Liputan6.com, Tegal: Mencari tempat santai untuk rekreasi keluarga, memang tak harus jauh. Dekat, ekonomis dari segi keuangan, tentu saja menjadi harapan semua keluarga untuk berwisata. Kota Tegal bisa masuk dalam golongan ini. Mungkin selama ini kota kecil di Jawa Tengah tersebut dikenal dengan warung makannya saja. Namun ternyata Kota Tegal pun memiliki banyak pesona alam yang bisa dinikmati wisatawan.
Hamparan sawah di bawah pegunungan yang indah seakan menyambut hangat, sehangat teh poci yang menjadi minuman khas kota ini. Teh kental dan manis dituang dari sebuah poci (teko terbuat dari tanah liat) ini menambah kenikmatan tersendiri perjalanan di Kota Tegal. Tapi kota ini pun memiliki kebanggaan lain yakni pemandian Guci. Obyek wisata yang terletak di kaki Gunung Slamet bagian utara ini berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Tegal dengan jarak tempuh sekitar satu jam perjalanan.
Ibarat air poci, air sungai pemandian Guci terus mengalir deras, hangat, dan tak pernah berhenti. Kehangatan air dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit antara lain koreng dan reumatik. Nama pemandian Guci diambil karena airnya mengalir dari sejumlah pancuran dan menyerupai guci. Pancuran 6 dan 13 adalah dua lokasi yang paling banyak didatangi wisatawan. Di sini memang ada pancuran yang berjumlah 13 buah dan enam buah. Kandungan belerang di dua kawasan ini sangat kecil sehingga air tampak bening. Selain Pancuran 13, masih banyak lagi pancuran yang bisa dirasakan wisatawan.
Menurut hikayat cerita, air panas Guci pertama kali diberikan Sunan Cirebon. Dia mengutus seorang ulama untuk menyebarkan agama Islam ke Jawa Tengah bagian barat di sekitar Tegal. Ulama ini dibekali sebuah tongkat dan guci. Tiba di Tegal, ulama tersebut kehabisan air. Di sinilah kemudian ia bertapa dan memohon kepada Yang Kuasa agar diberi air. Dalam semedinya itu, sang ulama mendapat wangsit yang menyuruhnya menancapkan tongkat ke dalam tanah. Wangsit itu pun diikutinya. Setelah tongkat ditancapkan itulah keluar sumber mata air panas yang kemudian diisi ke dalam guci. Air guci ini terus dibawa dan dibagikan kepada warga setempat.
Tak hanya Wisata Guci yang bisa dinikmati, kota ini pun ternyata dikenal sebagai gudang makanan. Satu di antaranya adalah nasi lengko. Nasi lengko makin nikmat disantap bila diselingi minum teh poci. Wisatawan pun bisa mampir dan menikmati satu hidangan khas lain dari Kota Bahari yaitu sate Tegal. Sate ini terkenal karena rasanya yang khas dan murah.
Masyarakat Kabupaten Tegal pun dikenal taat beragama. Mereka senantiasa menyambut hari-hari besar keagamaan dengan penuh kekhidmatan. Satu di antaranya yakni saat menyambut Maulid Nabi Muhammad S.A.W. Pada acara ini, masyarakat menggelar pawai kesenian tradisional khas Tegal serta pertunjukan yang menggambarkan dakwah Islam [baca: Pawai Kesenian Tegal Mewarnai Peringatan Maulid Nabi]. Acara diawali dengan iring-iringan unta dan gajah, yang disimbolkan sebagai hewan yang ikut berperan dalam menyiarkan agama Islam di zaman Nabi Muhammad. Semua peserta pawai mengenakan kostum berwarna putih dan gelap. Dua warna ini melambangkan perubahan zaman dari era jahiliyah ke periode beradab, zaman mengenal Sang Pencipta.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Hamparan sawah di bawah pegunungan yang indah seakan menyambut hangat, sehangat teh poci yang menjadi minuman khas kota ini. Teh kental dan manis dituang dari sebuah poci (teko terbuat dari tanah liat) ini menambah kenikmatan tersendiri perjalanan di Kota Tegal. Tapi kota ini pun memiliki kebanggaan lain yakni pemandian Guci. Obyek wisata yang terletak di kaki Gunung Slamet bagian utara ini berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Tegal dengan jarak tempuh sekitar satu jam perjalanan.
Ibarat air poci, air sungai pemandian Guci terus mengalir deras, hangat, dan tak pernah berhenti. Kehangatan air dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit antara lain koreng dan reumatik. Nama pemandian Guci diambil karena airnya mengalir dari sejumlah pancuran dan menyerupai guci. Pancuran 6 dan 13 adalah dua lokasi yang paling banyak didatangi wisatawan. Di sini memang ada pancuran yang berjumlah 13 buah dan enam buah. Kandungan belerang di dua kawasan ini sangat kecil sehingga air tampak bening. Selain Pancuran 13, masih banyak lagi pancuran yang bisa dirasakan wisatawan.
Menurut hikayat cerita, air panas Guci pertama kali diberikan Sunan Cirebon. Dia mengutus seorang ulama untuk menyebarkan agama Islam ke Jawa Tengah bagian barat di sekitar Tegal. Ulama ini dibekali sebuah tongkat dan guci. Tiba di Tegal, ulama tersebut kehabisan air. Di sinilah kemudian ia bertapa dan memohon kepada Yang Kuasa agar diberi air. Dalam semedinya itu, sang ulama mendapat wangsit yang menyuruhnya menancapkan tongkat ke dalam tanah. Wangsit itu pun diikutinya. Setelah tongkat ditancapkan itulah keluar sumber mata air panas yang kemudian diisi ke dalam guci. Air guci ini terus dibawa dan dibagikan kepada warga setempat.
Tak hanya Wisata Guci yang bisa dinikmati, kota ini pun ternyata dikenal sebagai gudang makanan. Satu di antaranya adalah nasi lengko. Nasi lengko makin nikmat disantap bila diselingi minum teh poci. Wisatawan pun bisa mampir dan menikmati satu hidangan khas lain dari Kota Bahari yaitu sate Tegal. Sate ini terkenal karena rasanya yang khas dan murah.
Masyarakat Kabupaten Tegal pun dikenal taat beragama. Mereka senantiasa menyambut hari-hari besar keagamaan dengan penuh kekhidmatan. Satu di antaranya yakni saat menyambut Maulid Nabi Muhammad S.A.W. Pada acara ini, masyarakat menggelar pawai kesenian tradisional khas Tegal serta pertunjukan yang menggambarkan dakwah Islam [baca: Pawai Kesenian Tegal Mewarnai Peringatan Maulid Nabi]. Acara diawali dengan iring-iringan unta dan gajah, yang disimbolkan sebagai hewan yang ikut berperan dalam menyiarkan agama Islam di zaman Nabi Muhammad. Semua peserta pawai mengenakan kostum berwarna putih dan gelap. Dua warna ini melambangkan perubahan zaman dari era jahiliyah ke periode beradab, zaman mengenal Sang Pencipta.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)