Fenomena Compound Space di Jakarta, Jadi Wadah Pertemuan Musisi dan Komunitas Pencinta Seni

Musisi dan pencinta seni selalu punya cara untuk bertemu. Di Jakarta, musik tak harus menggema di lounge atau kafe mewah. Compound space kini jadi wadah.

oleh Wayan DianantoDiperbarui 28 Agustus 2024, 07:14 WIB
Musisi dan pencinta seni selalu punya cara untuk bertemu. Di Jakarta, musik tak harus menggema di lounge atau kafe mewah. Compound space kini jadi wadah. (Foto: Dok. Tim Kumpul JKT)

Liputan6.com, Jakarta Musisi dan penggemar atau para pencinta seni selalu punya cara untuk bertemu. Mengingat, di Jakarta, misalnya, musik tak harus menggema di lounge atau kafe gedongan. Compound space kini bisa jadi wadah pertemuan musisi dengan fans.

Ini disampaikan Project Manajer Berita Angkasa, Syadza Muhammad Fadhlan Erlangga, kala membahas komunitas seni di Jakarta dan sekitarnya. Cowok yang akrab disapa Sena ini mengulas, makin ke sini, membuat musik makin mudah.

Produk seni dari band dan solis, makin banyak. “Sayang, belakangan ada beberapa tempat komunitas yang tadinya jadi incaran musisi baru tutup pasca-pandemi Covid-19,” katanya kepada Showbiz Liputan6.com di Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Satu tempat tutup, yang lain terbuka. Itulah yang terjadi di Jakarta. Melihat permintaan yang tinggi dari para pelaku seni atau seniman, artinya butuh dukungan tempat yang memadai sekaligus nyaman. Di sisi lain, musik kini jauh lebih luwes.


Kelompok Penerbang Roket

Kelompok Penerbang Roket. (Foto: Dok. Berita Angkasa)

“Enggak harus di tempat-tempat underground. Bahkan kafe-kafe sekalipun, selama itu memang mendukung aktivitas, pasti disambut hangat komunitas musisi dan pencinta musik. Harapannya ke depan tempat seperti ini makin banyak,” Sena menyambung.

Berkaca pada pengalaman, perusahaan rekaman Berita Angkasa sudah lebih dari satu dekade mengabdi di dunia musik. Salah satu artis tertua mereka adalah Kelompok Penerbang Roket (KPR) yang punya fans garis keras, Pencarter Roket.

Saat pandemi Covid-19 melanda dunia, pembelian album fisik anjlok. Dua tahun terakhir, komunitas musik aktif lagi mengadakan perkumpulan. Rilisan fisik berupa souvenir dan album bergairah lagi. Pertemuan artis dengan fans bersemi lagi.

 


Medsos dan Gen Z

Project Manajer Berita Angkasa, Syadza Muhammad Fadhlan Erlangga alias Sena. (Foto: Dok. Berita Angkasa)

Fans KPR adalah fanbase komunal. Jadi memang penjualan kaset dan souvenir habis oleh Pencarter Roket. Mereka yang usianya 30 atau 20 tahunan masih aktif. Kekuatan komunitas memang sebesar itu,” Sena membeberkan.

Kekuatan medsos untuk mengumpulkan orang dan membentuk komunitas baru juga besar. Karenanya, Sena mengajak pelaku industri kreatif termasuk perusahaan rekaman hingga pengusaha kafe tak menampik kekuatan medsos seperti Instagram dan TikTok.

“Jangan menutup mata bahwa medsos gen Z sekali tapi mari mengakomodasi apa yang telah menjadi tradisi dengan nilai-nilai modern,” pungkasnya. Ini disampaikan Sena dalam gelar wicara dan sesi perkenalan Kumpul JKT dengan awak media.

Lanjut Baca:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya