.0 pada kedalaman 10 Km berpusat di laut 118 km barat daya Pulau Doi, Provinsi Maluku Utara tanggal 3 April 2025, pukul 04.03 WIB diperkirakan berasosiasi dengan zona subduksi ganda yang terjadi di punggungan Mayu (memanjang berarah utara – selatan) yang mengaktifkan sesar permukaan di kawasan ini.

Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid, respon guncangan tersebut akan lebih kuat pada kawasan pedataran yang dibangun oleh bahan rombakan sungai (alluvium) dibandingkan pada kawasan perbukitan. 

"Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, dan jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami," ujar Wafid, Bandung, Kamis (3/4/2025).

Wafid menjelaskan efek guncangan pada kawasan bersudut lereng tinggi dan dibangun endapan piroklastik berumur kuarter (bersifat lepas) berpotensi terjadi longsor. 

Kawasan lengan Sulawesi bagian utara di seputaran kawasan Manado tersusun oleh unit batuan dari aliran piroklastik dan epiklastik dari erupsi besar Tondano dan di kawasan Bitung dibangun gunungapi aktif yaitu Gunung Tangkoko dan produk sedimen kuarter. 

"Masyarakat selalu waspada, dalam setiap kejadian gempa bumi untuk menginformasikan retakan maupun kerusakan dan melaporkan ke BPBD setempat," ujar Wafid.

Wafid mengatakan dampak gempa bumi juga dirasakan di kawasan Jailolo (Halmahera) dan Ternate yang dibangun oleh produk gunungapi Kuarter salah satunya gunungapi aktif Gunung Gamalama dan hasil rombakannya (sedimen kuarter). 

Wafid menerangkan dengan kondisi geologi tersebut, berdasarkan parameter peta Vs 30 kawasan Halmahera Utara termasuk Ternate dan Jailolo dikategorikan dalam jenis Kelas Tanah Lunak (Kelas E), dan kawasan Manado dan Bitung yang merupakan bagian lengan utara Pulau Sulawesi secara dominan merupakan jenis Kelas Tanah Sedang (Kelas D).

"Karakter batuan vulkanik khusus produk piroklastik dan lahar serta alluvium secara fisik memiliki karakter lunak, lepas dan tidak terkonsolidasi dengan baik, bersifat memperkuat efek guncangan, sehingga rawan guncangan gempa bumi," kata Wafid.

Wafid menuturkan Kawasan Pegunungan Mayu merupakan kawasan dengan sumber gempa bumi dengan kejadian tinggi dan berpotensi menjadi sumber tsunami. 

Untuk mengurangi dampak gempa bumi sebaiknya bangunan di sekitar wilayah tersebut dibangun dengan menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi, menata kawasan pantai sesuai kawasan rawan bencana (KRB) tsunami, dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi.

"Kejadian gempa bumi ini diperkirakan tidak mengakibatkan terjadinya bahaya ikutan (collateral hazard) berupa retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi," ungkap Wafid.

 

Daerah Terguncang Gempa

Mengacu kepada data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan guncangan dirasakan pada skala intensitas II-III MMI di Manado, II-III MMI di Bitung, II-III MMI di Ternate , II-III MMI di Jailolo. 

Kejadian gempa bumi tidak dilaporkan terjadinya tsunami dan kerusakan. Menurut Peta KRB Gempa Bumi dari Badan Geologi, Kawasan Manado yang mengalami guncangan tersebut berpotensi mengalami guncangan hingga di atas VIII MMI. 

"Atau berada pada Kawasan KRB 3. Sedangkan kawasan Ternate dan Jailolo, berpotensi mengalami guncangan hingga V MMI atau KRB 1. Diperkirakan dengan intensitas guncangan gempa ini (II-III MMI) tidak menimbulkan kerusakan berarti," ungkap Wafid.

Sebelumnya, BMKG menyebutkan telah terjadi gempa bumi pada tanggal 3 April 2025, pukul 04.03 WIB. Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6.0 pada kedalaman 10 Km dengan pusat gempa bumi berada di laut 118 km barat daya Pulau Doi pada koordinat 2,13 LU dan 126,73 BT.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya