Liputan6.com, Jakarta: Lebih dari sebulan Operasi Militer digelar TNI/Polri di Nanggroe Aceh Darussalam. Secara nyata, kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka, yang menjadi sasaran operasi, tak kunjung bisa ditumpas. Mereka masih bisa melawan, meski relatif kecil dalam bentuk baku tembak ataupun penghadangan. Di saat TNI mengintensifkan operasi, tiba-tiba Willliam Nessen muncul. Dia seolah menjadi harapan lantaran wartawan asal Amerika Serikat itu sejak lama berada bersama GAM. Dia diharapkan bisa membuka jalan buat TNI untuk mengetahui lebih jauh tentang basis utama GAM. Itulah sebabnya, sesaat setelah menyerahkan diri, dia langsung diperiksa di Mapolda Aceh [baca: Nessen Diterbangkan ke Banda Aceh].
Tentang keberadaan Nessen di Aceh sebenarnya baru terkuak menyusul surat Committee to Protect Journalist (CPJ) atau Komite Perlindungan Wartawan--yang bermarkas di New York, Amerika Serikat--kepada Presiden Megawati Soekarnoputri tertanggal 10 Juni 2003. CPJ meminta agar Nessen yang dikabarkan berada di wilayah konsentrasi GAM di Kecamatan Nisam, Aceh Utara, mendapat jaminan keselamatan dari TNI. Mereka juga meminta pemerintah mengambil tindakan yang membantu Nessen keluar dari Aceh [baca: Permintaan Komite Wartawan AS Tak Bisa Dipenuhi].
Surat tersebut dikirim karena, menurut pertimbangan CPJ, posisi Nessen berada di daerah yang bakal digempur TNI selama Status Darurat Militer diberlakukan. Namun begitu, lokasi sebenarnya kontributor untuk The Boston Globe (AS), The Sydney Morning Herald (Australia), dan koran Inggris The Independent itu tak pernah diketahui secara pasti. Apalagi, tenggat waktu dua hari yang diberikan Panglima Komando Operasi TNI Brigadir Jenderal Bambang Darmono tak juga ditanggapi yang bersangkutan [baca: Batas Jaminan Keamanan untuk Nessen Berakhir].
Pangkoops Brigjen TNI Bambang Darmono mengaku dihubungi William Nessen pada Sabtu, 14 Juni 2003. Hubungan lewat telepon itu terjadi sekitar pukul 19.45 WIB atau hampir dua jam usai batas waktu jaminan keselamatan yang diberikan TNI. Saat berkomunikasi, menurut Bambang, Nessen menanyakan cara dia bisa bergabung dengan TNI. Menjawab pertanyaan itu, Bambang mengatakan, Nessen bisa bergabung kapan saja, asal dia menyebutkan posisinya saat itu. Mendengar hal itu, Nessen menjawab, dia tak ingin ditangkap TNI karena dia jurnalis. "Lalu saya katakan (kepada Nessen), soal ditahan itu kewenangan saya. Tapi jika kamu [Nessen] menyebutkan posisi, saya menjamin kamu tidak akan tertembak," ujar Bambang.
Nessen juga mengajukan syarat agar tidak diinterogasi. Namun, permintaan kedua itu ditolak sebab TNI merasa perlu mengetahui perihal Nessen masuk ke Indonesia secara legal atau tidak. TNI juga menilai perlu mengetahui sepak terjang Nessen selama di Indonesia, khususnya di Aceh [baca: Pangkoops: Kemarin, William Nessen Sempat Menghubungi].
Kini, Nessen sudah menyerahkan diri di hadapan wartawan dan Atase Pertahanan Kedutaan Besar AS Joseph Daves setelah syarat tidak ditembak dan tidak ditangkap dipenuhi. Saat ini, dia masih diperiksa di sebuah ruangan di Direktorat Reserse dan Kriminal Kepolisian Daerah Nanggroe Aceh Darussalam sejak kemarin petang. Pemeriksaan selama 24 jam ini terutama untuk mengetahui aktivitas Nessen selama bersama GAM. Nessen diperiksa polisi tanpa didampingi seorang pun. Atase Pertahanan Kedutaan Besar AS Kolonel Joseph Daves cuma menunggu di luar. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi perihal status Nessen [baca: William Nessen Masih Diperiksa Intensif].(SID/Ewt)
Tentang keberadaan Nessen di Aceh sebenarnya baru terkuak menyusul surat Committee to Protect Journalist (CPJ) atau Komite Perlindungan Wartawan--yang bermarkas di New York, Amerika Serikat--kepada Presiden Megawati Soekarnoputri tertanggal 10 Juni 2003. CPJ meminta agar Nessen yang dikabarkan berada di wilayah konsentrasi GAM di Kecamatan Nisam, Aceh Utara, mendapat jaminan keselamatan dari TNI. Mereka juga meminta pemerintah mengambil tindakan yang membantu Nessen keluar dari Aceh [baca: Permintaan Komite Wartawan AS Tak Bisa Dipenuhi].
Surat tersebut dikirim karena, menurut pertimbangan CPJ, posisi Nessen berada di daerah yang bakal digempur TNI selama Status Darurat Militer diberlakukan. Namun begitu, lokasi sebenarnya kontributor untuk The Boston Globe (AS), The Sydney Morning Herald (Australia), dan koran Inggris The Independent itu tak pernah diketahui secara pasti. Apalagi, tenggat waktu dua hari yang diberikan Panglima Komando Operasi TNI Brigadir Jenderal Bambang Darmono tak juga ditanggapi yang bersangkutan [baca: Batas Jaminan Keamanan untuk Nessen Berakhir].
Pangkoops Brigjen TNI Bambang Darmono mengaku dihubungi William Nessen pada Sabtu, 14 Juni 2003. Hubungan lewat telepon itu terjadi sekitar pukul 19.45 WIB atau hampir dua jam usai batas waktu jaminan keselamatan yang diberikan TNI. Saat berkomunikasi, menurut Bambang, Nessen menanyakan cara dia bisa bergabung dengan TNI. Menjawab pertanyaan itu, Bambang mengatakan, Nessen bisa bergabung kapan saja, asal dia menyebutkan posisinya saat itu. Mendengar hal itu, Nessen menjawab, dia tak ingin ditangkap TNI karena dia jurnalis. "Lalu saya katakan (kepada Nessen), soal ditahan itu kewenangan saya. Tapi jika kamu [Nessen] menyebutkan posisi, saya menjamin kamu tidak akan tertembak," ujar Bambang.
Nessen juga mengajukan syarat agar tidak diinterogasi. Namun, permintaan kedua itu ditolak sebab TNI merasa perlu mengetahui perihal Nessen masuk ke Indonesia secara legal atau tidak. TNI juga menilai perlu mengetahui sepak terjang Nessen selama di Indonesia, khususnya di Aceh [baca: Pangkoops: Kemarin, William Nessen Sempat Menghubungi].
Kini, Nessen sudah menyerahkan diri di hadapan wartawan dan Atase Pertahanan Kedutaan Besar AS Joseph Daves setelah syarat tidak ditembak dan tidak ditangkap dipenuhi. Saat ini, dia masih diperiksa di sebuah ruangan di Direktorat Reserse dan Kriminal Kepolisian Daerah Nanggroe Aceh Darussalam sejak kemarin petang. Pemeriksaan selama 24 jam ini terutama untuk mengetahui aktivitas Nessen selama bersama GAM. Nessen diperiksa polisi tanpa didampingi seorang pun. Atase Pertahanan Kedutaan Besar AS Kolonel Joseph Daves cuma menunggu di luar. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi perihal status Nessen [baca: William Nessen Masih Diperiksa Intensif].(SID/Ewt)