Liputan6.com, Hirosima - Sejarah mencatat, pada 7 April 1978, pemerintah Amerika Serikat memutuskan menangguhkan pengembangan bom neutron, senjata nuklir yang menuai kontroversi di berbagai negara. Senjata yang secara resmi disebut Enhanced Radiation Weapon (ERW) ini dirancang sebagai bom termonuklir dengan daya ledak rendah, tetapi mampu melepaskan radiasi mematikan dalam skala besar.
Sebagaimana yang dikutip dari laman BBC On This Day pada senin (7/4/2025), menyatakan bahwa tidak seperti misil nuklir konvensional, bom ini dirancang untuk membunuh manusia dengan dampak kerusakan properti yang lebih kecil. Pemerintahan Presiden Jimmy Carter awalnya berencana memasang hulu ledak neutron pada misil Lance serta peluru artileri yang disiapkan untuk ditempatkan di Eropa.
Advertisement
Di kalangan para pemimpin militer Amerika Serikat saat itu, bom neutron dinilai ideal untuk digunakan dalam menghadapi kemungkinan invasi pasukan Uni Soviet di kawasan Eropa. Namun, kalangan sayap kiri dan kelompok liberal di Eropa maupun Amerika menyebutnya sebagai "bom kapitalis".
Mereka mengatakan kerusakan besar dan wilayah dampak luas yang terkait dengan senjata nuklir konvensional merupakan penghalang utama penggunaannya.
Gelombang protes pun bermunculan di berbagai negara Eropa. Norwegia, Belgia, dan Belanda menolak keras keberadaan bom neutron di wilayah mereka.
Keputusan menangguhkan produksi bom neutron diumumkan pada 1978, usai sepekan ketidakjelasan diplomatik yang berujung pada kritik terhadap Presiden Jimmy Carter. Meski begitu, Carter tetap membuka kemungkinan untuk melanjutkan produksi di masa depan sebagai bagian dari strategi diplomatik dalam negosiasi pengurangan senjata dengan Uni Soviet.
Ide pengembangan bom neutron diyakini dilakukan oleh ilmuwan AS Sam Cohen pada tahun 1958. Ia mengusulkan agar lapisan uranium dalam bom hidrogen dihilangkan agar partikel neutron bisa menembus perlindungan berat dan bangunan.
Namun pada 1960-an, Presiden John F. Kennedy menolak produksi senjata ini demi menjaga moratorium uji coba nuklir yang saat itu sedang berlaku.
Kebijakan tersebut berubah ketika Ronald Reagan menjabat sebagai Presiden pada awal 1981. Pada tahun yang sama ia memerintahkan dimulainya produksi hulu ledak neutron. Namun, meskipun telah diproduksi, jumlahnya sangat terbatas dan tidak pernah secara resmi ditempatkan di Eropa karena masih mendapat banyak penolakan.
Prancis juga sempat memproduksi dan menguji bom neutron di awal 1980-an, namun pada 1986 mereka memutuskan untuk menghentikannya akibat tekanan politik dalam negeri dan internasional.
Namun, pada tahun 1999 Cina mengumumkan mereka memiliki teknologi untuk membuat bom neutron.