Liputan6.com, Palangkaraya: Umat Hindu Kaharingan yang berdiam di Kalimantan Tengah punya tradisi sendiri dalam hal pemakaman akhir bagi anggota keluarga yang sudah meninggal. Namanya, upacara tiwah atau penyerahan roh orang mati ke hadapan Ranying Hantala Langit--sebutan untuk dewa para penganut kepercayaan Kaharingan. Lewat ritual ini diharapkan arwah yang mati mendapat tempat mulia di kayangan. Dan, keluarga yang ditinggal pergi terbebas dari sial dan marabahaya yang mengintai gara-gara kematian sang saudara. SCTV meliput acara tersebut di Palangkaraya, Kalteng, baru-baru ini.
Upacara dimulai dengan mendirikan tiang sepundu atau tiang pengikat hewan yang akan dikorbankan. Setelah siap, tiang ini harus dikelilingi seluruh anggota keluarga penyelenggara upacara dengan menari diiringi tabuhan gendang dan gong. Lalu di tahap ritual yang dinamakan balian, para basir atau rohaniawan Hindu Kaharingan mendoakan hewan-hewan yang dikorbankan agar layak. Binatang persembahan itu kemudian disembelih dengan tombak mulai dari yang terkecil seperti ayam dan babi sampai yang besar seperti kerbau dan sapi.
Upacara dilanjutkan dengan memasukkan kerangka jenazah ke dalam sandung atau rumah-rumahan panggung tempat menyimpan kerangka tulang belulang manusia yang dianggap suci. Sebelum dimasukkan, seluruh anggota keluarga secara bergilir diwajibkan mengoleskan kerangka jenazah dengan wewangian. Di sinilah puncak acara yakni ketika kerangka jenazah dimasukkan ke dalam sandung dan dilanjutkan dengan ritual melangkahi sandung oleh anggota keluarga. Ritual ini diharapkan mampu melenyapkan segala marabahaya bagi keluarga yang ditinggal serta menghapus dosa yang pernah dilakukan orang yang meninggal selama hidup.(MTA/Ririn Binti)
Upacara dimulai dengan mendirikan tiang sepundu atau tiang pengikat hewan yang akan dikorbankan. Setelah siap, tiang ini harus dikelilingi seluruh anggota keluarga penyelenggara upacara dengan menari diiringi tabuhan gendang dan gong. Lalu di tahap ritual yang dinamakan balian, para basir atau rohaniawan Hindu Kaharingan mendoakan hewan-hewan yang dikorbankan agar layak. Binatang persembahan itu kemudian disembelih dengan tombak mulai dari yang terkecil seperti ayam dan babi sampai yang besar seperti kerbau dan sapi.
Upacara dilanjutkan dengan memasukkan kerangka jenazah ke dalam sandung atau rumah-rumahan panggung tempat menyimpan kerangka tulang belulang manusia yang dianggap suci. Sebelum dimasukkan, seluruh anggota keluarga secara bergilir diwajibkan mengoleskan kerangka jenazah dengan wewangian. Di sinilah puncak acara yakni ketika kerangka jenazah dimasukkan ke dalam sandung dan dilanjutkan dengan ritual melangkahi sandung oleh anggota keluarga. Ritual ini diharapkan mampu melenyapkan segala marabahaya bagi keluarga yang ditinggal serta menghapus dosa yang pernah dilakukan orang yang meninggal selama hidup.(MTA/Ririn Binti)