Liputan6.com, Jakarta - Australia memiliki sejarah yang kaya dan penuh tantangan dalam partisipasinya di Piala Dunia. Tim berjuluk Socceroos ini pertama kali berpartisipasi dalam turnamen ini pada tahun 1974 di Jerman Barat. Sejak debut tersebut, Australia telah mengikuti Piala Dunia sebanyak 6 kali hingga edisi terakhir di Qatar 2022.
Timnas Australia tampil untuk pertama kalinya d Piala Dunia 1974, namun gagal melaju ke babak selanjutnya setelah hanya meraih satu hasil imbang melawan Chile dan kalah dari Jerman Barat serta Jerman Timur. Meskipun demikian, pengalaman ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan sepak bola di Australia17.
Advertisement
Harus menunggu selama 32 tahun, Australia kembali ke Piala Dunia pada tahun 2006 di Jerman. Di bawah pelatih Guus Hiddink, mereka berhasil lolos dari fase grup dengan kemenangan melawan Jepang dan Kroasia, sebelum tersingkir oleh Italia di babak 16 besar melalui adu penalti. Prestasi ini menjadi pencapaian terbaik Australia hingga saat itu15.
Setelah sukses di 2006, Australia berhasil lolos ke tiga edisi Piala Dunia berturut-turut: Afrika Selatan (2010), Brasil (2014), dan Rusia (2018). Meskipun tidak mampu mengulangi kesuksesan menembus babak 16 besar, pengalaman ini sangat berharga bagi pengembangan pemain muda.
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Australia kembali menunjukkan kekuatannya dengan lolos ke babak 16 besar setelah mengalahkan Tunisia dan Denmark. Mereka akhirnya tersingkir oleh Argentina, tetapi penampilan mereka tetap diapresiasi sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola Australia.
Kini Australia membidik partisipasi ketujuh. Berada satu grup dengan Jepang, Timnas Indonesia, Arab Saudi, Bahrain, dan China, Socceroos berusaha merebut tiket otomatis dari putaran ketiga kualifikasi.
Timnas Australia Pindah Konfederasi Demi Tingkatkan Kualitas
Salah satu cerita unik terkait partisipasi Australia adalah keputusan mereka untuk berpindah dari Konfederasi Sepak Bola Oseania (OFC) ke Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada tahun 2006. Langkah ini diambil untuk meningkatkan peluang mereka dalam kualifikasi Piala Dunia, mengingat slot yang lebih banyak tersedia di AFC. Sementara wakil OFC kerap terlibat play-off melawan kontestan dari konfederasi lain.