Liputan6.com, Jakarta Jazz Gunung Indonesia, perintis di balik acara Jazz Gunung Bromo, menjadi delegasi di Taipei Music Expo (TMEX) pada tanggal 7-8 September 2024. Bagas Indyatmono, Chief Executive Officer (CEO) Jazz Gunung Indonesia, naik ke atas panggung sebagai panelis, memperkenalkan kepada dunia tentang budaya jazz Indonesia yang unik serta memamerkan Jazz Gunung Bromo sebagai salah satu yang terbaik di kancah musik jazz Indonesia.
Dalam paparannya, Bagas Indyatmono menyoroti peran penting Indonesia dalam kancah jazz global, menekankan tradisi festival jazz yang kaya di negara ini. Salah satu keunikan paling signifikan antaranya terkait erat dengan elemen budaya lokal dan pemandangan alam pada venue acara yang menakjubkan.
Advertisement
“Indonesia menjadi tuan rumah bagi beberapa festival jazz yang paling unik di dunia, dan Jazz Gunung adalah contoh terbaiknya,” ungkap Bagas dalam presentasinya di Taipei Music Expo.
Jazz Gunung Bromo, yang diselenggarakan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, telah menjadi agenda rutin dalam kalender musik Indonesia selama 16 tahun, dan secara konsisten menarik perhatian para penggemar jazz lokal dan internasional.
“Acara ini menawarkan pengalaman musik yang intim dan mendalam, menggabungkan keindahan alam dengan kesenian jazz. Ini bukan hanya sekedar konser, tapi juga merupakan pertemuan komunitas jazz dari seluruh Indonesia dan dunia,” pungkas Bagas.
Dengan penampilan dari musisi lokal dan musisi jazz internasional ternama, Jazz Gunung Bromo telah memupuk komunitas yang dinamis di mana musik bertemu dengan pertukaran budaya.
Keanekaragaman Budaya Bertemu dengan Jazz
Jazz Gunung Indonesia juga telah menjadi pelopor dalam mempromosikan keanekaragaman budaya melalui acara-acaranya.
Festival ini memadukan warisan budaya Indonesia yang kaya dengan bentuk-bentuk kesenian tradisional Indonesia lewat improvisasi musik jazz.
Bagas menjelaskan bahwa salah satu misi utama dari Jazz Gunung adalah untuk menyoroti lanskap budaya Indonesia yang beragam melalui musik, menyediakan platform bagi para seniman dari berbagai latar belakang untuk berkolaborasi dan berinovasi.
“Salah satu inisiatif kami adalah Ring of Fire Project. Ini adalah sebuah kolektif jazz yang dipelopori oleh salah satu seniman kehormatan, almarhum Djaduk Ferianto, berusaha mengkolaborasikan jazz yang penuh improvisasi dengan kekhasan musik Nusantara. Ring of Fire Project konsisten menyajikan musik jazz khas Nusantara di setiap perjalanan Jazz Gunung Bromo” tegas Bagas dalam presentasi di TMEX.