Bank Indonesia (BI) mengungkapkan Indonesia saat ini hanya mempunyai lima pemain besar dalam bisnis pedagang valuta asing atau money changer. Total pebisnis yang bergerak di bidang penukaran nilai tukar mata uang asing ini tercatat mencapai 900 perusahaan yang beroperasi di seluruh Indonesia.
Kepala Biro Humas BI, Difi A Johasyah, di Jakarta Rabu (1/5/2013) mengungkapkan sebanyak tiga pemain besar beroperasi Jakarta dengan pangsa pasar mencapai 60-70% dari total industri jasa money changer di seluruh Indonesia. Sementara dua perusahaan lainnya beroperasi di wilayah Batam dan Denpasar, Bali.
Menurut Difi, pedagangan Valas yang beroperasi di Indonesia saat ini tidak homogen dan terpolarisasi. Diakui BI memang Indonesia telah memiliki sejumlah perusahaan retail di bisnis Valas. Namun dari jumlah tersebut, baru 5 PVA yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan nasabah lebih dari US$ 100 ribu per bulan.
BI menilai, pedagang Valas skala kecil kemungkinan sulit dipercayay jiak mereka mampu melayani kebutuhan nasabah hingga setara Rp 1 miliar. "Kalau yang big player itu memang transaksinya gede. Tapi, kalau yang kecil ini apa mungkin ada nasabah yang beli lebih dari US$ 100 ribu," sangsi Difi.
Ditambahkannya, bisnis money changer untuk saat ini memang masih terkonsentrasi di wilayah Jakarta. Dengan demikian, pedagangan Valas skala kecil juga kebanyakan beorperasi di ibukota.
Sebagai informasi, BI mencatat jumlah transaksi valas pada bulan terakhir 2012 mencapai Rp 35 triliun -40 triliun. Dengan transaksi tersebut, artinya perguliran transaksi Valas sebesar Rp 24 triliun hanya terkonsentrasi di Jakarta. (Est/Shd)
Kepala Biro Humas BI, Difi A Johasyah, di Jakarta Rabu (1/5/2013) mengungkapkan sebanyak tiga pemain besar beroperasi Jakarta dengan pangsa pasar mencapai 60-70% dari total industri jasa money changer di seluruh Indonesia. Sementara dua perusahaan lainnya beroperasi di wilayah Batam dan Denpasar, Bali.
Menurut Difi, pedagangan Valas yang beroperasi di Indonesia saat ini tidak homogen dan terpolarisasi. Diakui BI memang Indonesia telah memiliki sejumlah perusahaan retail di bisnis Valas. Namun dari jumlah tersebut, baru 5 PVA yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan nasabah lebih dari US$ 100 ribu per bulan.
BI menilai, pedagang Valas skala kecil kemungkinan sulit dipercayay jiak mereka mampu melayani kebutuhan nasabah hingga setara Rp 1 miliar. "Kalau yang big player itu memang transaksinya gede. Tapi, kalau yang kecil ini apa mungkin ada nasabah yang beli lebih dari US$ 100 ribu," sangsi Difi.
Ditambahkannya, bisnis money changer untuk saat ini memang masih terkonsentrasi di wilayah Jakarta. Dengan demikian, pedagangan Valas skala kecil juga kebanyakan beorperasi di ibukota.
Sebagai informasi, BI mencatat jumlah transaksi valas pada bulan terakhir 2012 mencapai Rp 35 triliun -40 triliun. Dengan transaksi tersebut, artinya perguliran transaksi Valas sebesar Rp 24 triliun hanya terkonsentrasi di Jakarta. (Est/Shd)