Liputan6.com, Jakarta: Pendiri Partai Nazi Jerman Adolf Hitler memiliki sisi kemanusiaan yang lemah, jauh dari citra penguasa kejam yang selama ini melekat padanya dalam catatan sejarah. Sisi lemah ini ditampilkan dalam film layar perak produksi Hollywood berjudul Max yang dibintangi John Cusack dan Noah Taylor sebagai Hitler.
Film tersebut mengisahkan tentang kehidupan di Muenchen, Jerman, pada 1918. Saat itu dunia sedang merintih dari penderitaan pascaperang dunia pertama. Semua orang bermimpi membuat perubahan drastis untuk membangun kembali masa depan. Akibatnya, di masa itu garis batas menjadi samar-samar antara seni, politik, dan iman.
Dalam bagian film itu diceritakan, sepulang perang, bekas pelukis Max Rothman berkenalan dengan seorang seniman bernama Adolf Hitler, anak muda yang tumbuh tanpa keluarga, tanpa tempat tinggal, dan tanpa kawan. Tidak disangka setelah mengikat persahabatan, Hitler muda berubah dari seniman yang emosional menjadi perintis zaman terhitam di Abad 20.
Film yang kontroversial ini sempat mendorong sejumlah negara melarang penayangan Max. Namun sutradara Belanda Menno Meyjes menegaskan, potret Hitler dalam film itu tidak merusak atau berbahaya. Justru film itu kaya eksplorasi tentang seorang manusia biasa yang tak berdaya namun sampai hati melakukan kekejaman terkeji.(YYT/Nlg)
Film tersebut mengisahkan tentang kehidupan di Muenchen, Jerman, pada 1918. Saat itu dunia sedang merintih dari penderitaan pascaperang dunia pertama. Semua orang bermimpi membuat perubahan drastis untuk membangun kembali masa depan. Akibatnya, di masa itu garis batas menjadi samar-samar antara seni, politik, dan iman.
Dalam bagian film itu diceritakan, sepulang perang, bekas pelukis Max Rothman berkenalan dengan seorang seniman bernama Adolf Hitler, anak muda yang tumbuh tanpa keluarga, tanpa tempat tinggal, dan tanpa kawan. Tidak disangka setelah mengikat persahabatan, Hitler muda berubah dari seniman yang emosional menjadi perintis zaman terhitam di Abad 20.
Film yang kontroversial ini sempat mendorong sejumlah negara melarang penayangan Max. Namun sutradara Belanda Menno Meyjes menegaskan, potret Hitler dalam film itu tidak merusak atau berbahaya. Justru film itu kaya eksplorasi tentang seorang manusia biasa yang tak berdaya namun sampai hati melakukan kekejaman terkeji.(YYT/Nlg)