Memang mudah mengatakan kalau ukuran penis tak penting. Tapi, bagi Michael ukuran sangat penting karena bisa menentukan kebahagiaannya. Bahkan, ia rela menukar nilai kecerdasannya sedikit saja agar bisa memiliki penis yang lebih besar.
Gara-gara memiliki penis seukuran bayi, Michael depresi berat dan tak percaya diri. Sepanjang hidupnya, Michael baru melakukan hubungan seks dua kali.
Ukuran yang mini itu karena pria berusia 32 tahun tersebut mengalami kondisi mikropenis. Ini merupakan kondisi langka yang mempengaruhi 1 persen pria.
Pada pria dewasa, mikropenis menyebabkan penisnya berukuran 7 sentimeter (cm) ketika ereksi. Sementara rata-rata penis ereksi untuk Selandia Baru adalah 13,9 cm.
"Saya tak mengalami hubungan yang baik. Saya sulit berbicara dengan gadis-gadis," kata Michael seperti dikutip MSN, Jumat (10/5/2013).
Michael mengatakan, ia baru kehilangan keperjakaannya pada usia 24 tahun setelah berpacaran tiga bulan. Namun ia tak mencobanya lagi selama enam tahun. Sejak SD hingga Kuliah, Michael mengaku sering di-bully temannya, sehingga Michael sulit menemukan sahabat. Jika bisa memilih, Michael ingin menukarkan sedikit saja nilai IQnya agar mempunyai penis yang lebih besar.
"Saya dengan senang hati menjadi kurang cerdas, kehilangan sedikit nilai IQ dan memiliki penis yang lebih besar," ujarnya.
Karena begitu sedihnya dengan ukuran kelaminnya, pada tahun lalu Michael melakukan operasi penebalan dan pemanjangan penis. Tapi hasilnya menyakitkan dan mengecewakan.
"Penis saya pada dasarnya berukuran bayi. Sebelum operasi, pada kondisi lembek, ukuran saya 2-3cm dan sekarang 4cm. Ketika ereksi mungkin sekitar 7cm."
Kini, Michael mempertimbangkan mengunjungi seorang spesialis di AS untuk operasi lebih lanjut.
Operasi Pilihan Michael
Michael melakukan operasi pemotongan ligamen di poros. Operasi ini dilakukan dengan melepaskan ligamentum suspensorium yang menempel di pangkal penis ke tulang kemaluan, tapi operasi itu tak akan mengubah ukuran penis ereksi, hanya ukuran saat lembek. Selain itu ia juga melakukan penyuntikan produk pengisi agar tebal.
Ahli Bedah Rekonstruksi Dr Peter Laniewski mengatakan, banyak pria yang ingin perbesar penisnya, padahal itu tak perlu. Ukuran penis juga tak berhubungan dengan kesuburan pria. Dan untuk kasus Michael, lanjut Dr Laniewski, jika ligamen pasien sudah dilepas maka ia sulit melakukan pemanjangan lagi.
Belajar Menerima
Konseling dan Psikolog Olahraga Dr Geoffrey Paulus mengatakan, operasi pembesaran penis bisa menimbulkan masalah fisik. Salah satu cara yang mencegah mengalami masalah, kaum pria belajarlah membangun rasa percaya diri dan menghargai diri sendiri. Operasi seharusnya menjadi pilihan terakhir.
"Miliki rasa percaya diri dan pahami kalau ukuran bukan satu-satunya yang menunjukkan pria itu memadai".
"Cari pasangan yang memiliki pemahaman yang luas tentang seorang pasangan seharusnya bagaimana".
(Mel)
Gara-gara memiliki penis seukuran bayi, Michael depresi berat dan tak percaya diri. Sepanjang hidupnya, Michael baru melakukan hubungan seks dua kali.
Ukuran yang mini itu karena pria berusia 32 tahun tersebut mengalami kondisi mikropenis. Ini merupakan kondisi langka yang mempengaruhi 1 persen pria.
Pada pria dewasa, mikropenis menyebabkan penisnya berukuran 7 sentimeter (cm) ketika ereksi. Sementara rata-rata penis ereksi untuk Selandia Baru adalah 13,9 cm.
"Saya tak mengalami hubungan yang baik. Saya sulit berbicara dengan gadis-gadis," kata Michael seperti dikutip MSN, Jumat (10/5/2013).
Michael mengatakan, ia baru kehilangan keperjakaannya pada usia 24 tahun setelah berpacaran tiga bulan. Namun ia tak mencobanya lagi selama enam tahun. Sejak SD hingga Kuliah, Michael mengaku sering di-bully temannya, sehingga Michael sulit menemukan sahabat. Jika bisa memilih, Michael ingin menukarkan sedikit saja nilai IQnya agar mempunyai penis yang lebih besar.
"Saya dengan senang hati menjadi kurang cerdas, kehilangan sedikit nilai IQ dan memiliki penis yang lebih besar," ujarnya.
Karena begitu sedihnya dengan ukuran kelaminnya, pada tahun lalu Michael melakukan operasi penebalan dan pemanjangan penis. Tapi hasilnya menyakitkan dan mengecewakan.
"Penis saya pada dasarnya berukuran bayi. Sebelum operasi, pada kondisi lembek, ukuran saya 2-3cm dan sekarang 4cm. Ketika ereksi mungkin sekitar 7cm."
Kini, Michael mempertimbangkan mengunjungi seorang spesialis di AS untuk operasi lebih lanjut.
Operasi Pilihan Michael
Michael melakukan operasi pemotongan ligamen di poros. Operasi ini dilakukan dengan melepaskan ligamentum suspensorium yang menempel di pangkal penis ke tulang kemaluan, tapi operasi itu tak akan mengubah ukuran penis ereksi, hanya ukuran saat lembek. Selain itu ia juga melakukan penyuntikan produk pengisi agar tebal.
Ahli Bedah Rekonstruksi Dr Peter Laniewski mengatakan, banyak pria yang ingin perbesar penisnya, padahal itu tak perlu. Ukuran penis juga tak berhubungan dengan kesuburan pria. Dan untuk kasus Michael, lanjut Dr Laniewski, jika ligamen pasien sudah dilepas maka ia sulit melakukan pemanjangan lagi.
Belajar Menerima
Konseling dan Psikolog Olahraga Dr Geoffrey Paulus mengatakan, operasi pembesaran penis bisa menimbulkan masalah fisik. Salah satu cara yang mencegah mengalami masalah, kaum pria belajarlah membangun rasa percaya diri dan menghargai diri sendiri. Operasi seharusnya menjadi pilihan terakhir.
"Miliki rasa percaya diri dan pahami kalau ukuran bukan satu-satunya yang menunjukkan pria itu memadai".
"Cari pasangan yang memiliki pemahaman yang luas tentang seorang pasangan seharusnya bagaimana".
(Mel)